Holcim terkena imbas pelemahan rupiah

Kamis, 05 Desember 2013 - 14:23 WIB
Holcim terkena imbas...
Holcim terkena imbas pelemahan rupiah
A A A
Sindonews.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berpengaruh besar pada sektor industri secara keseluruhan, termasuk semen.

Direktur Komersial Holcim Indonesia Jan Kunigk mengatakan bahwa industri padat modal dengan biaya dalam bentuk denominasi USD akan mengalami kenaikan biaya, yang akan berdampak pada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual.

Nilai tukar rupiah baru-baru ini yang melemah hingga 20 persen terhadap USD merupakan bentuk reaksi terhadap defisit transaksi berjalan memicu tingginya permintaan USD karena repatriasi dan kewajiban pembayaran utang luar negeri.

Selain itu, faktor eksternal dari kekhawatiran sebagian pelaku pasar terhadap potensi pengurangan stimulus bank sentral Amerika. Hal itu ditambah tingkat inflasi hingga November telah mencapai sekitar 8,3 persen yang akan mempengaruhi kinerja.

Akibat pelemahan rupiah, Kunigk mengatakan, Holcim Indonesia mengalami kenaikan biaya yang signifikan untuk biaya iklan, distribusi, energi dan upah di tahun 2013.

"Biaya keuangan untuk perluasan Tuban juga mengalami peningkatan karena naiknya suku bunga bank dan depresiasi rupiah dari pinjaman luar negeri," kata dia dalam rilisnya, Kamis (5/12/2013).

Menurut dia, untuk mengurangi dampaknya, Holcim Indonesia terus menjalankan program internal untuk penghematan biaya seperti penghematan energi, sambil terus memberikan solusi bernilai tambah bagi konsumen dengan tetap menjaga kualitas demi mempertahankan produk Holcim tetap kompetitif.

Program-program tersebut membantu perusahaan mengurangi dampak kenaikan biaya hingga ke pihak konsumen, namun tidak semua dapat dihilangkan.

Jan menuturkan, perseroan telah memperkirakan adanya kenaikan harga jual seperti yang sudah dilakukan baru-baru ini di berbagai industri untuk merespon melemahnya rupiah dan kenaikan biaya karena inflasi di tahun 2013 dan 2014.

Pada 2014 mendatang, perusahaan berharap tingkat inflasi dapat berkisar antara 7,0-7,5 persen.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
PT eSport Star Indonesia...
PT eSport Star Indonesia Resmi Berkolaborasi dengan PT Garena Indonesia
Perbedaan BUMN PT Pelayaran...
Perbedaan BUMN PT Pelayaran Nasional Indonesia dan PT Pelabuhan Indonesia
Hary Tanoesoedibjo Sambut...
Hary Tanoesoedibjo Sambut Hangat Kerjasama PT eSport Star Indonesia dengan PT Garena Indonesia
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Pos IND: Lebih dari...
Pos IND: Lebih dari Sekadar Pengiriman, Ini tentang Menyampaikan Harapan
Disebut Terbesar di...
Disebut Terbesar di Dunia, Wapres Ma'ruf Amin Tinjau Smelter Freeport Gresik
Berita Terkini
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
42 menit yang lalu
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
9 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
10 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
10 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
10 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
10 jam yang lalu
Infografis
Ini 3 Negara Musuh AS...
Ini 3 Negara Musuh AS yang Tidak Terkena Tarif Impor Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved