Bank syariah miliki risiko lebih tinggi

Jum'at, 13 Desember 2013 - 17:02 WIB
Bank syariah miliki...
Bank syariah miliki risiko lebih tinggi
A A A
Sindonews.com - Perbankan syariah dinilai masih menanggung beban risiko yang lebih besar dibandingkan bank konvensional.

Direktur Manajemen Resiko dan Kepatuhan Bank Muamalat Andi Buchari mengatakan, pada awalnya pelaku perbankan lebih memfokuskan kepada risiko kredit dan pasar saja.

Namun, karena peningkatan volatilitas pasar, inovasi pada servis dan faktor lainnya ikut berpengaruh, sehingga membuat risiko tersebut meluas. Padahal sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah meminta perbankan untuk melakukan pendekatan pengawasan berdasarkan risiko.

Saat ini tercatat ada delapan risiko perbankan menurut BI, seperti risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, hukum, reputasi, strategi dan kepatuhan.

“Ada delapan risiko perbankan menurut BI, tapi bagi bank syariah ada dua lagi tambahannya, yakni investasi dan imbal hasil,” kata Andi usai menjadi pembicara di Economic Risk Management 2013 di Nusa Dua, Bali, Jumat (13/12/2013).

Menurut Andi, risiko yang masih paling besar kontribusinya adalah risiko kredit sekitar 60-80 persen, risiko operasional sekitar 10 persen, sedangkan ketiga risiko pasar dan likuiditas.

“Itu semua pembobotan perhitungan dari profil risiko. Tapi pada dasarnya semua jenis risiko impact-nya sama besar. Kalau bank sudah dipersepsi jelek atau buruk, itu bisa berpengaruh kepada risiko lain,” papar dia.

Dengan demikian, kata dia, dalam pengawasan risiko terdapat beberapa hal yang perlu dibenahi, salah satunya pengembangan Informasi Teknologi (IT) dan human capital.

Andi menjelaskan, pengembangan IT harus sesuai dengan perluasan jaringan dan kinerja perbankan. Dengan adanya perkembangan IT diharapakan IT semakin efisien dan efektif.

“Untuk itu kami kembangkan mobile banking, sms banking, internet banking dan lainnya,” papar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Corporate Governance Specialist dari Lembaga Konsultan Keuangan IFC Stefanus Handoyo mengungkap, sebenarnya saat ini perusahaan tidak cukup hanya mengerti arti risiko, namun yang lebih penting adalah mengetahui dan menghindari risiko tersebut.

“Salah satu posisi yang penting dalam manajemen risiko adalah tim risk management dan dewan komisaris (commisioner board),” tandas dia.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Alasan Muhammadiyah...
Alasan Muhammadiyah Tarik Duit dari Bank Syariah Hasil Merger
Pemerintah Target Bank...
Pemerintah Target Bank Syariah Indonesia Tbk Masuk Top 10 Dunia
Wapres Resmikan Operasional...
Wapres Resmikan Operasional Bank Riau Kepri Syariah, Jadi Awal Kemudi Ekonomi Syariah
Ada dari Negara Tetangga,...
Ada dari Negara Tetangga, Berikut 5 Bank Syariah Terbesar di Dunia
Terungkap! Ini Dia Bank...
Terungkap! Ini Dia Bank Syariah Pertama di Indonesia
Mau Tahu Fokus Bisnis...
Mau Tahu Fokus Bisnis Bank Syariah Indonesia, Cek di Sini
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
5 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
5 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
6 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
7 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
7 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
8 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved