APVA: Pemerintah lambat tangani depresiasi rupiah

Selasa, 17 Desember 2013 - 21:16 WIB
APVA: Pemerintah lambat...
APVA: Pemerintah lambat tangani depresiasi rupiah
A A A
Sindonews.com - Ketua Asosiasi Pedagang Valas (APVA) Muhamad Idrus mengeluhkan lambatnya pemerintah dalam menangani pelemahan (depresiasi) rupiah terhadap dolar AS, Euro, Dolar Singapura, dan Ringgit.

Kendati diuntungkan oleh adanya depresiasi ini, tapi dirinya mengaku tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. "Depresiasi rupiah akan dikonversi menjadi harga-harga kebutuhan pokok, inflasi akan menguat tajam, dan kesenjangan makin melebar secara drastis," ujarnya dalam jumpa persnya di Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Dia mengatakan, depresiasi rupiah terjadi hampir setiap lima tahun sekali. Namun, ia menyesalkan mengapa siklus ini tidak menjadi perhatian serius pemerintah. Pemerintah tidak melakukan tindakan antisipasi dengan menelurkan sebuah kebijakan strategis yang dapat mencegah tersebarnya krisis moneter.

Padahal, sejak awal 2013, anjloknya nilai tukar rupiah sudah terasa diawali krisis yang melanda Asia, seperti Tiongkok, India dan Thailand.

"Anehnya, jebloknya nilai rupiah terhadap dolar bukan kali pertama terjadi. Sekitar 2007/2008 silam pun, nilai rupiah juga terjun bebas. Demikian pula pada 2003 dan semua itu terjadi jelang pesta demokrasi di negeri ini," imbuhnya.

Rupiah pun kini menurutnya seakan mengalami masa kritis. Penyakit ini bertumbuh terus sejak pemerintah absen membangun kesadaran kepada masyarakatnya, bahwa rupiah harus menjadi salah satu lambang kedaulatan negara.

Untuk itu, sambung Idrus, pemerintah harus memiliki political will yang kuat dalam menumbuhkan rasa kebanggaan anak negerti terhadap rupiah. "Lunturnya semangat nasionalisme dan kebangsaan ini, menjadikan sekelompok anak bangsa malah lebih gemar mengantongi dolar," ujarnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.409 per Dolar AS
Rupiah Terlemah Sepanjang...
Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah
Wacana Lama Hidup Lagi,...
Wacana Lama Hidup Lagi, Ini Dua Sisi Pentingnya Redenominasi Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah...
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp15.526
Bikin Gaduh Karena Keliru...
Bikin Gaduh Karena Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Google Harus Tanggung Jawab!
Google Keliru Tampilkan...
Google Keliru Tampilkan Kurs Rupiah, Pengamat: Timbulkan Kegaduhan!
Berita Terkini
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
2 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
13 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
14 jam yang lalu
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved