Kebijakan ekonomi RI dinilai tidak konsisten dan jelas

Rabu, 18 Desember 2013 - 19:43 WIB
Kebijakan ekonomi RI...
Kebijakan ekonomi RI dinilai tidak konsisten dan jelas
A A A
Sindonews.com - Center of Reform on Economics (CORE) memandang pemerintah Indonesia sering bersikap denial (mengingkari) terhadap kondisi ekonomi yang ada, sehingga respon kebijakan yang diambil cenderung ala kadarnya dan tidak memadai untuk menyelesaikan masalah pokok. Tidak heran, bila akhirnya kebijakan ekonomi yang dikeluarkan justru tidak konsisten dan semakin tidak jelas arahnya (disorientasi).

Dalam siaran persnya, Rabu (18/12/2013), Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Hendri Saparini mencatat beberapa contoh pengingkaran yang dilakukan pemerintah terhadap kondisi ekonomi.

Pertama
, meskipun sejak lama fundamental ekonomi Indonesia rapuh, namun pemerintah cenderung mengabaikan dan hanya fokus mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi. Benar dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Pada 2013 diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia menempati urutan kedua di antara emerging economies di Asia Pasifik, setelah China yang diperkirakan tumbuh 7,5 persen.

CORE mencatat defisit perdagangan barang telah terjadi sejak 2012, menyusul defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang sudah dialami sangat lama. Kelalaian pemerintah dalam membangun struktur industri yang kokoh telah berakhir dengan terjadinya berbagai defisit.

"Tanpa didukung fundamental ekonomi yang kuat, pertumbuhan ekonomi tinggi berpotensi menciptakan fenomena overheating yang ditandai dengan tingginya inflasi dan defisit neraca perdagangan. Selain tidak inklusif juga memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dan bahan penolong impor," tulis Hendri.

Semestinya, kata Hendri, struktur ekonomi yang demikian menjadi concern pemerintah untuk segera melakukan koreksi. Namun, hingga pertengahan 2013 meski kondisi ini telah berdampak pada defisit perdagangan yang semakin lebar, banyak pejabat memilih tetap mendorong pertumbuhan karena menilai tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan fundamental ekonomi.

Ketergantungan pada impor dianggap wajar terjadi selama ditujukan untuk mendorong investasi dan ekspor. Padahal, sebagian besar investasi yang rakus bahan impor bukan berorientasi ekspor tetapi memanfaatkan pasar dalam negeri, sehingga menggenjot pertumbuhan lewat konsumsi swasta dan investasi akan semakin membebani neraca perdagangan.

Kedua, pemerintah selalu menganggap kerentanan ekonomi yang terjadi lebih diakibatkan fenomena global, seperti isu tapering off, sehingga pemulihanannya sangat bergantung pada kondisi global. Sikap ini akhirnya membuat pemerintah acuh tak acuh terhadap masalah utama dalam struktur ekonomi nasional dan tidak segera mengambil kebijakan yang memadai untuk mengantisipasinya.

"Benar bahwa isu penghentian stimulus oleh Amerika akan berpengaruh secara global. Namun, dampak yang terjadi tentu akan berbeda tergantung dari struktur ekonomi masing-masing negara," jelas Hendri.

Kebijakan ekonomi RI dinilai tidak konsisten dan jelas


Data menunjukkan Indonesia memiliki struktur PDB berbeda dengan negara-negara lain. Porsi ekspor netto Indonesia yang sangat rendah menunjukkan daya saing Indonesia relatif lebih lemah dibanding negara-negara lain. Malaysia dan Thailand akan mengalami koreksi yang lebih besar, tetapi daya saing ekspor dan investasi akan memberikan dampak berbeda, misalnya dalam pelemahan nilai tukar.

Ketiga, defisit dalam APBN. Dua tahun terakhir keseimbangan primer APBN, yakni pendapatan dikurangi belanja di luar pembayaran utang, telah negatif. Namun dalam Pidato Kenegaraan pada Agustus 2013, Presiden SBY masih menegaskan pemerintah akan tetap mendorong pertumbuhan, tanpa mempedulikan sumber pertumbuhannya, yaitu dengan menerapkan keep buying strategy dalam tahun fiskal 2014.

Dalam paket Agustus, salah satu strateginya adalah menjaga defisit APBN 2013 tetap sebesar 2,38 persen. Padahal, mendorong belanja dan memperlebar defisit APBN akan semakin menekan keuangan negara. Penerimaan pajak yang semakin berat menopang
belanja, semestinya pemerintah melakukan penghematan dan mengefisienkan belanja, serta menekan defisit APBN serendah mungkin.

"Pemerintah seolah mengingkari fakta bahwa shortfall masih dan terus terjadi. Tahun ini, hingga November penerimaan pajak masih 80 persen dari target. Sementara yield obligasi rupiah pemerintah dengan tenor 10 tahun sudah mencapai 8,6 persen, yang berarti APBN dibiayai dengan dana yang semakin mahal. Dalam kondisi ini semestinya defisit anggaran ditekan serendah mungkin, bukan justru didorong," papar CORE.

Kebijakan ekonomi RI dinilai tidak konsisten dan jelas
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
15 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
51 menit yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
1 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
2 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
3 jam yang lalu
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
13 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved