The Fed dan BBM bikin rupiah 2013 ngedrop 20,8%
Kamis, 09 Januari 2014 - 18:24 WIB
The Fed dan BBM bikin rupiah 2013 ngedrop 20,8%
A
A
A
Sindonews.com - Sepanjang 2013, Bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) selama 203 mencapai 20,8 persen.
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, pelamahan ini terutama terjadi karena aliran modal keluar yang dipicu oleh sentimen pasar terhadap rencana pengurangan stimulus moneter yang dilakukan Bank Sentral AS (The Fed).
"Utamanya terjadi sejak akhir Mei 2013 sampai Agustus 2013," terang Agus di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1/2013).
Selain itu, yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah inflasi yang terjadi setelah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan Rp2.000 per liter oleh pemerintah menjadi Rp6.500 dari sebelumnya Rp4.500 per liter.
"Dan juga ada permasalahan terhadap prospek transaksi berjalan di dalam negeri yang terjadi di tahun kemarin," imbus Agus.
Dia juga menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamentalnya. Sehingga dapat mendukung penyesuaian ekonomi secara terkendali.
"Diharapkan perbaikan Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) akan mendukung pergerakan nilai tukar rupiah," pungkas Agus.
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, pelamahan ini terutama terjadi karena aliran modal keluar yang dipicu oleh sentimen pasar terhadap rencana pengurangan stimulus moneter yang dilakukan Bank Sentral AS (The Fed).
"Utamanya terjadi sejak akhir Mei 2013 sampai Agustus 2013," terang Agus di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1/2013).
Selain itu, yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah inflasi yang terjadi setelah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan Rp2.000 per liter oleh pemerintah menjadi Rp6.500 dari sebelumnya Rp4.500 per liter.
"Dan juga ada permasalahan terhadap prospek transaksi berjalan di dalam negeri yang terjadi di tahun kemarin," imbus Agus.
Dia juga menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamentalnya. Sehingga dapat mendukung penyesuaian ekonomi secara terkendali.
"Diharapkan perbaikan Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) akan mendukung pergerakan nilai tukar rupiah," pungkas Agus.
(izz)