Banjir rugikan pengusaha angkutan di Semarang
Selasa, 21 Januari 2014 - 18:04 WIB
Banjir rugikan pengusaha angkutan di Semarang
A
A
A
Sindonews.com - Banjir yang terjadi di Kota Semarang, sampai saat ini belum surut dan masih tingginya intensitas hujan pengusaha jasa transportasi merugi setiap harinya. Pasalnya, selama banjir dan hujan, daya tampung penumpang mengalami penurunan drastis.
Di sisi lain, karena takut semakin merugi banyak pengusaha bus dan sopir yang memilih meliburkan diri.
Berdasarkan pantau di Terminal Terboyo Semarang, kondisi terminal khususnya untuk tempat pemberhentian bus-bus dalam kota, terlihat lebih lengang dari biasanya. Warga masyakarat yang hendak naik bus memilih menunggu bus di luar terminal karena di dalam terminal masih tergenang air di sejumlah titik.
Penasehat DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang Deddy Sudiardi mengatakan, kondisi cuaca ekstrim sangat mempengaruhi pendapatan dari para pengusaha transportasi.
“Load Factor (daya tampung penumpang) berkurang drastis, dari hari biasanya sekitar 50 persen sekarang tinggal 20 persen saja. Dampaknya jelas kepada pendapatan yang mengalami penurunan,” katanya.
Deddy menambahkan, selain masalah pendapatan yang berkurang, masalah yang kini dihadapi oleh pengusaha transportasi adalah biaya operasional yang cukup tinggi.
”Kondisi jalan terendam banjir, jelas akan mempengaruhi kondisi kendaraan dan tentu perlu perbaikan,” imbuhnya.
Makanya, kata dia, di cuaca ekstrim ini banyak sopir dan pengusaha yang memilih untuk tidak beroperasi terlebih dahulu, sampai kondisi cuaca benar-benar membaik dan genangan banjir tidak menggenangi jalan lagi.
”Kalau kita memaksakan untuk jalan, hasilnya juga tidak cucuk (tidak sesuai) dengan biaya operasional kan lebih baik berhenti dulu,” ujarnya.
Organda Kota Semarang berharap, pemerintah setempat untuk serius menangani banjir yang terjadi di Kota Semarang. Tidak hanya wacana-wacana belaka, tetapi benar-benar direalisasikan.
”Kalau banjir, begini banyak sopir dan pengusaha memilih berhenti, dampaknya adalah pelayanan kepada masyarakat menjadi terganggu,” imbuhnya.
Salah seorang sopir angkutan kota (Angkot) jurusan Banyumanik-Pasar Johar Hartono,50, mengaku, sejak sepekan ini pendapatannya menjadi berkurang, sampai 30 persen. Hal ini dikarenakan, masyarakat memilih tidak keluar rumah karena hujan masih terus mengguyur.
“Biasanya sehari bisa masuk Rp100 ribu, seminggu ini nyari segitu sudah susahnya minta ampun,” katanya.
Di sisi lain, karena takut semakin merugi banyak pengusaha bus dan sopir yang memilih meliburkan diri.
Berdasarkan pantau di Terminal Terboyo Semarang, kondisi terminal khususnya untuk tempat pemberhentian bus-bus dalam kota, terlihat lebih lengang dari biasanya. Warga masyakarat yang hendak naik bus memilih menunggu bus di luar terminal karena di dalam terminal masih tergenang air di sejumlah titik.
Penasehat DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Semarang Deddy Sudiardi mengatakan, kondisi cuaca ekstrim sangat mempengaruhi pendapatan dari para pengusaha transportasi.
“Load Factor (daya tampung penumpang) berkurang drastis, dari hari biasanya sekitar 50 persen sekarang tinggal 20 persen saja. Dampaknya jelas kepada pendapatan yang mengalami penurunan,” katanya.
Deddy menambahkan, selain masalah pendapatan yang berkurang, masalah yang kini dihadapi oleh pengusaha transportasi adalah biaya operasional yang cukup tinggi.
”Kondisi jalan terendam banjir, jelas akan mempengaruhi kondisi kendaraan dan tentu perlu perbaikan,” imbuhnya.
Makanya, kata dia, di cuaca ekstrim ini banyak sopir dan pengusaha yang memilih untuk tidak beroperasi terlebih dahulu, sampai kondisi cuaca benar-benar membaik dan genangan banjir tidak menggenangi jalan lagi.
”Kalau kita memaksakan untuk jalan, hasilnya juga tidak cucuk (tidak sesuai) dengan biaya operasional kan lebih baik berhenti dulu,” ujarnya.
Organda Kota Semarang berharap, pemerintah setempat untuk serius menangani banjir yang terjadi di Kota Semarang. Tidak hanya wacana-wacana belaka, tetapi benar-benar direalisasikan.
”Kalau banjir, begini banyak sopir dan pengusaha memilih berhenti, dampaknya adalah pelayanan kepada masyarakat menjadi terganggu,” imbuhnya.
Salah seorang sopir angkutan kota (Angkot) jurusan Banyumanik-Pasar Johar Hartono,50, mengaku, sejak sepekan ini pendapatannya menjadi berkurang, sampai 30 persen. Hal ini dikarenakan, masyarakat memilih tidak keluar rumah karena hujan masih terus mengguyur.
“Biasanya sehari bisa masuk Rp100 ribu, seminggu ini nyari segitu sudah susahnya minta ampun,” katanya.
(gpr)
Lihat Juga :