Rupiah masih diwarnai pelemahan
Senin, 27 Januari 2014 - 08:10 WIB
Rupiah masih diwarnai pelemahan
A
A
A
Sindonews.com - Awan pelemahan masih mewarnai laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Sedikat (USD) pada perdagangan awal pekan ini, meski terbatas seiring terjadinya aksi jual asing di pasar saham.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menerangkan, aksi jual mencuat lantaran pelaku pasar mulai mengantisipasinya lonjakan inflasi menyusul meluasnya bencana banjir ke berbagai wilayah di luar Jakarta, sehingga menganggu produksi dan distribusi barang-barang.
Ditilik dari pergerakannya, rupiah masih berkutat di kisaran yang terbatas cenderung melemah kembali menuju level Rp12.000 per USD.
"Laju rupiah diberada di atas support Rp12.186 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.186-12.158 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Senin (27/1/2014).
Namun demikian, laju pelemahan ini mulai terbatas. Hal ini karena, meskipun pasar merespon negatif komentar tambahan dari Bank Indonesia bahwa potensi inflasi bisa mendekati 1 persen serta imbas masih melemahnya sejumlah mata uang asia yang merespon pelemahan indeks manufaktur China.
Di sisi lain, laju poundsterling yang menguat mampu mematahkan laju penguatan USD, sehingga laju pelemahan rupiah tidak terperosok terlalu dalam.
"Pelemahan rupiah terbatas setelah laju USD dapat terpatahkan oleh poundsterling yang menguat setelah pelaku pasar berbalik merespon positif langkah tetapnya BoE rate untuk pemulihan ekonomi Inggris," tambah Reza.
Sementara rupiah akhir pekan lalu berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.177 per USD atau terdepresiasi 4 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.173 per USD.
Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.181 per USD. Posisi ini terdepresiasi 16 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp12.165 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menerangkan, aksi jual mencuat lantaran pelaku pasar mulai mengantisipasinya lonjakan inflasi menyusul meluasnya bencana banjir ke berbagai wilayah di luar Jakarta, sehingga menganggu produksi dan distribusi barang-barang.
Ditilik dari pergerakannya, rupiah masih berkutat di kisaran yang terbatas cenderung melemah kembali menuju level Rp12.000 per USD.
"Laju rupiah diberada di atas support Rp12.186 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.186-12.158 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Senin (27/1/2014).
Namun demikian, laju pelemahan ini mulai terbatas. Hal ini karena, meskipun pasar merespon negatif komentar tambahan dari Bank Indonesia bahwa potensi inflasi bisa mendekati 1 persen serta imbas masih melemahnya sejumlah mata uang asia yang merespon pelemahan indeks manufaktur China.
Di sisi lain, laju poundsterling yang menguat mampu mematahkan laju penguatan USD, sehingga laju pelemahan rupiah tidak terperosok terlalu dalam.
"Pelemahan rupiah terbatas setelah laju USD dapat terpatahkan oleh poundsterling yang menguat setelah pelaku pasar berbalik merespon positif langkah tetapnya BoE rate untuk pemulihan ekonomi Inggris," tambah Reza.
Sementara rupiah akhir pekan lalu berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.177 per USD atau terdepresiasi 4 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.173 per USD.
Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.181 per USD. Posisi ini terdepresiasi 16 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp12.165 per USD.
(rna)