IHSG masih dalam tren penguatan
Senin, 27 Januari 2014 - 08:38 WIB
IHSG masih dalam tren penguatan
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memerkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini akan berada pada rentang support 4.386-4.421 dan resisten 4.467-4.520.
Meski secara tren masih ada harapan kenaikan lanjutan, namun karena hasrat jualan kian besar dapat membuat potensi kenaikan lanjutan menjadi terbatas dan cenderung melemah.
"Paling tidak pelemahan terjadi untuk menutupi beberapa utang gap," kata Reza, Senin (27/1/2014).
Untuk pekan ini, beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen, antara lain NAB business confidence & export-impor price Australia; balance of trade, retail sales Jepang; HSBC manufacturing PMI China; consumer dan business confidence, industrial production, retail sales dan manufacturing production Korea Selatan.
Selain itu, IFO business climate, IFO business expectations, import price, GFK consumer confidence Jerman; ZEW economic sentiment, markit manufacturing PMI, current account, consumer confidence, & markit service PMI zona Eropa; GDP growth rate & nationwide house price Inggris.
Data lainnya, consumer confidence Perancis; consumer & business confidence Italia; retail sales Spanyol; markit service PMI, new home sales, Dallas Fed manufacturing index, durable goods orders, redbook, consumer confidence, chain store sales, Fed rate decisions AS dan lainnya.
Menilik lajunya secara historikal, IHSG masih tercatat menghijau sepanjang sepekan kemarin. Kurang lebih laju IHSG di pekan kemarin hampir sama seperti di pekan sebelumnya, di mana lajunya sepanjang satu pekan masih positif, meski di akhir pekan sebelumnya sempat mengalami pelemahan.
Banyaknya sentimen positif dan didukung kuatnya aksi beli mampu menghantarkan IHSG mendekati area overbought, namun diiringi dengan pergerakan volume yang cenderung menurun.
"Sepanjang laju kenaikan tersebut, IHSG pun meninggalkan utang gap antara lain 4.435-4.440, 4.477-4.483 dan 4.483-4.480," kata Reza.
Tampaknya penguatan yang terjadi dalam tiga hari di awal pekan kemarin dan ditambah dengan penguatan yang terjadi sebelum-sebelumnya, di satu sisi memberikan harapan akan perbaikan IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya. Namun, di sisi lain juga membuka peluang untuk ambil untung.
Sepanjang pekan kemarin, asing masih tercatat beli dengan nilai Rp803,25 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya yang melakukan aksi beli senilai Rp3,27 triliun.
Pasca penguatan yang cukup signifikan sebelum libur Maulid Nabi Muhammad SAW, dan menyentuh area overbought, IHSG masih dapat menguat dan mampu menembus resisten terbarunya.
Bahkan dapat meninggalkan utang gap di level 4.270-4.292 dan juga 4.393-4.398 dengan dukungan masih hijaunya bursa saham global saat itu. Dengan demikian, masih ada lima utang gap yang belum terpenuhi.
Di awal pekan kemarin, pergerakan IHSG masih variatif, namun pelaku pasar mencoba kembali masuk setelah di akhir pekan sebelumnya laju pelemahan IHSG dapat ditahan, sehingga membuka peluang pembalikan arah. Sentimen negatif berupa rilis data-data pertumbuhan China yang tidak terlalu signifikan.
Di sisi lain, kembalinya asing nett buy dan penguatan rupiah membuat IHSG dapat kembali positif. Penguatan saham-saham perkebunan dan infrastruktur turut menopang hijaunya IHSG.
"Kian dekatnya IHSG pada area overbought membuat lajunya mulai terbatas," terangnya.
Meski secara tren masih ada harapan kenaikan lanjutan, namun karena hasrat jualan kian besar dapat membuat potensi kenaikan lanjutan menjadi terbatas dan cenderung melemah.
"Paling tidak pelemahan terjadi untuk menutupi beberapa utang gap," kata Reza, Senin (27/1/2014).
Untuk pekan ini, beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen, antara lain NAB business confidence & export-impor price Australia; balance of trade, retail sales Jepang; HSBC manufacturing PMI China; consumer dan business confidence, industrial production, retail sales dan manufacturing production Korea Selatan.
Selain itu, IFO business climate, IFO business expectations, import price, GFK consumer confidence Jerman; ZEW economic sentiment, markit manufacturing PMI, current account, consumer confidence, & markit service PMI zona Eropa; GDP growth rate & nationwide house price Inggris.
Data lainnya, consumer confidence Perancis; consumer & business confidence Italia; retail sales Spanyol; markit service PMI, new home sales, Dallas Fed manufacturing index, durable goods orders, redbook, consumer confidence, chain store sales, Fed rate decisions AS dan lainnya.
Menilik lajunya secara historikal, IHSG masih tercatat menghijau sepanjang sepekan kemarin. Kurang lebih laju IHSG di pekan kemarin hampir sama seperti di pekan sebelumnya, di mana lajunya sepanjang satu pekan masih positif, meski di akhir pekan sebelumnya sempat mengalami pelemahan.
Banyaknya sentimen positif dan didukung kuatnya aksi beli mampu menghantarkan IHSG mendekati area overbought, namun diiringi dengan pergerakan volume yang cenderung menurun.
"Sepanjang laju kenaikan tersebut, IHSG pun meninggalkan utang gap antara lain 4.435-4.440, 4.477-4.483 dan 4.483-4.480," kata Reza.
Tampaknya penguatan yang terjadi dalam tiga hari di awal pekan kemarin dan ditambah dengan penguatan yang terjadi sebelum-sebelumnya, di satu sisi memberikan harapan akan perbaikan IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya. Namun, di sisi lain juga membuka peluang untuk ambil untung.
Sepanjang pekan kemarin, asing masih tercatat beli dengan nilai Rp803,25 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya yang melakukan aksi beli senilai Rp3,27 triliun.
Pasca penguatan yang cukup signifikan sebelum libur Maulid Nabi Muhammad SAW, dan menyentuh area overbought, IHSG masih dapat menguat dan mampu menembus resisten terbarunya.
Bahkan dapat meninggalkan utang gap di level 4.270-4.292 dan juga 4.393-4.398 dengan dukungan masih hijaunya bursa saham global saat itu. Dengan demikian, masih ada lima utang gap yang belum terpenuhi.
Di awal pekan kemarin, pergerakan IHSG masih variatif, namun pelaku pasar mencoba kembali masuk setelah di akhir pekan sebelumnya laju pelemahan IHSG dapat ditahan, sehingga membuka peluang pembalikan arah. Sentimen negatif berupa rilis data-data pertumbuhan China yang tidak terlalu signifikan.
Di sisi lain, kembalinya asing nett buy dan penguatan rupiah membuat IHSG dapat kembali positif. Penguatan saham-saham perkebunan dan infrastruktur turut menopang hijaunya IHSG.
"Kian dekatnya IHSG pada area overbought membuat lajunya mulai terbatas," terangnya.
(rna)
Lihat Juga :