Rupiah diprediksi masih akan terkoreksi
Selasa, 28 Januari 2014 - 08:13 WIB
Rupiah diprediksi masih akan terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Awan mendung pelemahan masih betah mewarnai laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) setelah sejumlah mata uang regional dan emerging market lainnya mengalami pelemahan.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan itu merupakan imbas dari aksi jual masif dengan makin dekatnya pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk membahas kemungkinan dilakukannya tapering off perdana.
Lantaran sentimen negatif tersebut, laju rupiah pun kian dalam terperosok pada rentangnya yang mulai melewati Rp12.200 menuju ke 12.500.
"Laju rupiah berada di bawah support Rp12.186 per USD. Rentang rupiah berada di kisaran Rp12.225-12.181 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Selasa (28/1/2014).
Reza menambahkan, faktor lain yang turut mempengaruhi atau yang turut menyumbang terjadinya pelemahan laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS adalah tingkat inflasi yang akan lebih tinggi.
"Perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara month of month (MoM) dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar yen karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah," kata dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.198 per USD atau terdepresiasi 21 poin dibanding penutupan Jumat (24/1/2014) di level Rp12.177 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.238 per USD. Posisi ini merosot 57 poin dari posisi penutupan akhir pekan lalu di level Rp12.181 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan itu merupakan imbas dari aksi jual masif dengan makin dekatnya pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk membahas kemungkinan dilakukannya tapering off perdana.
Lantaran sentimen negatif tersebut, laju rupiah pun kian dalam terperosok pada rentangnya yang mulai melewati Rp12.200 menuju ke 12.500.
"Laju rupiah berada di bawah support Rp12.186 per USD. Rentang rupiah berada di kisaran Rp12.225-12.181 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Selasa (28/1/2014).
Reza menambahkan, faktor lain yang turut mempengaruhi atau yang turut menyumbang terjadinya pelemahan laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS adalah tingkat inflasi yang akan lebih tinggi.
"Perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara month of month (MoM) dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar yen karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah," kata dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.198 per USD atau terdepresiasi 21 poin dibanding penutupan Jumat (24/1/2014) di level Rp12.177 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup di level Rp12.238 per USD. Posisi ini merosot 57 poin dari posisi penutupan akhir pekan lalu di level Rp12.181 per USD.
(rna)