Pellet Uso, pakan ikan murah meriah dan bergizi

Minggu, 02 Februari 2014 - 17:55 WIB
Pellet Uso, pakan ikan...
Pellet Uso, pakan ikan murah meriah dan bergizi
A A A
Sindonews.com - Usaha perikanan khususnya lele ternyata mengalami peningkatan yang drastis dan membuat kebutuhan akan pakan ikan meningkat tajam. Dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa FMIPA UNY terinsirasi membuat pakan ikan yang bergizi sekaligus berbahan murah.

Mereka adalah Miftahudin Nur Ihsan dari Prodi Pendidikan Kimia, Dwi Prihastuti dari Prodi Matematika dan Desiana Nur Fajari dari Prodi Kimia.

Menurut data yang mereka peroleh dari asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), kebutuhan pakan ikan yang diperlukan oleh para pembudidaya ikan mencapai 100.000ton setiap bulan. Di sisi lain, harga pakan ikan lele di pasaran terus melambung hingga mengancam keberlanjutan usaha para pembudidaya lele.

"Usaha lele konsumsi mempunyai prospek cukup besar dalam dunia bisnis, sebab kebutuhan lele terus mengalami peningkatan. Untuk itu, perlu mencari alternatif pakan lele. Dan kami mencoba memanfaatkan limbah usus dua belas jari (duodenum) ayam yang selama ini terbuang sia-sia di banyak rumah potong ayam," ujar Miftahudin Nur Ihsan, Minggu (2/2/2014).

Dijelaskan Ihsan, limbah usus dua belas jari ayam sebenarnya kaya akan protein, sehingga cocok dibuat sebagai bahan baku pakan ikan. Karenanya, pemanfaatan limbah usus dua belas jari sebagai sumber protein merupakan salah satu alternatif dalam rangka menyediakan sumber pangan kaya protein bagi lele. Pemilihan bahan juga berguna agar mengurangi dampak buruk pencemaran lingkungan akibat dari pembuangan limbah usus dua belas jari.

"Selama ini, pemanfaatan usus dua belas jari untuk pakan ikan dilakukan secara langsung. Namun, hal ini kurang sehat karena dapat menurunkan kualitas dari air kolam. Dilihat dari sisi estetika kurang baik, apalagi banyak orang yang merasa jijik jika langsung memberikan pakan usus tanpa pengolahan sebagai pakan ikan. Padahal, ikan dapat tumbuh dengan baik jika mengonsumi usus dua belas jari ayam," paparnya.

Sementara itu, Dwi Prihastuti mengungkapkan, bahan pembuatan Pellet USO yaitu duodenum ayam (usus 12 jari), tepung terigu, tepung jagung, cangkang telur, ekstrak kangkung, dedak halus dan minyak ikan.

Pembuatan Pellet USO cukup mudah. Pertama, mencampurkan semua bahan kemudian diblender sampai halus. Setelah itu, ditambahkan air panas sebanyak 1,25 kali berat bahan baku dan dimasak dengan api kecil sambil diaduk.

"Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna. Setelah itu, masukkan tepung kanji dengan perbandingan 1/3 dari bahan. Aduk terus sampai adonan mengental. Bila perlu tambahkan sedikit lagi air panas. Kemudian dinginkan adonan,” lanjutnya.

Setelah itu, bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling mie dan akan diperoleh bentuk batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotong-potong sepanjang 3 cm atau menurut selera. Pellet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai kadar airnya 10-20 persen. Setelah itu dilakukan pengeringan. Pengeringan dapat juga memakai oven.

"Pengeringan dihentikan apabila pellet telah kering, keras dan mudah patah. Kami pun membuat 5 variasi pellet, yaitu pellet USO dengan perbandingan bahan utama dengan bahan tambahan sebesar 20 persen, 30 persen, 40 persen, 50 persen dan 60 persen. Setiap varian pun kami lakukan uji laboratorium untuk melihat seberapa besar kadar protein pada pellet," tuturnya.

Dari hasil pengujian, diperoleh kadar protein sebagai berikut: pada varian kadar 20 persen bahan duodenum, proteinnya 16,33 persen; untuk kadar 30 persen, proteinnya 18,43 persen; kadar 40 persen, proteinnya 19,01 persen; kadar 50 persen, proteinnya 22,00 persen dan kadar 60 persen, proteinnya 24,02 persen. Untuk memaksimalkan kadar protein pada pellet, pencampuran limbah usus dua belas jari disarankan bisa mencapai 60 persen.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian Kelautan...
Kementerian Kelautan dan Perikanan Berhentikan Dirjen Perikanan Tangkap
Menteri Kelautan dan...
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo Ditangkap KPK
Meski Ada Pandemi, Nilai...
Meski Ada Pandemi, Nilai Ekspor Perikanan Meningkat Jadi USD1,24 Miliar
RI Rangking 4 Eksportir...
RI Rangking 4 Eksportir Perikanan ke China, Atdag: Aturan Rumit
KKP Berikan Stimulus...
KKP Berikan Stimulus Bagi Pembudidya Ikan
Dorong Industrialisasi...
Dorong Industrialisasi Rumput Laut Nasional Demi Genjot Nilai Ekspor
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
1 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
1 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
2 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
2 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
2 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
2 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved