Wall Street tertekan data manufaktur AS
Selasa, 04 Februari 2014 - 08:51 WIB
Wall Street tertekan data manufaktur AS
A
A
A
Sindonews.com - Indeks saham Wall Street merosot pada perdagangan awal pekan waktu setempat. Indeks S&P 500 mengalami koreksi terburuk sejak Juni 2013 dipicu melemahnya data manufaktur Amerika Serikat (AS).
Pertumbuhan manufaktur AS pada Januari menurun karena merosotnya pesanan baru signifikan dalam 33 tahun terakhir, sementara belanja proyek konstruksi pada Desember 2013 hampir tidak mengalami pertumbuhan.
"Tidak ada yang bertahan hari ini setelah pasar mulai menjual saham," kata Wakil Presiden Cuttone & Co Keith Bliss seperti dilansir Reuters, Selasa (4/2/2014).
Indeks Dow Jones ditutup turun 326,05 poin atau 2,08 persen ke 15.372,8; indeks S&P 500 melemah 40,7 poin atau 2,28 persen ke 1.741,89 dan Nasdaq anjlok 106,919 poin atau 2,61 persen ke 3.996,958.
Pasar saham mengalami tekanan sejak The Fed menegaskan komitmennya untuk menarik stimulus, ditambah kekhawatiran tentang pertumbuhan di China. Pertumbuhan sektor jasa China melambat ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
Di samping itu, investor khawatir terhadap prospek pasar negara berkembang, di mana koreksi tajam pada mata uang mendorong beberapa bank sentral untuk menaikkan suku bunga atau melakukan intervensi di pasar. Hal itu pada akhirnya pasar menekan obligasi dan saham, sehingga memaksa investor keluar dan berinvestasi pada mata uang yang relatif aman, seperti yen dan Swiss franc.
Pertumbuhan manufaktur AS pada Januari menurun karena merosotnya pesanan baru signifikan dalam 33 tahun terakhir, sementara belanja proyek konstruksi pada Desember 2013 hampir tidak mengalami pertumbuhan.
"Tidak ada yang bertahan hari ini setelah pasar mulai menjual saham," kata Wakil Presiden Cuttone & Co Keith Bliss seperti dilansir Reuters, Selasa (4/2/2014).
Indeks Dow Jones ditutup turun 326,05 poin atau 2,08 persen ke 15.372,8; indeks S&P 500 melemah 40,7 poin atau 2,28 persen ke 1.741,89 dan Nasdaq anjlok 106,919 poin atau 2,61 persen ke 3.996,958.
Pasar saham mengalami tekanan sejak The Fed menegaskan komitmennya untuk menarik stimulus, ditambah kekhawatiran tentang pertumbuhan di China. Pertumbuhan sektor jasa China melambat ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
Di samping itu, investor khawatir terhadap prospek pasar negara berkembang, di mana koreksi tajam pada mata uang mendorong beberapa bank sentral untuk menaikkan suku bunga atau melakukan intervensi di pasar. Hal itu pada akhirnya pasar menekan obligasi dan saham, sehingga memaksa investor keluar dan berinvestasi pada mata uang yang relatif aman, seperti yen dan Swiss franc.
(rna)
Lihat Juga :