Pendanaan publik perubahan iklim RI Rp8,4 T

Selasa, 18 Februari 2014 - 20:39 WIB
Pendanaan publik perubahan...
Pendanaan publik perubahan iklim RI Rp8,4 T
A A A
Sindonews.com - Kepentingan Indonesia dan dunia internasional terkait pengendalian emisi gas rumah kaca telah menghasilkan belanja publik untuk pendanaan perubahan iklim di tanah air mencapai Rp8,4 triliun pada 2011.

Hal ini berdasarkan hasil kajian terkini Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu dan Climate Policy Initiative (CPI) menyajikan inventarisasi komprehensif mengenai pendanaan perubahan iklim oleh sektor publik di Indonesia saat ini.

Beberapa sektor yang paling berpotensi menimbulkan emisi menjadi penerima terbesar aliran pendanaan perubahaan iklim pada 2011, yaitu kehutanan (41 persen), energi (19 persen), pertanian dan peternakan (10 persen), transportasi (9 persen), serta sampah dan air limbah (7 persen).

Pemerintah Indonesia menyumbang pangsa terbesar dari pendanaan perubahan iklim publik. Yakni, menyalurkan sedikitnya Rp5,5 triliun (USD 627 juta) atau 66 persen dari total pendanaan yang ada. Selain itu, mitra pembangunan internasional juga memberikan tambahan dana publik sebesar Rp2,9 triliun (USD324 juta).

Dana publik ini digunakan untuk mendukung Indonesia mencapai sasaran mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen dibandingkan skenario bisnis seperti biasa pada 2020. Atau 41 persen dengan dukungan mitra pembangunan internasional.

Sejauh ini, pendanaan dari sumber-sumber pembiayaan internasional masih belum optimal. Sehingga diharapkan Green Climate Fund (GCF) dapat menarik pembelajaran dari pengelolaan dana yang bersumber dari kemitraan bilateral.

Pada 2011, realisasi pendanaan oleh mitra-mitra pembangunan internasional lebih rendah dari komitmen semula. Sementara, pendanaan bilateral mengalir lebih lancar dan membukukan 90 persen dari total pendanaan internasional.

Tata kelola yang mempertimbangkan keselarasan prioritas perencanaan pembangunan nasional Indonesia dengan kepentingan pendanaan mitra pembangunan bilateral menjadi salah satu penyebab lebih lancarnya aliran dana tersebut.

"Diskusi yang sedang berlangsung di kalangan direksi dan pimpinan puncak GCF dalam mematangkan tata kelola GCF dapat menarik pembelajaran dari hasil kajian ini," kata Kepala Pusat Kebijakan Perubahan Iklim dan Pendanaan Multilateral Kemenkeu, Irfa Ampri dalam rilisnya, Selasa (18/2/2014).

Menurutnya, laporan kajian menunjukkan bahwa sumber daya publik internasional dan nasional memainkan peran saling melengkapi dalam mendukung prioritas-prioritas nasional.

"Membangun kerangka tata kelola yang efektif untuk mendorong kerja sama antara mitra pembangunan internasional dan nasional dapat meningkatkan akses terhadap sumber pendanaan dengan tetap memperhatikan kepemilikan nasional," katanya.

Dia mengatakan, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami sejauh mana mekanisme transfer yang sudah ada dapat digunakan untuk meningkatkan aliran dana ke pemerintah daerah. Namun, apakah rancangan mekanisme yang lebih spesifik dapat meningkatkan pembiayaan untuk kegiatan terkait perubahan iklim di daerah.

"Pendanaan publik untuk kegiatan yang berkaitan perubahan iklim di Indonesia sudah baik. Kami juga menduga pendanaan ini akan terus meningkat seiring dimplementasikannya kebijakan-kebijakan yang mendukung pelaksanaan kegiatan terkait perubahan iklim," ujar Direktur CPI, Jane Wilkinson.

Analisa CPI mengindikasikan bahwa masih terdapat pendanaan perubahan iklim yang belum berhasil dicairkan di Indonesia. Hal ini penting untuk mengatasi hambatan yang ada agar sumber daya ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu Indonesia mencapai target penurunan emisi dan pertumbuhan ekonominya yang ambisius.

"Baik kontributor nasional maupun internasional memiliki peran masing-masing untuk mengatasi hal ini," kata dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Menkeu Sebut Separuh...
Menkeu Sebut Separuh Masyarakat RI Masih Tinggal di Desa
Kemenkeu Setujui Rp1...
Kemenkeu Setujui Rp1 Triliun Anggaran Tahap I Pilkada Serentak
Realisasi Lelang Kekayaan...
Realisasi Lelang Kekayaan Negara Capai Rp8,07 Triliun, Tak Sampai Setengah Target
Kemenkeu Gelar PMO Informal...
Kemenkeu Gelar PMO Informal Meeting II: Cakap Berkomunikasi di Masa Pandemi
Pemerintah Alokasikan...
Pemerintah Alokasikan Rp8 Triliun untuk Pengentasan TBC, Bagian Program Kesehatan Prioritas 2025
Kemenkeu Ungkap Alasan...
Kemenkeu Ungkap Alasan Pembekuan Anggaran Kementerian Rp50,2 Triliun
Berita Terkini
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
5 menit yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
12 menit yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
16 menit yang lalu
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
17 menit yang lalu
Perkuat Daya Saing Industri...
Perkuat Daya Saing Industri Wellness dan Beauty Nasional Mendunia, BRI Dukung BWB Expo 2026 di Bali
1 jam yang lalu
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
2 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved