Indonesia tekan kebijakan moneter AS di KTT G20

Jum'at, 21 Februari 2014 - 18:46 WIB
Indonesia tekan kebijakan...
Indonesia tekan kebijakan moneter AS di KTT G20
A A A
Sindonews.com - Indonesia dan Afrika Selatan (Afsel) meningkatkan tekanan terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), dengan mendesak komunikasi lebih jelas dan baik sehingga negara-negara berkembang (emerging market) tidak terperangkap langkah Federal Reserve (The Fed).

Indonesia, Afrika Selatan, Argentina, Turki, dan India mengalami arus keluar modal dan kerugian mata uang akibat langkah The Fed yang menarik ulur tapering off stimulus moneter.

Menteri Keuangan Indonesia, M Chatib Basri mengemukakan, hal itu penting dibicarakan dalam pertemuan KTT G20 akhir pekan ini, di mana para menteri keuangan dan gubernur bank sentral di Sydney, Australia, meminta kepastian arah kebijakan AS.

"Saya memahami dunia normal adalah dunia tanpa QE (pelonggaran kuantitatif), sehingga pasar negara berkembang harus siap (tanpa QE)," ujarnya kepada Australian Broadcasting Corporation, seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (21/2/2014).

"Tapi, saya pikir ketika kita berpindah dari satu keseimbangan ke keseimbangan lain sangat penting untuk terus berkomunikasi membahas tentang roadmap, sehingga kita di pasar negara berkembang dapat mempersiapkan diri. Saya pikir itu bukan hanya Indonesia," tegasnya .

Menurut Chatib, pasar lain negara berkembang termasuk India, Afrika Selatan dan Brazil juga mengangkat masalah yang sama tentang perlunya koordinasi.

Hal senada dikemukakan Menteri Keuangan Afrika Selatan, Pravin Gordhan, yang tidak dapat menghadiri G20 karena harus mempersiapkan anggaran negara 2014. Dalam catatannya menjelang KTT, dia menekankan komunikasi sangat penting.

"Afrika Selatan akan menggunakan pertemuan ini untuk mendorong masyarakat ekonomi global kembali ke kerja sama lebih erat dan koordinasi melalui G20. Peristiwa baru-baru ini menunjukkan bagaimana pasar keuangan, sebagai salah satu saluran kesalingterkaitan ekonomi global dapat mempengaruhi stabilitas di negara berkembang," ujarnya.

Bagi Kepala Fed baru, Janet Yellen, pertemuan G20 kali ini adalah yang pertama sebagai pengganti Ben Bernanke, atau hanya beberapa minggu setelah kesaksian pengukuhannya di kongres AS.

Dia akan melanjutkan kebijakan pengurangan stimulus moneter, yang telah menumpahkan uang murah di pasar negara berkembang, dengan melakukan pengurangan secara bertahap USD10 miliar-USD65 miliar, asalkan kondisi ekonomi stabil.

Kemarin, Ketua IMF Christine Lagarde telah memperingatkan AS untuk sadar atas dampak dari pengurangan stimulus yang mereka lakukan terhadap negara berkembang.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
6 jam yang lalu
Membaca Pola Pelemahan...
Membaca Pola Pelemahan Rupiah, DEN Prediksi Kurs Melandai pada Juli 2026
7 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
7 jam yang lalu
Pengembangan Bioenergi...
Pengembangan Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja
7 jam yang lalu
Kuliah Umum di Unhas,...
Kuliah Umum di Unhas, Afi Kalla Tekankan Peran IKM dalam Hilirisasi Ekonomi
7 jam yang lalu
Seminar dan Live Trading,...
Seminar dan Live Trading, Didimax Dorong Edukasi Trading yang Aman serta Mandiri
8 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved