Rupiah pekan ini terapresiasi 94 poin
Sabtu, 22 Februari 2014 - 15:18 WIB
Rupiah pekan ini terapresiasi 94 poin
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sepanjang pekan ini terapresiasi 94 poin dari akhir pekan sebelumnya.
Dirangkum dari data di situs resmi Bank Indonesia, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada Jumat (14/2/2014) di level Rp11.886 per USD dan pada hari kemarin (21/2/2014) menguat ke level Rp11.792 per USD.
Sepanjang pekan ini meski posisi rupiah tidak melemah di bawah level akhir pekan lalu, namun lajunya fluktuatif, dengan pelemahan tertinggi di level Rp11.850 per USD dan terkuat di level Rp11.716 per USD.
Rincian pergerakan harga emas Antam sepanjang pekan ini, yakni rupiah pada Senin (17/2/2014) berada di level Rp11.716 per USD, yang menjadi posisi terkuat di pekan ini.
Namun pada Selasa (18/2/2014), rupiah anjlok 110 poin menjadi Rp11.826 per USD. Selanjutnya pada Rabu (19/2/2014), kembali merosot 24 poin ke level Rp11.850 per USD. Posisi ini menjadi yang terlemah di pekan ini.
Selanjutnya, rupiah pada Kamis (20/2/2014) berhasil melonjak 78 poin menuju level Rp11.772 per USD dan pada perdagangan Jumat kemarin ditutup melemah 20 poin ke level Rp11.792 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju rupiah selama sepekan ini kian menunjukkan apresiasinya yang ditopang oleh beberapa data positif.
Data positif tersebut, diantaranya dirilisnya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q4/2013 yang surplus sebesar USD4,4 miliar, setelah selama tiga kuartal terakhir mengalami defisit; perbaikan NPI Q4/2013 ditopang defisit transaksi berjalan yang menurun cukup tajam menjadi USD4,0 miliar atau 1,98 persen dari PDB.
"Sementara itu, laju USD masih menunjukkan pelemahan, terutama setelah pelaku pasar merespon penurunan manufacturing production dan industrial production AS," kata dia, Sabtu (22/2/2014).
Di sisi lain, dia menambahkan, laju nilai tukar rupiah juga sempat berbalik melemah pasca kenaikan selama 3-4 hari terakhir yang ditopang aksi profit taking dan memanfaatkan pelemahan pada USD untuk masuk kembali.
Pelemahan turut dipicu oleh beredarnya kekhawatiran dirilisnya revisi UU Minerba akan semakin mengetatkan kebijakan larangan ekspor bahan mentah yang nantinya dapat mengganggu neraca perdagangan.
Selain itu, juga dipengaruhi pelemahan yuan pasca sentimen negatif yang melanda sektor perbankannya hingga spekulasi meningkatnya inflasi akibat bencana alam turut berimbas negatif pada laju rupiah.
Belum lagi, pelemahan sejumlah mata uang emerging market lainnya, terutama untuk mata uang yang negaranya sedang mengalami konflik anti pemerintahan, seperti Thailand dan Ukraina.
"Tetapi, adanya aksi beli pada euro dan poundsterling terkait dengan spekulasi ECB akan kembali meneruskan pelonggaran moneter dan stabilnya rilis inflasi di Inggris serta meningkatnya dolar Australia pasca dirilisnya kenaikan CB leading indicator turut berimbas positif," ujar dia.
Dirangkum dari data di situs resmi Bank Indonesia, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada Jumat (14/2/2014) di level Rp11.886 per USD dan pada hari kemarin (21/2/2014) menguat ke level Rp11.792 per USD.
Sepanjang pekan ini meski posisi rupiah tidak melemah di bawah level akhir pekan lalu, namun lajunya fluktuatif, dengan pelemahan tertinggi di level Rp11.850 per USD dan terkuat di level Rp11.716 per USD.
Rincian pergerakan harga emas Antam sepanjang pekan ini, yakni rupiah pada Senin (17/2/2014) berada di level Rp11.716 per USD, yang menjadi posisi terkuat di pekan ini.
Namun pada Selasa (18/2/2014), rupiah anjlok 110 poin menjadi Rp11.826 per USD. Selanjutnya pada Rabu (19/2/2014), kembali merosot 24 poin ke level Rp11.850 per USD. Posisi ini menjadi yang terlemah di pekan ini.
Selanjutnya, rupiah pada Kamis (20/2/2014) berhasil melonjak 78 poin menuju level Rp11.772 per USD dan pada perdagangan Jumat kemarin ditutup melemah 20 poin ke level Rp11.792 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, laju rupiah selama sepekan ini kian menunjukkan apresiasinya yang ditopang oleh beberapa data positif.
Data positif tersebut, diantaranya dirilisnya Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q4/2013 yang surplus sebesar USD4,4 miliar, setelah selama tiga kuartal terakhir mengalami defisit; perbaikan NPI Q4/2013 ditopang defisit transaksi berjalan yang menurun cukup tajam menjadi USD4,0 miliar atau 1,98 persen dari PDB.
"Sementara itu, laju USD masih menunjukkan pelemahan, terutama setelah pelaku pasar merespon penurunan manufacturing production dan industrial production AS," kata dia, Sabtu (22/2/2014).
Di sisi lain, dia menambahkan, laju nilai tukar rupiah juga sempat berbalik melemah pasca kenaikan selama 3-4 hari terakhir yang ditopang aksi profit taking dan memanfaatkan pelemahan pada USD untuk masuk kembali.
Pelemahan turut dipicu oleh beredarnya kekhawatiran dirilisnya revisi UU Minerba akan semakin mengetatkan kebijakan larangan ekspor bahan mentah yang nantinya dapat mengganggu neraca perdagangan.
Selain itu, juga dipengaruhi pelemahan yuan pasca sentimen negatif yang melanda sektor perbankannya hingga spekulasi meningkatnya inflasi akibat bencana alam turut berimbas negatif pada laju rupiah.
Belum lagi, pelemahan sejumlah mata uang emerging market lainnya, terutama untuk mata uang yang negaranya sedang mengalami konflik anti pemerintahan, seperti Thailand dan Ukraina.
"Tetapi, adanya aksi beli pada euro dan poundsterling terkait dengan spekulasi ECB akan kembali meneruskan pelonggaran moneter dan stabilnya rilis inflasi di Inggris serta meningkatnya dolar Australia pasca dirilisnya kenaikan CB leading indicator turut berimbas positif," ujar dia.
(rna)