Menjadi jaringan kedai kopi terbesar dengan kopi Indonesia
Minggu, 02 Maret 2014 - 20:10 WIB
Menjadi jaringan kedai kopi terbesar dengan kopi Indonesia
A
A
A
ANTUSIASME masyarakat di kota besar dalam mengonsumsi kopi membuat Odi Anindito (33) memutuskan untuk usaha mendirikan gerai kopi. Keinginannya berbisnis kopi juga didasari bahwa Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi utama dunia.
Namun ironisnya, masyarakat di Indonesia sendiri belum banyak yang tahu kalau merk kopi impor yang menjamur di dunia saat ini sebenarnya berasal dari Indonesia.
Risau dengan kenyataan ini, sepulang belajar dari Melbourne, Australia, Odi akhirnya mendirikan gerai kopi di kota kelahirannya di Surabaya. Dia belajar meracik kopi saat berada di negeri Kanguru dengan bekerja paruh waktu sebagai barista (ahli meramu minuman di bar atau kafe) di kedai kopi.
Saat itulah ia sadar bahwa 12 dari 31 kopi yang disajikannya ternyata berasal dari Indonesia. “Di sanalah saya menemukan berbagai fakta mengagumkan tentang kopi Indonesia yang mendunia,” ujarnya.
Menurutnya, dari 31 jenis kopi yang masuk dalam peringkat atas, 12 jenis di antaranya justru berasal dari Indonesia dan tergolong sebagai best seller. Melihat itu, dia menilai kopi memiliki peluang besar untuk dijual di pasaran. Selain itu, bisnis ini juga sesuai dengan passion yang dimilikinya.
Sekitar 2006, Odi bersama Rahma sang istri, Rakhma Sinseria, akhirnya sepakat untuk membuka sebuah gerai kopi di beberapa lokasi di depan minimarket. Dengan modal awal sekitar Rp5 juta, Odi akhirnya membuka sebuah gerai coffee shop dengan menggunakan konsep booth.
Produknya dijual di depan mini market dengan harga yang terjangkau. Namun saat itu penjualannya kurang bagus sehingga Odi memutuskan untuk menutup gerai tersebut dan pada 2007 memutuskan untuk hijrah ke Jakarta untuk melihat peluang pasar yang lebih baik.
Di Jakarta, usaha ini berlanjut dengan konsep berbeda. Konsep awal yang dulunya berupa booth, akhirnya diubah dengan gerai coffee shop dengan konsep mini kafe berkapasitas 4-5 meja dengan modal Rp100 juta.
“Ternyata dengan konsep ini lebih berhasil ketimbang dengan konsep booth,” kata dia.
Menurutnya, konsep independent coffee shop sangat pas, karena pengunjung dapat berkumpul sembari menikmati kopi tanpa diganggu aktivitas apapun seperti berbelanja ataupun jalan-jalan.
Perlahan namun pasti, sejalan dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap kopi lokal gerai yang dikelolanya akhirnya berkembang pesat. Hal itu menjadi salah satu bukti kesuksesannya dalam mempopulerkan kopi lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Setelah berdiri selama kurang dari satu tahun ia berhasil membuka 3 gerai Coffee Toffee di Jakarta.
Kemudian pada 2010, Odi kembali ke Surabaya dan mendirikan gerai Coffee Toffee di daerah Klampis, Surabaya. Dalam rentang waktu yang singkat Odi mampu mengembangkan usaha bisnisnya. “Kuncinya terletak pada inovasi sehingga usaha tetap sustain,” ujarnya.
Dengan Motto “Yes I Drink Indonesian Coffee”, saat ini Coffee Toffee sudah memiliki lebih dari 140 gerai yang tersebar di Indonesia. Dalam mengembangkan usahanya, Coffee Toffee menawarkan konsep waralaba.
Dasarnya adalah kecocokan karakter mitra dengan nilai perusahaan, sehingga pada akhirnya tercipta hubungan bisnis harmonis antara mitra dengan pe-waralaba. Ia tidak ingin sebuah gerai hanya bertahan selama 5 tahun kemudian tutup.
“Itulah sebabnya, prinsip yang dibangun bersama mitra menjadi penting, bukan semata-mata dinilai dari besaran investasinya,” kata dia.
Coffee Toffee juga menerapkan konsep under management, yaitu siapa saja yang mempunyai modal bisa berinvestasi sedangkan pengelolaan gerainya dilaksanakan oleh manajemen Coffee Toffee dengan sistem profit sharing. Artinya, bila menguntungkan hasilnya dibagi dua dan sebaliknya, apabila rugi maka ditanggung bersama.
Di samping dua sistem di atas, ada beberapa gerai yang merupakan own store kepemilikan Coffee Toffee. Semua kopi yang ada di gerai Coffee Toffee adalah produk Indonesia yang memiliki kualitas premium.
Dengan konsep Go Local All The Way, Coffee Toffee berupaya memaksimalkan penggunaan sumber daya Indonesia terbaik.
“Semua kopi yang disajikan merupakan kopi lokal asal Indonesia, misalnya Java Mocca, Toraja Kalosi, Bali Batukaru, Sumatra Gayo dan Sumatra Linthong. Biji-biji kopi tersebut adalah biji kopi yang sangat dikenal di dunia,” jelas Odi.
Untuk merasakan kenikmatannya di gerai Coffee Toffee, pengunjung tidak perlu membayar mahal. Selain itu, di gerai Coffee Toffee juga disediakan biji kopi yang tidak digiling untuk menjaga rasa, dan ketika ada yang berminat, biji kopi dapat digiling untuk kemudian dibawa pulang.
Raih penghargaan wirausaha Mandiri
Bisnis yang didukung dengan konsep matang tersebut telah membuat Odi Anindito akhirnya terpilih menjadi pemenang pertama pada ajang Wirausaha Muda Mandiri 2011 dengan kategori mahasiswa program pascasarjana dan alumni di bidang usaha boga.
Berkat penghargaan tersebut, Coffee Toffee berkesempatan untuk mendapatkan berbagai bentuk dukungan dari Bank Mandiri, di antaranya dalam bentuk keikutsertaan dalam berbagai ajang pameran tingkat nasional maupun bantuan publikasi di media cetak maupun elektronik.
Hal inilah yang menjadi kekuatan dalam mengampanyekan Coffee Toffee kepada masyarakat penikmat kopi di Indonesia. Apalagi masih banyak orang Indonesia yang rela membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi terbaik yang dijual di gerai kopi terkenal, padahal sebenarnya kopi tersebut berasal dari negeri sendiri.
Bentuk lain dari dukungan yang diberikan Bank Mandiri kepada Coffee Toffee adalah kesempatan untuk mendapatkan pelatihan serta bimbingan dari para motivator terkenal, tak terkecuali pertemuan dengan beberapa CEO perusahaan ternama. Kesempatan ini menurut Odi sangat berharga, karena ia bisa belajar dari banyak orang besar.
Cita-cita merentangkan sayap bisnis ke luar negeri memang ada. Namun demikian, saat ini Odi masih memprioritaskan pengembangan bisnis Coffee Toffee di dalam negeri terlebih dulu.
“Pasar dalam negeri yang saat ini ada masih sangat besar dan belum tergarap secara maksimal,” tuturnya.
Selain di Jakarta dan Surabaya, Coffee Toffee juga telah melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lainnya. Kini 140 lebih gerai Coffee Toffee telah tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera yang mengukuhkan Coffee Toffee sebagai salah satu jaringan kedai kopi lokal terbesar di Indonesia.
Namun ironisnya, masyarakat di Indonesia sendiri belum banyak yang tahu kalau merk kopi impor yang menjamur di dunia saat ini sebenarnya berasal dari Indonesia.
Risau dengan kenyataan ini, sepulang belajar dari Melbourne, Australia, Odi akhirnya mendirikan gerai kopi di kota kelahirannya di Surabaya. Dia belajar meracik kopi saat berada di negeri Kanguru dengan bekerja paruh waktu sebagai barista (ahli meramu minuman di bar atau kafe) di kedai kopi.
Saat itulah ia sadar bahwa 12 dari 31 kopi yang disajikannya ternyata berasal dari Indonesia. “Di sanalah saya menemukan berbagai fakta mengagumkan tentang kopi Indonesia yang mendunia,” ujarnya.
Menurutnya, dari 31 jenis kopi yang masuk dalam peringkat atas, 12 jenis di antaranya justru berasal dari Indonesia dan tergolong sebagai best seller. Melihat itu, dia menilai kopi memiliki peluang besar untuk dijual di pasaran. Selain itu, bisnis ini juga sesuai dengan passion yang dimilikinya.
Sekitar 2006, Odi bersama Rahma sang istri, Rakhma Sinseria, akhirnya sepakat untuk membuka sebuah gerai kopi di beberapa lokasi di depan minimarket. Dengan modal awal sekitar Rp5 juta, Odi akhirnya membuka sebuah gerai coffee shop dengan menggunakan konsep booth.
Produknya dijual di depan mini market dengan harga yang terjangkau. Namun saat itu penjualannya kurang bagus sehingga Odi memutuskan untuk menutup gerai tersebut dan pada 2007 memutuskan untuk hijrah ke Jakarta untuk melihat peluang pasar yang lebih baik.
Di Jakarta, usaha ini berlanjut dengan konsep berbeda. Konsep awal yang dulunya berupa booth, akhirnya diubah dengan gerai coffee shop dengan konsep mini kafe berkapasitas 4-5 meja dengan modal Rp100 juta.
“Ternyata dengan konsep ini lebih berhasil ketimbang dengan konsep booth,” kata dia.
Menurutnya, konsep independent coffee shop sangat pas, karena pengunjung dapat berkumpul sembari menikmati kopi tanpa diganggu aktivitas apapun seperti berbelanja ataupun jalan-jalan.
Perlahan namun pasti, sejalan dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap kopi lokal gerai yang dikelolanya akhirnya berkembang pesat. Hal itu menjadi salah satu bukti kesuksesannya dalam mempopulerkan kopi lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Setelah berdiri selama kurang dari satu tahun ia berhasil membuka 3 gerai Coffee Toffee di Jakarta.
Kemudian pada 2010, Odi kembali ke Surabaya dan mendirikan gerai Coffee Toffee di daerah Klampis, Surabaya. Dalam rentang waktu yang singkat Odi mampu mengembangkan usaha bisnisnya. “Kuncinya terletak pada inovasi sehingga usaha tetap sustain,” ujarnya.
Dengan Motto “Yes I Drink Indonesian Coffee”, saat ini Coffee Toffee sudah memiliki lebih dari 140 gerai yang tersebar di Indonesia. Dalam mengembangkan usahanya, Coffee Toffee menawarkan konsep waralaba.
Dasarnya adalah kecocokan karakter mitra dengan nilai perusahaan, sehingga pada akhirnya tercipta hubungan bisnis harmonis antara mitra dengan pe-waralaba. Ia tidak ingin sebuah gerai hanya bertahan selama 5 tahun kemudian tutup.
“Itulah sebabnya, prinsip yang dibangun bersama mitra menjadi penting, bukan semata-mata dinilai dari besaran investasinya,” kata dia.
Coffee Toffee juga menerapkan konsep under management, yaitu siapa saja yang mempunyai modal bisa berinvestasi sedangkan pengelolaan gerainya dilaksanakan oleh manajemen Coffee Toffee dengan sistem profit sharing. Artinya, bila menguntungkan hasilnya dibagi dua dan sebaliknya, apabila rugi maka ditanggung bersama.
Di samping dua sistem di atas, ada beberapa gerai yang merupakan own store kepemilikan Coffee Toffee. Semua kopi yang ada di gerai Coffee Toffee adalah produk Indonesia yang memiliki kualitas premium.
Dengan konsep Go Local All The Way, Coffee Toffee berupaya memaksimalkan penggunaan sumber daya Indonesia terbaik.
“Semua kopi yang disajikan merupakan kopi lokal asal Indonesia, misalnya Java Mocca, Toraja Kalosi, Bali Batukaru, Sumatra Gayo dan Sumatra Linthong. Biji-biji kopi tersebut adalah biji kopi yang sangat dikenal di dunia,” jelas Odi.
Untuk merasakan kenikmatannya di gerai Coffee Toffee, pengunjung tidak perlu membayar mahal. Selain itu, di gerai Coffee Toffee juga disediakan biji kopi yang tidak digiling untuk menjaga rasa, dan ketika ada yang berminat, biji kopi dapat digiling untuk kemudian dibawa pulang.
Raih penghargaan wirausaha Mandiri
Bisnis yang didukung dengan konsep matang tersebut telah membuat Odi Anindito akhirnya terpilih menjadi pemenang pertama pada ajang Wirausaha Muda Mandiri 2011 dengan kategori mahasiswa program pascasarjana dan alumni di bidang usaha boga.
Berkat penghargaan tersebut, Coffee Toffee berkesempatan untuk mendapatkan berbagai bentuk dukungan dari Bank Mandiri, di antaranya dalam bentuk keikutsertaan dalam berbagai ajang pameran tingkat nasional maupun bantuan publikasi di media cetak maupun elektronik.
Hal inilah yang menjadi kekuatan dalam mengampanyekan Coffee Toffee kepada masyarakat penikmat kopi di Indonesia. Apalagi masih banyak orang Indonesia yang rela membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi terbaik yang dijual di gerai kopi terkenal, padahal sebenarnya kopi tersebut berasal dari negeri sendiri.
Bentuk lain dari dukungan yang diberikan Bank Mandiri kepada Coffee Toffee adalah kesempatan untuk mendapatkan pelatihan serta bimbingan dari para motivator terkenal, tak terkecuali pertemuan dengan beberapa CEO perusahaan ternama. Kesempatan ini menurut Odi sangat berharga, karena ia bisa belajar dari banyak orang besar.
Cita-cita merentangkan sayap bisnis ke luar negeri memang ada. Namun demikian, saat ini Odi masih memprioritaskan pengembangan bisnis Coffee Toffee di dalam negeri terlebih dulu.
“Pasar dalam negeri yang saat ini ada masih sangat besar dan belum tergarap secara maksimal,” tuturnya.
Selain di Jakarta dan Surabaya, Coffee Toffee juga telah melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lainnya. Kini 140 lebih gerai Coffee Toffee telah tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera yang mengukuhkan Coffee Toffee sebagai salah satu jaringan kedai kopi lokal terbesar di Indonesia.
(gpr)
Lihat Juga :