Mengawali Maret, IHSG berpotensi menguat
Senin, 03 Maret 2014 - 08:18 WIB
Mengawali Maret, IHSG berpotensi menguat
A
A
A
Sindonews.com - Mengawali perdagangan perdana bulan Maret 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi berpeluang menguat memanfaatkan positifnya sejumlah data ekonomi yang ada.
Pada perdagangan Senin, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4.574-4.592 dan resisten 4.627-4.634.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, IHSG cenderung bertahan di kisaran target resisten 4.578-4.589 dan dapat melampauinya. Peluang kenaikan lanjutan kembali diuji IHSG, namun juga kembali meninggalkan utang gap tipis 4.575-4.579.
"Jika rilis data-data makro di awal pekan dapat sesuai estimasi, maka peluang kenaikan pun dapat terjadi. Jika tidak, tetap mewaspadai potensi downreversal," kata Reza, Senin (3/3/2014).
Menilik lajunya pada perdagangan akhir pekan kemasrin, positifnya laju bursa saham Amerika Serikat (AS) pasca rilis testimoni Janet Yellen dalam pertemuan The Fed jelang akhir pekan cukup memberikan imbas yang positif pada laju bursa saham Asia, terutama IHSG.
Laju bursa saham Asia yang sempat tertahan kenaikannya mulai berbalik menguat seiring adanya aksi beli pada saham-saham properti. IHSG memanfaatkan penguatan tersebut untuk melanjutkan kenaikannya.
"Kondisi inipun sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya dimana tertulis dengan laju IHSG yang mencoba untuk tidak melemah seharusnya membuka peluang kenaikan lanjutan dan IHSG benar-benar memanfaatkan momen positif tersebut," kata Reza.
Meski saham-saham properti tidak seirama dengan laju saham-saham properti China yang menguat, namun dapat diimbangi dengan penguatan pada saham-saham aneka industri, perkebunan, konsumer dan lainnya.
Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level tertinggi 4.620,22 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.579,55 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.620,22.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing masih mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia melanjutkan penguatannya setelah terimbas menghijaunya penutupan laju bursa saham AS dan kembali naiknya saham-saham properti setelah pelaku pasar kembali melakukan aksi belinya.
Di sisi lain, meningkatnya indeks business confidence dan retail sales Korea Selatan serta retail sales, household spending dan industrial production Jepang yang juga meningkat memberikan sentimen cukup positif meski juga diikuti masih merosotnya nilai tukar yuan dan beberapa data yang menunjukkan pelemahan, diantaranya markit manufacturing PMI Jepang dan manufacturing-industrial production Korea Selatan.
Masih berlangsungnya upaya penyelesaian konflik di Ukraina, rilis meningkatnya unemployment rate Italia dan melemahnya business-consumer confidence Slovakia masih menjadi batu penghalang untuk penguatan pada laju bursa saham Eropa sehingga masih berada di zona merah.
Rilis kenaikan penjualan ritel Jerman, peningkatan current account dan turunnya inflasi Spanyol dan stabilnya data inflasi serta unemployment rate zona Eropa belum mampu mengimbangi aksi jual yang terjadi. Apalagi ditambah dengan berita negatif dari emiten, seperti Pearson Plc. dan Aggreko Plc.
Laju bursa saham AS di akhir pekan masih melanjutkan pergerakan positifnya meski dirilis GDP growth rate QoQ di bawah estimasi.
Di sisi lain, rilis data negatif tersebut dapat diimbangi dengan kenaikan Chicago PMI, pending home sales MoM, dan consumer confidence. Hasil testimoni Janet Yellen sebelumnya masih direspon positif bahwa The Fed tetap mendukung pertumbuhan ekonomi AS.
"Dan sentimen positif tersebut juga dapat mengimbangi meningkatnya tensi politik di Ukraina," pungkasnya.
Pada perdagangan Senin, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4.574-4.592 dan resisten 4.627-4.634.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, IHSG cenderung bertahan di kisaran target resisten 4.578-4.589 dan dapat melampauinya. Peluang kenaikan lanjutan kembali diuji IHSG, namun juga kembali meninggalkan utang gap tipis 4.575-4.579.
"Jika rilis data-data makro di awal pekan dapat sesuai estimasi, maka peluang kenaikan pun dapat terjadi. Jika tidak, tetap mewaspadai potensi downreversal," kata Reza, Senin (3/3/2014).
Menilik lajunya pada perdagangan akhir pekan kemasrin, positifnya laju bursa saham Amerika Serikat (AS) pasca rilis testimoni Janet Yellen dalam pertemuan The Fed jelang akhir pekan cukup memberikan imbas yang positif pada laju bursa saham Asia, terutama IHSG.
Laju bursa saham Asia yang sempat tertahan kenaikannya mulai berbalik menguat seiring adanya aksi beli pada saham-saham properti. IHSG memanfaatkan penguatan tersebut untuk melanjutkan kenaikannya.
"Kondisi inipun sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya dimana tertulis dengan laju IHSG yang mencoba untuk tidak melemah seharusnya membuka peluang kenaikan lanjutan dan IHSG benar-benar memanfaatkan momen positif tersebut," kata Reza.
Meski saham-saham properti tidak seirama dengan laju saham-saham properti China yang menguat, namun dapat diimbangi dengan penguatan pada saham-saham aneka industri, perkebunan, konsumer dan lainnya.
Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menyentuh level tertinggi 4.620,22 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.579,55 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.620,22.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing masih mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia melanjutkan penguatannya setelah terimbas menghijaunya penutupan laju bursa saham AS dan kembali naiknya saham-saham properti setelah pelaku pasar kembali melakukan aksi belinya.
Di sisi lain, meningkatnya indeks business confidence dan retail sales Korea Selatan serta retail sales, household spending dan industrial production Jepang yang juga meningkat memberikan sentimen cukup positif meski juga diikuti masih merosotnya nilai tukar yuan dan beberapa data yang menunjukkan pelemahan, diantaranya markit manufacturing PMI Jepang dan manufacturing-industrial production Korea Selatan.
Masih berlangsungnya upaya penyelesaian konflik di Ukraina, rilis meningkatnya unemployment rate Italia dan melemahnya business-consumer confidence Slovakia masih menjadi batu penghalang untuk penguatan pada laju bursa saham Eropa sehingga masih berada di zona merah.
Rilis kenaikan penjualan ritel Jerman, peningkatan current account dan turunnya inflasi Spanyol dan stabilnya data inflasi serta unemployment rate zona Eropa belum mampu mengimbangi aksi jual yang terjadi. Apalagi ditambah dengan berita negatif dari emiten, seperti Pearson Plc. dan Aggreko Plc.
Laju bursa saham AS di akhir pekan masih melanjutkan pergerakan positifnya meski dirilis GDP growth rate QoQ di bawah estimasi.
Di sisi lain, rilis data negatif tersebut dapat diimbangi dengan kenaikan Chicago PMI, pending home sales MoM, dan consumer confidence. Hasil testimoni Janet Yellen sebelumnya masih direspon positif bahwa The Fed tetap mendukung pertumbuhan ekonomi AS.
"Dan sentimen positif tersebut juga dapat mengimbangi meningkatnya tensi politik di Ukraina," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :