Pasar tenaga kerja RI terancam dibanjiri negara ASEAN
Senin, 03 Maret 2014 - 10:37 WIB
Pasar tenaga kerja RI terancam dibanjiri negara ASEAN
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang UKM dan Koperasi Erwin Aksa mengatakan, Indonesia merupakan negara paling berdaya tarik tinggi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.
"Dari segi pasar produk dan jasa, negara kita tidak ada bandingnya. Tidak hanya itu, pasar tenaga kerja kita di industri kecil menengah (IKM) terancam dibanjiri tenaga kerja berupah murah dari negara-negara Indo China, seperti Komboja, Myanmar dan Laos," ujar Erwin dalam rilisnya, Senin (3/3/2014).
Erwin mengatakan, negara-negara tersebut sebagian sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Indonesia. Bagi industri, tentu dapat menjadi kabar gembira karena nantinya industri mampu memperoleh pasar tenaga kerja yang lebih kompetitif.
"Namun dampak sosialnya yang kita tidak mau dan banyak tenaga kerja tidak terdidik kita yang tersingkir. Ini yang harus kita hindari," papar Erwin.
Erwin mencontohkan, dengan pendapatan buruh di Jakarta dan sekitarnya di atas Rp2 juta sebulan, akan menjadi daya tarik bagi buruh dari Laos yang gajinya hanya Rp750.000 per bulan.
"Pendapatan per kapita Laos hanya USD986 per tahun," ujar Erwin.
Selain itu, Indonesia juga akan dibanjiri tenaga kerja terdidik ke IKM dari negara-negara ASEAN yang indeks sumber daya manusia (SDM) di atas Indonesia, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.
"Seperti sandwich, IKM kita ditekan oleh pasar tenaga kerja tidak terlatih dan murah dari bawah oleh negara-negara Indochina dan dari atas kita bisa diserbu juga oleh tenaga kerja terlatih dari negara-negara lebih maju indeks SDMnya di Asean," ujar dia.
Dia menjelaskan bahwa ada survei yang menyebutkan, dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia, hanya sekitar 4,3 persen yang terampil dibandingkan dengan Filipina 8,3 persen, Malaysia 32,6 persen dan Singapura 34,7 persen.
Erwin menuturkan, MEA 2015 merupakan sebuah keniscayaan. Karena itu, MEA 2015 wajib dihadapi dan dipersiapkan dengan baik. Salah satunya dengan mempersiapkan aspek peningkatan kualitas tenaga kerja, pelatihan berbasis kompetensi dan penciptaan hubungan industrial yang kondusif.
Erwin juga menekankan perlunya memaduhkan semua program-program pemberdayaan IKM atau Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menghadapi MEA 2015.
"Sekarang ini kan program-program IKM/UKM ini masih sporadis. Ada 19 Kementerian yang punya program UKM atau IKM. Kadin siap jadi "rumah besar" bagi stakeholder UKM ini supaya kita bisa sama-sama bikin standardisasi dan penguatan UKM," papar Erwin.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukan IKM/UKM di Indonesia sebanyak 55,2 juta atau sebanyak 90 persen dari keseluruhan usaha. Dari jumlah tersebut, baru 21 UKM/IKM yang punya Standard Nasional Indonesia (SNI).
Sedangkan IKM yang masuk dalam criteria good manufacturing practices (GMP) hanya 60 IKM/UKM kriteria hazard analysis critical control point (HCCP) sebanyak 30 IKM, ISO baru sebanyak 57 IKM, standard CE Mark 468 IKM dan barcode baru sebanyak 8 IKM serta Q Seal ada 44 IKM.
"Dari segi pasar produk dan jasa, negara kita tidak ada bandingnya. Tidak hanya itu, pasar tenaga kerja kita di industri kecil menengah (IKM) terancam dibanjiri tenaga kerja berupah murah dari negara-negara Indo China, seperti Komboja, Myanmar dan Laos," ujar Erwin dalam rilisnya, Senin (3/3/2014).
Erwin mengatakan, negara-negara tersebut sebagian sudah mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Indonesia. Bagi industri, tentu dapat menjadi kabar gembira karena nantinya industri mampu memperoleh pasar tenaga kerja yang lebih kompetitif.
"Namun dampak sosialnya yang kita tidak mau dan banyak tenaga kerja tidak terdidik kita yang tersingkir. Ini yang harus kita hindari," papar Erwin.
Erwin mencontohkan, dengan pendapatan buruh di Jakarta dan sekitarnya di atas Rp2 juta sebulan, akan menjadi daya tarik bagi buruh dari Laos yang gajinya hanya Rp750.000 per bulan.
"Pendapatan per kapita Laos hanya USD986 per tahun," ujar Erwin.
Selain itu, Indonesia juga akan dibanjiri tenaga kerja terdidik ke IKM dari negara-negara ASEAN yang indeks sumber daya manusia (SDM) di atas Indonesia, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.
"Seperti sandwich, IKM kita ditekan oleh pasar tenaga kerja tidak terlatih dan murah dari bawah oleh negara-negara Indochina dan dari atas kita bisa diserbu juga oleh tenaga kerja terlatih dari negara-negara lebih maju indeks SDMnya di Asean," ujar dia.
Dia menjelaskan bahwa ada survei yang menyebutkan, dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia, hanya sekitar 4,3 persen yang terampil dibandingkan dengan Filipina 8,3 persen, Malaysia 32,6 persen dan Singapura 34,7 persen.
Erwin menuturkan, MEA 2015 merupakan sebuah keniscayaan. Karena itu, MEA 2015 wajib dihadapi dan dipersiapkan dengan baik. Salah satunya dengan mempersiapkan aspek peningkatan kualitas tenaga kerja, pelatihan berbasis kompetensi dan penciptaan hubungan industrial yang kondusif.
Erwin juga menekankan perlunya memaduhkan semua program-program pemberdayaan IKM atau Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menghadapi MEA 2015.
"Sekarang ini kan program-program IKM/UKM ini masih sporadis. Ada 19 Kementerian yang punya program UKM atau IKM. Kadin siap jadi "rumah besar" bagi stakeholder UKM ini supaya kita bisa sama-sama bikin standardisasi dan penguatan UKM," papar Erwin.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukan IKM/UKM di Indonesia sebanyak 55,2 juta atau sebanyak 90 persen dari keseluruhan usaha. Dari jumlah tersebut, baru 21 UKM/IKM yang punya Standard Nasional Indonesia (SNI).
Sedangkan IKM yang masuk dalam criteria good manufacturing practices (GMP) hanya 60 IKM/UKM kriteria hazard analysis critical control point (HCCP) sebanyak 30 IKM, ISO baru sebanyak 57 IKM, standard CE Mark 468 IKM dan barcode baru sebanyak 8 IKM serta Q Seal ada 44 IKM.
(rna)
Lihat Juga :