Defisit neraca perdagangan berpeluang jadi tren
Rabu, 05 Maret 2014 - 10:57 WIB
Defisit neraca perdagangan berpeluang jadi tren
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar Harry Azhar Azis menilai bahwa defisit berpeluang besar menjadi tren ke depan jika Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak memiliki upaya sistematis untuk menekan laju impor.
"Kalau tidak ada upaya sistematis menekan impor, ini (defisit neraca perdagangan RI) akan berpeluang jadi tren. Ini bukan sekedar sebuah siklus, indikator-indikator ekonomi kita menunjukan kinerja ekspor kita belum mampu mengimbangi derasnya laju impor, ” kata dia dalam rilisnya, Rabu (5/3/2014).
Sekedar mengingatkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) Januari 2014 tercatat defisit sebesar USD430,6 juta. Untuk itu, dia meminya agar Kemendag serius menekan impor, diantaranya dengan mencegah penyelewengan kuota impor.
“Ada pembatasan, ada Permendag, tapi di sistem kuota ini lenturnya bukan main. Kita bocor impornya di sini. Sepertinya ada yang bermain,” ujar Harry.
Parahnya lagi, ujar Harry, sistem kuota ini hanya menguntungkan segelintir orang. Menurut dia, penyelewengan kuota sudah lama merambah impor untuk hortikultura, terutama komoditas pertanian dan bahan pangan. Akibatnya, petani dan konsumen di dalam negeri tidak terlindungi.
Selama ini kenaikan harga-harga pangan terjadi akibat kesenjangan antara penawaran dengan permintaan yang tinggi. Namun, kesenjangan itu, bukannya menguntungkan petani dan industri hortikultura di dalam negeri melainkan importir dan industri negara lain.
“Jadi selain ada penguatan ekspor nonmigas, kita juga harus bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri sebab saat ekspor nonmigas menurun, impor nonmigas malah semakin naik. Artinya, industri di dalam negeri masih lemah,” tutur Harry.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa defisit pada Januari tahun ini terjadi seiring dengan adanya penurunan ekspor pada Januari 2014. Nilai ekspor Januari 2014 mencapai USD14,48 miliar, menurun sebesar 14,63 persen dibandingkan ekspor Desember 2013. Sedangkan impor mencapai USD14,92 miliar.
Sementara menurunnya ekspor dikontribusi dari menurunnya ekspor nonmigas Januari 2014 mencapai USD11,99 miliar atau mengalami penurunan 11,6 persen dibandingkan Desember 2013.
Adapun impor nonmigas Januari 2014 tercatat sebesar USD11,36 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 1,13 persen dibandingkan dengan Desember 2013. Total impor pada Januari 2014 mencapai USD14,92 miliar. Jumlah ini turun 3,50 persen jika dibandingkan impor pada Desember 2013. Sedangkan dibanding Januari 2013, impor turun sebesar 3,46 persen.
Ekspor migas pada Januari 2014 mencapai USD2,496 miliar, sedangkan impor migas mencapai USD3,55 miliar, sehinga defisit migas tercatat sebesar USD1,06 miliar.
"Kalau tidak ada upaya sistematis menekan impor, ini (defisit neraca perdagangan RI) akan berpeluang jadi tren. Ini bukan sekedar sebuah siklus, indikator-indikator ekonomi kita menunjukan kinerja ekspor kita belum mampu mengimbangi derasnya laju impor, ” kata dia dalam rilisnya, Rabu (5/3/2014).
Sekedar mengingatkan, neraca perdagangan Indonesia (NPI) Januari 2014 tercatat defisit sebesar USD430,6 juta. Untuk itu, dia meminya agar Kemendag serius menekan impor, diantaranya dengan mencegah penyelewengan kuota impor.
“Ada pembatasan, ada Permendag, tapi di sistem kuota ini lenturnya bukan main. Kita bocor impornya di sini. Sepertinya ada yang bermain,” ujar Harry.
Parahnya lagi, ujar Harry, sistem kuota ini hanya menguntungkan segelintir orang. Menurut dia, penyelewengan kuota sudah lama merambah impor untuk hortikultura, terutama komoditas pertanian dan bahan pangan. Akibatnya, petani dan konsumen di dalam negeri tidak terlindungi.
Selama ini kenaikan harga-harga pangan terjadi akibat kesenjangan antara penawaran dengan permintaan yang tinggi. Namun, kesenjangan itu, bukannya menguntungkan petani dan industri hortikultura di dalam negeri melainkan importir dan industri negara lain.
“Jadi selain ada penguatan ekspor nonmigas, kita juga harus bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri sebab saat ekspor nonmigas menurun, impor nonmigas malah semakin naik. Artinya, industri di dalam negeri masih lemah,” tutur Harry.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa defisit pada Januari tahun ini terjadi seiring dengan adanya penurunan ekspor pada Januari 2014. Nilai ekspor Januari 2014 mencapai USD14,48 miliar, menurun sebesar 14,63 persen dibandingkan ekspor Desember 2013. Sedangkan impor mencapai USD14,92 miliar.
Sementara menurunnya ekspor dikontribusi dari menurunnya ekspor nonmigas Januari 2014 mencapai USD11,99 miliar atau mengalami penurunan 11,6 persen dibandingkan Desember 2013.
Adapun impor nonmigas Januari 2014 tercatat sebesar USD11,36 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 1,13 persen dibandingkan dengan Desember 2013. Total impor pada Januari 2014 mencapai USD14,92 miliar. Jumlah ini turun 3,50 persen jika dibandingkan impor pada Desember 2013. Sedangkan dibanding Januari 2013, impor turun sebesar 3,46 persen.
Ekspor migas pada Januari 2014 mencapai USD2,496 miliar, sedangkan impor migas mencapai USD3,55 miliar, sehinga defisit migas tercatat sebesar USD1,06 miliar.
(rna)
Lihat Juga :