Jero tagih janji realisasi pembangunan 66 smelter
Jum'at, 07 Maret 2014 - 14:28 WIB
Jero tagih janji realisasi pembangunan 66 smelter
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik mengaku, pihaknya tengah menagih janji realisasi pembangunan 66 semelter di Indonesia sejalan dengan upaya peningkatan nilai ekonomi produk komoditi mineral tanah air.
Jero mengatakan, realisasi ini memiliki arti penting bagi keberlangsungan industri pertambangan tanah air, sekaligus meningkatkan kedaulatan Indonesia di pasar global.
Bahkan, kata Jero, dengan terealisasi 20 smelter saja dari 66 janji pembangunan semelter tersebut, sudah dapat mendongkrak peningkatan mutu barang tambang mineral yang diproduksi di Indonesia.
"Ini saya kejar betul-betul, kalau semuanya selesai enggak perlu 66, 20 saja smelter yang selesai sudah cukup untuk mengolah semua produksi perusahaan tambang-tambang yang kecil," ujar Jero di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (7/3/2014).
Dia mengatakan, dengan teralisasinya 66 smelter tersebut, diharapkan dapat berkontribusi pada perolehan devisa hingga surplus USD100 juta.
"Setelah smelter jadi (ditargetkan 2015), prediksi kita devisa negara dari mineral jadi surplus USD100 juta. Pada 2016 meningkat tajam menjadi USD16 miliar, dan tahun seterusnya meningkat lagi, lebih banyak uang yang kita dapatkan, volume ekspornya makin mengecil tapi harganya tinggi, uang masuk terus," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan volume ekspor pada Januari 2014, karena diberlakukannya pembatasan ekspor mineral mentah, namun pemerintah tetap optimis mulai 2015 keuntungan dari sektor pertambangan akan makin besar.
Namun, Jero menyatakan, keyakinan ini didasari oleh pandangan bahwa ekspor tambang yang dilakukan tidak lagi mentah. Namun telah memiliki nilai keekonomian yang lebih tinggi.
Artinya, kata dia, meski volumenya tidak besar, namun bila dilihat secara nilai akan lebih besar. Pada akhirnya akan menyebabkan devisa ekspor juga semakin besar.
"Memang benar larangan ekspor mineral menyebabkan turunnya devisa. Tahun ini diperkirakan penurunan devisa mencapai USD4 miliar," katanya.
Jero mengatakan, realisasi ini memiliki arti penting bagi keberlangsungan industri pertambangan tanah air, sekaligus meningkatkan kedaulatan Indonesia di pasar global.
Bahkan, kata Jero, dengan terealisasi 20 smelter saja dari 66 janji pembangunan semelter tersebut, sudah dapat mendongkrak peningkatan mutu barang tambang mineral yang diproduksi di Indonesia.
"Ini saya kejar betul-betul, kalau semuanya selesai enggak perlu 66, 20 saja smelter yang selesai sudah cukup untuk mengolah semua produksi perusahaan tambang-tambang yang kecil," ujar Jero di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (7/3/2014).
Dia mengatakan, dengan teralisasinya 66 smelter tersebut, diharapkan dapat berkontribusi pada perolehan devisa hingga surplus USD100 juta.
"Setelah smelter jadi (ditargetkan 2015), prediksi kita devisa negara dari mineral jadi surplus USD100 juta. Pada 2016 meningkat tajam menjadi USD16 miliar, dan tahun seterusnya meningkat lagi, lebih banyak uang yang kita dapatkan, volume ekspornya makin mengecil tapi harganya tinggi, uang masuk terus," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan volume ekspor pada Januari 2014, karena diberlakukannya pembatasan ekspor mineral mentah, namun pemerintah tetap optimis mulai 2015 keuntungan dari sektor pertambangan akan makin besar.
Namun, Jero menyatakan, keyakinan ini didasari oleh pandangan bahwa ekspor tambang yang dilakukan tidak lagi mentah. Namun telah memiliki nilai keekonomian yang lebih tinggi.
Artinya, kata dia, meski volumenya tidak besar, namun bila dilihat secara nilai akan lebih besar. Pada akhirnya akan menyebabkan devisa ekspor juga semakin besar.
"Memang benar larangan ekspor mineral menyebabkan turunnya devisa. Tahun ini diperkirakan penurunan devisa mencapai USD4 miliar," katanya.
(izz)