Sulsel butuh pusat pertumbuhan kota baru
Jum'at, 07 Maret 2014 - 20:58 WIB
Sulsel butuh pusat pertumbuhan kota baru
A
A
A
Sindonews.com - Pemprov Sulawesi Selatan (Sulsel) harus mengupayakan penciptaan pusat pertumbuhan kota baru agar target pendapatan perkapita di tahun 2018 yang mencapai Rp31 juta dapat terealisasi.
Kepala perwakilan bank Indonesia Regional I Sulawesi Papua Maluku (Sulampua) Suhaedi mengatakan, target Pemprov Sulsel untuk mencapai pendapatan perkapita tersebut, hanya akan dicapai jika daerah ini tumbuh dalam kisaran 8,4-8,7 persen.
Sementara perekonomian Sulsel pada 2013 lalu hanya tumbuh 7,65 persen (yoy) dengan pendapatan perkapita saat ini sebesar Rp22,15 juta atau USD2.108,79. Di mana kutub pertumbuhan (pole growth) masih ditopang oleh tiga kota yakni Makassar dengan besaran 33,1 persen, Kota Bone dengan 6,8 persen dan Kabupaten Luwu Timur 6,7 persen.
“Menurut definisi dari World bank, Sulsel termasuk daerah berpendapatan menengah (middle income). Karena itu, jika ingin tumbuh dalam kisaran 8,4-8,7 persen, perlu menciptakan pusat pertumbuhan di kota-kota lain,” ungkapnya, Jumat (7/3/2014).
Dia menambahkan, pada 2014 Sulsel diperkirakan tumbuh pada level 7,0-8,0 persen yoy di mana pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada penyelesaian proyek-proyek infrastruktur baik oleh pemerintah dan perdagangan dengan luar negeri.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulsel Andi Bakti Haruni mengatakan, Pemprov Sulsel saat ini tengah merancang pembangunan kota baru Patalassang Moncong Loe seluas 3.500 hektar, sebagai penyangga strategis Kota Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar (Mamminasata).
Pengerjaan infrastruktur kota baru tersebut seperti jalan dan penyediaan sarana air bersih akan dikerjakan tahun depan dengan menggunakan skema kerja sama pemerintah swasta. Kota baru tersebut juga akan dilengkapi sejumlah fasilitas umum seperti terminal, pasar dan kantor pelayanan serta infrastruktur penunjang lainnya.
“Kota baru tersebut akan mampu menampung hingga 300.000 jiwa yang mampu mengurangi kepadatan di Kawasan Mamminasata terkhusus Kota Makassar. Saat ini kami masih melakukan studi kelayakannya," ungkapnya.
Menurut Bakti Haruni, rencana Pemprov untuk membangunan kota baru itu diharapkan mendapat persetujuan dan dukungan dari pemerintah pusat mengingat proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Mamminasata.
Adapun Kawasan Mamminasata merupakan percontohan pengembangan tata ruang terpadu di Indonesia yang dibentuk berdasarakan Peraturan Presiden No 55 Tahun 2011.
Kepala perwakilan bank Indonesia Regional I Sulawesi Papua Maluku (Sulampua) Suhaedi mengatakan, target Pemprov Sulsel untuk mencapai pendapatan perkapita tersebut, hanya akan dicapai jika daerah ini tumbuh dalam kisaran 8,4-8,7 persen.
Sementara perekonomian Sulsel pada 2013 lalu hanya tumbuh 7,65 persen (yoy) dengan pendapatan perkapita saat ini sebesar Rp22,15 juta atau USD2.108,79. Di mana kutub pertumbuhan (pole growth) masih ditopang oleh tiga kota yakni Makassar dengan besaran 33,1 persen, Kota Bone dengan 6,8 persen dan Kabupaten Luwu Timur 6,7 persen.
“Menurut definisi dari World bank, Sulsel termasuk daerah berpendapatan menengah (middle income). Karena itu, jika ingin tumbuh dalam kisaran 8,4-8,7 persen, perlu menciptakan pusat pertumbuhan di kota-kota lain,” ungkapnya, Jumat (7/3/2014).
Dia menambahkan, pada 2014 Sulsel diperkirakan tumbuh pada level 7,0-8,0 persen yoy di mana pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada penyelesaian proyek-proyek infrastruktur baik oleh pemerintah dan perdagangan dengan luar negeri.
Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulsel Andi Bakti Haruni mengatakan, Pemprov Sulsel saat ini tengah merancang pembangunan kota baru Patalassang Moncong Loe seluas 3.500 hektar, sebagai penyangga strategis Kota Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar (Mamminasata).
Pengerjaan infrastruktur kota baru tersebut seperti jalan dan penyediaan sarana air bersih akan dikerjakan tahun depan dengan menggunakan skema kerja sama pemerintah swasta. Kota baru tersebut juga akan dilengkapi sejumlah fasilitas umum seperti terminal, pasar dan kantor pelayanan serta infrastruktur penunjang lainnya.
“Kota baru tersebut akan mampu menampung hingga 300.000 jiwa yang mampu mengurangi kepadatan di Kawasan Mamminasata terkhusus Kota Makassar. Saat ini kami masih melakukan studi kelayakannya," ungkapnya.
Menurut Bakti Haruni, rencana Pemprov untuk membangunan kota baru itu diharapkan mendapat persetujuan dan dukungan dari pemerintah pusat mengingat proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Mamminasata.
Adapun Kawasan Mamminasata merupakan percontohan pengembangan tata ruang terpadu di Indonesia yang dibentuk berdasarakan Peraturan Presiden No 55 Tahun 2011.
(gpr)
Lihat Juga :