Harga minyak mentah di perdagangan Asia rebound
Selasa, 11 Maret 2014 - 10:31 WIB
Harga minyak mentah di perdagangan Asia rebound
A
A
A
Sindonews.com - Minyak di perdagangan Asia hari ini rebound, meski analis mengatakan harga minyak masih terbebani oleh data perdagangan China lebih lemah dari yang diperkirakan.
Seperti dikutip dari AFP, Selasa (11/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik empat sen menjadi USD101,16 dalam perdagangan pertengahan pagi ini. Minyak mentah Brent North Sea untuk April naik sembilan sen menjadi USD108,17.
Desmond Chua, analis pasar di CMC Singapura mengatakan, data neraca perdagangan China yang turun mengejutkan. Menurutnya, neraca perdagangan China terlemah dalam dua tahun itu memicu kekhawatiran atas pertumbuhan global.
"Hal ini juga diharapkan untuk meredakan beberapa premium minyak mentah dibangun di atas krisis Ukraina," kata Chua.
Angka resmi China yang dirilis pada Sabtu lalu, memperlihatkan kedua ekonomi terbesar dunia tak terduga pada Februari mengalami defisit perdagangan sebesar USD22,98 miliar.
Angka tersebut kontras dengan pada bulan sama tahun lalu yang mengalami surplus hingga USD14,8 miliar, dan perkiraan median dari surplus USD11,9 miliar dalam jajak pendapat dari 13 ekonom oleh Dow Jones Newswires.
Investor juga terus mengawasi ketegangan geopolitik di Ukraina sebagai Dewan Keamanan PBB bertemu lagi pada Senin menyusul permintaan Kiev. PBB telah berusaha untuk meredakan ketegangan sejak Rusia mengerahkan pasukan pekan lalu di Krimea, semenanjung Ukraina setelah pergumulan selama berbulan-bulan atas Ukraina.
Seperti dikutip dari AFP, Selasa (11/3/2014), kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik empat sen menjadi USD101,16 dalam perdagangan pertengahan pagi ini. Minyak mentah Brent North Sea untuk April naik sembilan sen menjadi USD108,17.
Desmond Chua, analis pasar di CMC Singapura mengatakan, data neraca perdagangan China yang turun mengejutkan. Menurutnya, neraca perdagangan China terlemah dalam dua tahun itu memicu kekhawatiran atas pertumbuhan global.
"Hal ini juga diharapkan untuk meredakan beberapa premium minyak mentah dibangun di atas krisis Ukraina," kata Chua.
Angka resmi China yang dirilis pada Sabtu lalu, memperlihatkan kedua ekonomi terbesar dunia tak terduga pada Februari mengalami defisit perdagangan sebesar USD22,98 miliar.
Angka tersebut kontras dengan pada bulan sama tahun lalu yang mengalami surplus hingga USD14,8 miliar, dan perkiraan median dari surplus USD11,9 miliar dalam jajak pendapat dari 13 ekonom oleh Dow Jones Newswires.
Investor juga terus mengawasi ketegangan geopolitik di Ukraina sebagai Dewan Keamanan PBB bertemu lagi pada Senin menyusul permintaan Kiev. PBB telah berusaha untuk meredakan ketegangan sejak Rusia mengerahkan pasukan pekan lalu di Krimea, semenanjung Ukraina setelah pergumulan selama berbulan-bulan atas Ukraina.
(izz)
Lihat Juga :