Sektor pertanian di Sulsel 2013 melambat
Jum'at, 14 Maret 2014 - 14:38 WIB
Sektor pertanian di Sulsel 2013 melambat
A
A
A
Sindonews.com - Sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) tumbuh melambat pada 2013. Sektor ini terkontraksi 1,45 persen secara year on year.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Regional I Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Suhaedi mengatakan, pada 2013 sektor ini tumbuh 3,95 persen, sementara pada 2012 pertumbuhan mencapai 5,40 persen.
Dia menjelaskan, salah satu faktor yang dinilai berpengaruh pada perlambatan tersebut adalah produksi padi di Sulsel yang juga mengalami penurunan. Hal ini salah satunya tercermin dari realisasi pengadaan beras oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Sulselbar yang cenderung lebih rendah dibanding 2012.
"Pada 2013 produksi padi Sulsel di bawah lima juta ton. Sementara pada 2012 angkanya di atas 5 juta ton," kata dia, Jumat (14/3/2014).
Suhaedi mengatakan, khusus triwulan IV 2013, penurunan tingkat produksi padi tidak terjadi secara drastis dan relatif moderat jika dibanding triwulan III. Karena masih adanya panen padi di beberapa daerah seperti Makassar, Soppeng, dan Palopo.
Panen periode September hingga Oktober 2013 tersebut merupakan musim panen raya kedua. Musim panen raya padi pertama biasanya berlangsung pada Maret hingga Mei 2013.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursalam Dalle mengungkapkan, salah satu penyebab perlambatan ekonomi Sulsel karena luas panen padi dan palawija yang sangat kecil akibat sawah puso.
Luasan sawah puso di Sulsel sepanjang 2013 mencapai 27 ribu hektare. Luasan ini meningkat tajam jika dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data BPS Sulsel, sepanjang 2012 sawah puso hanya mencapai 10.306 hektare. Ini menandakan terjadi lonjakan hingga 165 persen.
"Sawah puso lebih disebabkab faktor cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir besar di daerah sentra produksi padi. Sementara kita tahu sektor pertanian sebagai sektor penyumbang nilai tambah terbesar di Sulsel. Tapi ini fenomena alam. Kita tidak bisa berbuat sesuatu," pungkasnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Regional I Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), Suhaedi mengatakan, pada 2013 sektor ini tumbuh 3,95 persen, sementara pada 2012 pertumbuhan mencapai 5,40 persen.
Dia menjelaskan, salah satu faktor yang dinilai berpengaruh pada perlambatan tersebut adalah produksi padi di Sulsel yang juga mengalami penurunan. Hal ini salah satunya tercermin dari realisasi pengadaan beras oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Sulselbar yang cenderung lebih rendah dibanding 2012.
"Pada 2013 produksi padi Sulsel di bawah lima juta ton. Sementara pada 2012 angkanya di atas 5 juta ton," kata dia, Jumat (14/3/2014).
Suhaedi mengatakan, khusus triwulan IV 2013, penurunan tingkat produksi padi tidak terjadi secara drastis dan relatif moderat jika dibanding triwulan III. Karena masih adanya panen padi di beberapa daerah seperti Makassar, Soppeng, dan Palopo.
Panen periode September hingga Oktober 2013 tersebut merupakan musim panen raya kedua. Musim panen raya padi pertama biasanya berlangsung pada Maret hingga Mei 2013.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursalam Dalle mengungkapkan, salah satu penyebab perlambatan ekonomi Sulsel karena luas panen padi dan palawija yang sangat kecil akibat sawah puso.
Luasan sawah puso di Sulsel sepanjang 2013 mencapai 27 ribu hektare. Luasan ini meningkat tajam jika dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan data BPS Sulsel, sepanjang 2012 sawah puso hanya mencapai 10.306 hektare. Ini menandakan terjadi lonjakan hingga 165 persen.
"Sawah puso lebih disebabkab faktor cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir besar di daerah sentra produksi padi. Sementara kita tahu sektor pertanian sebagai sektor penyumbang nilai tambah terbesar di Sulsel. Tapi ini fenomena alam. Kita tidak bisa berbuat sesuatu," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :