Laju bursa saham Asia mengalami tekanan
Sabtu, 15 Maret 2014 - 18:29 WIB
Laju bursa saham Asia mengalami tekanan
A
A
A
Sindonews.com - Berbeda dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tampil perkasa, bursa saham Asia justru melemah dalam sepekan.
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, rilis neraca perdagangan dan outstanding loan growth China serta GDP Jepang yang di bawah estimasi pasar memberikan efek negatif, sehingga laju bursa saham Asia tak kuasa menahan tekanan.
"Pelaku pasar menilai perlambatan masih terjadi dan belum sesuai dengan keinginan mereka. Saham-saham yang mengalami kenaikan akhirnya terkena aksi jual," kata Reza, Sabtu (15/3/2014).
Ditambah dengan kembali melemahnya sejumlah mata uang emerging market memberikan dampak kurang nyaman bagi pelaku pasar, sehingga pelemahan kembali berlanjut.
Rilis suku bunga acuan Bank of Japan (BoJ), yang tetap bertahan di level rendah memberikan sentimen positif dan dapat mengimbangi sentimen negatif dari melemahnya laju bursa saham AS-Eropa sebelumnya. "Pelaku pasar masih menganggap BoJ mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter," imbuh dia.
Selain itu, berkurangnya defisit neraca perdagangan India dan pernyataan Gubernur Bank Sentral China, Zhou Xiaochuan, bahwa tingkat suku bunga deposito akan diliberalisasikan selama 1 hingga 2 tahun dan kemungkinan suku bunga akan naik bertahap seiring berkurangnya pengendalian dari pemerintah turut direspon positif pelaku pasar.
Dirilisnya kenaikan unemployment rate Korea Selatan (Korsel), turunnya consumer confidence Jepang, dan penurunan indeks consumer confidence Australia, yang dibarengi stagnannya data pertumbuhan home loans memberikan imbas negatif pada laju bursa saham Asia.
Di sisi lain, rilis kenaikan BSI large manufacturing Jepang belum mampu meredam sentimen negatif tersebut karena dibarengi meningkatnya nilai tukar yen dan berimbas pada pelemahan bursa saham Asia.
Di saat laju bursa saham Asia kembali melanjutkan laju variatif-melemah, bursa saham China dapat berdiri di zona hijau seiring penilaian positif terhadap rencana otoritas pasar China yang membolehkan perusahaan publik untuk menjual preferred stock-nya.
Di sisi lain, pernyataan PM China, Li Keqiang, pertumbuhan China sebesar 7,5 persen dapat dicapai secara fleksibel turut memberikan sentimen positif bagi laju bursa saham China. "Namun, turunnya retail sales dan industrial production China justru direspon negatif bursa saham Asia lainnya," pungkas Reza.
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, rilis neraca perdagangan dan outstanding loan growth China serta GDP Jepang yang di bawah estimasi pasar memberikan efek negatif, sehingga laju bursa saham Asia tak kuasa menahan tekanan.
"Pelaku pasar menilai perlambatan masih terjadi dan belum sesuai dengan keinginan mereka. Saham-saham yang mengalami kenaikan akhirnya terkena aksi jual," kata Reza, Sabtu (15/3/2014).
Ditambah dengan kembali melemahnya sejumlah mata uang emerging market memberikan dampak kurang nyaman bagi pelaku pasar, sehingga pelemahan kembali berlanjut.
Rilis suku bunga acuan Bank of Japan (BoJ), yang tetap bertahan di level rendah memberikan sentimen positif dan dapat mengimbangi sentimen negatif dari melemahnya laju bursa saham AS-Eropa sebelumnya. "Pelaku pasar masih menganggap BoJ mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter," imbuh dia.
Selain itu, berkurangnya defisit neraca perdagangan India dan pernyataan Gubernur Bank Sentral China, Zhou Xiaochuan, bahwa tingkat suku bunga deposito akan diliberalisasikan selama 1 hingga 2 tahun dan kemungkinan suku bunga akan naik bertahap seiring berkurangnya pengendalian dari pemerintah turut direspon positif pelaku pasar.
Dirilisnya kenaikan unemployment rate Korea Selatan (Korsel), turunnya consumer confidence Jepang, dan penurunan indeks consumer confidence Australia, yang dibarengi stagnannya data pertumbuhan home loans memberikan imbas negatif pada laju bursa saham Asia.
Di sisi lain, rilis kenaikan BSI large manufacturing Jepang belum mampu meredam sentimen negatif tersebut karena dibarengi meningkatnya nilai tukar yen dan berimbas pada pelemahan bursa saham Asia.
Di saat laju bursa saham Asia kembali melanjutkan laju variatif-melemah, bursa saham China dapat berdiri di zona hijau seiring penilaian positif terhadap rencana otoritas pasar China yang membolehkan perusahaan publik untuk menjual preferred stock-nya.
Di sisi lain, pernyataan PM China, Li Keqiang, pertumbuhan China sebesar 7,5 persen dapat dicapai secara fleksibel turut memberikan sentimen positif bagi laju bursa saham China. "Namun, turunnya retail sales dan industrial production China justru direspon negatif bursa saham Asia lainnya," pungkas Reza.
(dmd)
Lihat Juga :