Tanpa keseimbangan, ekonomi RI bakal melambat
Senin, 17 Maret 2014 - 16:56 WIB
Tanpa keseimbangan, ekonomi RI bakal melambat
A
A
A
Sindonews.com - Analis Mandiri Sekuritas John Rachmat mengatakan bahwa perlambatan ekonomi Indonesia masih akan terus berlanjut lantaran tidak ada keseimbangan antara segi politik dan ekonomi.
Bahkan, kata John, bila keseimbangan ini tak terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bakal melambat meskipun saat ini tengah gencar pemberitaan tentang euphoria penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah akibat reaksi pasar terhadap salah satu calon presiden.
"Selama ini kandidat A sebagai pemimpin market friendly. Namun, IHSG akan melorot lagi jika segi politik dan ekonomi negatif, keduanya harus sama-sama positif dan harus bisa menyatu," kata John di Restoran Merah Delima, Jakarta, Senin (17/3).
Menurut dia, tahun politik 2014 dianggap sebagai tahun yang tepat untuk berinvestasi di saham, terlebih jika muncul sosok pemimpin baru yang dipandang market friendly.
"Artinya, sosok yang market friendly ini bisa membuat keyakinan investor bertambah akan kondisi perekonomian ke depan terus tumbuh," jelas dia.
Bank Indonesia (BI) sempat memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berada di kisaran 5,8-6,2 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu tercatat 5,78 persen. Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi negara maju.
Bahkan, kata John, bila keseimbangan ini tak terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bakal melambat meskipun saat ini tengah gencar pemberitaan tentang euphoria penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah akibat reaksi pasar terhadap salah satu calon presiden.
"Selama ini kandidat A sebagai pemimpin market friendly. Namun, IHSG akan melorot lagi jika segi politik dan ekonomi negatif, keduanya harus sama-sama positif dan harus bisa menyatu," kata John di Restoran Merah Delima, Jakarta, Senin (17/3).
Menurut dia, tahun politik 2014 dianggap sebagai tahun yang tepat untuk berinvestasi di saham, terlebih jika muncul sosok pemimpin baru yang dipandang market friendly.
"Artinya, sosok yang market friendly ini bisa membuat keyakinan investor bertambah akan kondisi perekonomian ke depan terus tumbuh," jelas dia.
Bank Indonesia (BI) sempat memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berada di kisaran 5,8-6,2 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu tercatat 5,78 persen. Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi negara maju.
(rna)
Lihat Juga :