Target industri rotan tahun ini naik 8%
Senin, 17 Maret 2014 - 18:48 WIB
Target industri rotan tahun ini naik 8%
A
A
A
Sindonews.com - Industri kerajinan rotan Jawa Timur mulai optimis dalam berusaha. Tahun ini, pelaku industri kerajinan rotan menargetkan kenaikan produksi hingga 8 persen dibanding tahun lalu.
"Sekarang lebih mudah, apalagi kami telah membentuk lembaga yang menjembatani petani dengan industri perajin rotan. Dengan langkah ini, kami yakin kinerja akan bisa ditingkatkan, minimal mencapai 8 persen," kata Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) Jawa Timur, Nurcahyudi, Senin (17/3/2014).
MKenurutnya, meski larangan ekspor bahan mentah sudah diberlakukan sejak 2012, namun akses untuk mendapatkan bahan baku masih sulit. Larangan ekspor rotan mentah tidak serta merta membuka akses bahan baku bagi industri kerajinan rotan dalam negeri.
Seharusnya, kata dia, ketersediaan bahan baku cukup, karena ada larangan ekspos. Ternyata, kesempatan ini tidak diambil pengusaha lokal. Banyak pemilik modal yang menjadi pengepul rotan tidak rela sebab kebijakan tersebut dianggap telah merugikan mereka. Akibatnya, mereka menutup akses dengan menimbun rotan.
"Kondisi ini sangat merugikan kami dan petani rotan. Petani tidak bisa menjual sementara kami tidak bisa mendapatkan bahan baku," terangnya.
Dia menjelaskan, upaya menutupkan akses tersebut dilakukan pengepul karena harga rotan di luar negeri jauh lebih mahal dibanding dalam negeri. Harga rotan di luar negeri mencapai sekitar USD2 per kilogram (kg) atau sekitar Rp22.500 per kg. Sementara, harga rotan dalam negeri mencapai Rp9.000 per kg hingga Rp15.000 per kg.
Padahal, harga rotan ditingkat petani hanya dikisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per kg. Karena itu, keuntungan yang diperoleh ketika menjual di luar negeri sangat besar.
"Inilah yang mengakibatkan mereka mati-matian menggagalkan program ini dan berupaya membuka kembali keran ekspor rotan mentah dengan dalih serapan industri kerajinan rotan dalam negeri sangat kecil yang berdampak pada kerugian petani," paparnya.
Untuk menjembatani persoalan ini, mulai tahun ini AMKRI Jatim bekerja sama dengan Uni Eropa untuk meningkatkan akses sumber bahan baku rotan dengan membentuk Aliansi Bangkit Rotan Indonesia (ABRI).
Lembaga ini bertindak untuk menjembatani petani dengan industri kerajinan rotan untuk memangkas jalur distribusi rotan. Melalui program ini, petani dan industri kerajinan rotan akan terbantu dan diuntungkan.
Sebab, industri bisa dengan mudah mendapatkan bahan baku rotan dengan harga yang lebih rendah sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kg dari biasanya. Sementara, petani rotan juga mendapatkan harga yang lebih baik, yaitu dikisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg.
"Sekarang lebih mudah, apalagi kami telah membentuk lembaga yang menjembatani petani dengan industri perajin rotan. Dengan langkah ini, kami yakin kinerja akan bisa ditingkatkan, minimal mencapai 8 persen," kata Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) Jawa Timur, Nurcahyudi, Senin (17/3/2014).
MKenurutnya, meski larangan ekspor bahan mentah sudah diberlakukan sejak 2012, namun akses untuk mendapatkan bahan baku masih sulit. Larangan ekspor rotan mentah tidak serta merta membuka akses bahan baku bagi industri kerajinan rotan dalam negeri.
Seharusnya, kata dia, ketersediaan bahan baku cukup, karena ada larangan ekspos. Ternyata, kesempatan ini tidak diambil pengusaha lokal. Banyak pemilik modal yang menjadi pengepul rotan tidak rela sebab kebijakan tersebut dianggap telah merugikan mereka. Akibatnya, mereka menutup akses dengan menimbun rotan.
"Kondisi ini sangat merugikan kami dan petani rotan. Petani tidak bisa menjual sementara kami tidak bisa mendapatkan bahan baku," terangnya.
Dia menjelaskan, upaya menutupkan akses tersebut dilakukan pengepul karena harga rotan di luar negeri jauh lebih mahal dibanding dalam negeri. Harga rotan di luar negeri mencapai sekitar USD2 per kilogram (kg) atau sekitar Rp22.500 per kg. Sementara, harga rotan dalam negeri mencapai Rp9.000 per kg hingga Rp15.000 per kg.
Padahal, harga rotan ditingkat petani hanya dikisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per kg. Karena itu, keuntungan yang diperoleh ketika menjual di luar negeri sangat besar.
"Inilah yang mengakibatkan mereka mati-matian menggagalkan program ini dan berupaya membuka kembali keran ekspor rotan mentah dengan dalih serapan industri kerajinan rotan dalam negeri sangat kecil yang berdampak pada kerugian petani," paparnya.
Untuk menjembatani persoalan ini, mulai tahun ini AMKRI Jatim bekerja sama dengan Uni Eropa untuk meningkatkan akses sumber bahan baku rotan dengan membentuk Aliansi Bangkit Rotan Indonesia (ABRI).
Lembaga ini bertindak untuk menjembatani petani dengan industri kerajinan rotan untuk memangkas jalur distribusi rotan. Melalui program ini, petani dan industri kerajinan rotan akan terbantu dan diuntungkan.
Sebab, industri bisa dengan mudah mendapatkan bahan baku rotan dengan harga yang lebih rendah sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kg dari biasanya. Sementara, petani rotan juga mendapatkan harga yang lebih baik, yaitu dikisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg.
(izz)
Lihat Juga :