Akhir pekan waktunya buy on weakness
Jum'at, 21 Maret 2014 - 08:19 WIB
Akhir pekan waktunya buy on weakness
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan berada pada rentang support 4.670-4.685 dan resisten 4.712-4.728.
Pada perdagangan sebelumnya, laju IHSG gagal bertahan di kisaran support 4.800-4.810, sehingga membuka peluang pelemahan lanjutan.
"Tetapi di sisi lain, laju IHSG kembali pada pergerakan normalnya seperti sebelum Jumat pekan lalu karena Jokowi Effect. Jika volume beli mulai meningkat dapat dimanfaatkan untuk buy on weakness," kata Reza, Jumat (21/3/2014).
Apa yang menjadi harapan pelaku pasar dari pertemuan FOMC tidak memberikan imbas negatif, sehingga IHSG pun masih berpeluang menguat nyatanya tidak terjadi.
"Perkiraan kami bahwa Yellen dapat memberikan pernyataan pengurangan stimulus yang lebih halus dan dapat diterima pasar juga tidak terjadi karena pasar langsung merespon negatif," terang Reza.
Dengan respon negatif itulah, lanjut Reza, membuat pasar saham AS dan Eropa bergerak negatif dan berimbas pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar pun memanfaatkan pemberitaan pernyataan Yellen terkait dengan rencana pengurangan stimulus pada musim gugur tahun ini dan kenaikan Fed Rate jika pemulihan ekonomi AS terus berjalan untuk profit taking.
Apalagi laju IHSG telah menguat sangat signfikan di akhir pekan kemarin, sehingga aksi jual pun masih berlanjut. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.808,93 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.691,14 di mid sesi 2 dan berakhir di level 4.698,97.
"Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy," papar dia.
Dari luar negeri, turunnya sejumlah mata uang emerging market turut mempengaruhi laju sejumlah bursa saham Asia yang kembali melanjutkan pelemahan. Pelaku pasar pun juga memanfaatkan pernyataan Gubernur The Fed tersebut untuk melakukan aksi jual.
Sentimen yang sama turut mempengaruhi laju bursa saham Eropa yang melanjutkan pergerakan negatifnya. Masih negatifnya pertumbuhan PPI Jerman dan turunnya consumer confidence Belanda serta masih negatifnya current account Italia turut menambah sentimen negatif.
Laju bursa futures AS yang masih melanjutkan pelemahan memberikan indikasi akan pelemahan yang kemungkinan akan melanda bursa saham AS. Selain itu, kembali naiknya klaim pengangguran juga turut menambah sentimen negatif.
Pada perdagangan sebelumnya, laju IHSG gagal bertahan di kisaran support 4.800-4.810, sehingga membuka peluang pelemahan lanjutan.
"Tetapi di sisi lain, laju IHSG kembali pada pergerakan normalnya seperti sebelum Jumat pekan lalu karena Jokowi Effect. Jika volume beli mulai meningkat dapat dimanfaatkan untuk buy on weakness," kata Reza, Jumat (21/3/2014).
Apa yang menjadi harapan pelaku pasar dari pertemuan FOMC tidak memberikan imbas negatif, sehingga IHSG pun masih berpeluang menguat nyatanya tidak terjadi.
"Perkiraan kami bahwa Yellen dapat memberikan pernyataan pengurangan stimulus yang lebih halus dan dapat diterima pasar juga tidak terjadi karena pasar langsung merespon negatif," terang Reza.
Dengan respon negatif itulah, lanjut Reza, membuat pasar saham AS dan Eropa bergerak negatif dan berimbas pada laju bursa saham Asia, termasuk IHSG.
Pelaku pasar pun memanfaatkan pemberitaan pernyataan Yellen terkait dengan rencana pengurangan stimulus pada musim gugur tahun ini dan kenaikan Fed Rate jika pemulihan ekonomi AS terus berjalan untuk profit taking.
Apalagi laju IHSG telah menguat sangat signfikan di akhir pekan kemarin, sehingga aksi jual pun masih berlanjut. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.808,93 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.691,14 di mid sesi 2 dan berakhir di level 4.698,97.
"Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy," papar dia.
Dari luar negeri, turunnya sejumlah mata uang emerging market turut mempengaruhi laju sejumlah bursa saham Asia yang kembali melanjutkan pelemahan. Pelaku pasar pun juga memanfaatkan pernyataan Gubernur The Fed tersebut untuk melakukan aksi jual.
Sentimen yang sama turut mempengaruhi laju bursa saham Eropa yang melanjutkan pergerakan negatifnya. Masih negatifnya pertumbuhan PPI Jerman dan turunnya consumer confidence Belanda serta masih negatifnya current account Italia turut menambah sentimen negatif.
Laju bursa futures AS yang masih melanjutkan pelemahan memberikan indikasi akan pelemahan yang kemungkinan akan melanda bursa saham AS. Selain itu, kembali naiknya klaim pengangguran juga turut menambah sentimen negatif.
(rna)
Lihat Juga :