Rupiah diproyeksi masih akan tertekan
Jum'at, 21 Maret 2014 - 08:47 WIB
Rupiah diproyeksi masih akan tertekan
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, rupiah tampaknya belum memiliki cukup kekuatan untuk bergerak menguat atas dolar Amerika Serikat (USD) yang tengah gagah bercokol memanfaatkan sentimen pertemuan FOMC.
"Laju rupiah tetap berada dalam zona merahnya sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya, di mana jelang pertemuan FOMC dan sesudahnya memang membuat laju USD terapresiasi. Laju rupiah di bawah level support Rp11.330 per USD. Rentang Rupiah hari ini di kisaran Rp11.425-11.390 mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Jumat (21/3/2014).
Laju USD makin menguat setelah Gubernur The Fed Janet Yellen memberikan sinyal pengurangan lebih cepat dan peluang untuk kenaikan suku bunga Fed Rate. Belum cukup dengan sentimen yang telah menguatkan USD tersebut hadir pula sentimen negatif dari regional yang juga membuat rupiah tak berkutik.
"Pelemahan yuan setelah PboC menurunkan kurs referensi turut berimbas pada pelemahan laju nilai tukar mata uang emerging market, termasuk rupiah," tegasnya.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.407 per USD atau melemah 94 poin dibanding penutupan Rabu (19/3/2014) di level Rp11.313 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.446 per USD. Posisi ini terdepresiasi mencapai 131 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.315 per USD.
"Laju rupiah tetap berada dalam zona merahnya sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya, di mana jelang pertemuan FOMC dan sesudahnya memang membuat laju USD terapresiasi. Laju rupiah di bawah level support Rp11.330 per USD. Rentang Rupiah hari ini di kisaran Rp11.425-11.390 mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Jumat (21/3/2014).
Laju USD makin menguat setelah Gubernur The Fed Janet Yellen memberikan sinyal pengurangan lebih cepat dan peluang untuk kenaikan suku bunga Fed Rate. Belum cukup dengan sentimen yang telah menguatkan USD tersebut hadir pula sentimen negatif dari regional yang juga membuat rupiah tak berkutik.
"Pelemahan yuan setelah PboC menurunkan kurs referensi turut berimbas pada pelemahan laju nilai tukar mata uang emerging market, termasuk rupiah," tegasnya.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp11.407 per USD atau melemah 94 poin dibanding penutupan Rabu (19/3/2014) di level Rp11.313 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada pada level Rp11.446 per USD. Posisi ini terdepresiasi mencapai 131 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp11.315 per USD.
(rna)