Volume beli terbatas, IHSG diprediksi variatif
Selasa, 25 Maret 2014 - 08:17 WIB
Volume beli terbatas, IHSG diprediksi variatif
A
A
A
Sindonews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan akan bergerak cenderung variatif berada pada rentang support 4.685-4.700 dan resisten 4.736-4.750 merujuk posisinya yang berada di atas target support, namun di bawah target resisten.
"Laju IHSG berada di atas support 4.664 dan di bawah resisten 4.744, yang memberikan gambaran potensi masih variatifnya IHSG meski juga menyimpan peluang untuk melanjutkan kenaikan. Volume beli masih terbatas. IHSG pun diharapkan masih dapat menguat terbatas menyesuaikan dengan sentimen yang ada," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (25/3/2014).
Menilika lajunya di awal pekan, tampak IHSG masih dapat melanjutkan laju positifnya seiring sentimen masih menguatnya laju bursa saham utama Asia dan diikuti penguatan pada bursa saham Asia lainnya.
Pelaku pasar masih memanfaatkan rendahnya harga mayoritas saham untuk kembali masuk. Tetapi, masih adanya aksi profit taking tidak menjadikan penguatan IHSG bernilai signifikan. Bahkan secara intraday perdagangan, laju IHSG cenderung sideways.
Beberapa saham yang sebelumnya melemah kembali diburu pelaku pasar, antara lain SMGR, LPPF, BBRI, dan lainnya. Selain itu, juga ada beberapa saham yang masih melanjutkan kenaikannya, antara lain TOWR, INTP, AALI dan lainnya.
IHSG pun mendapat tambahan sentimen positif dari laju rupiah yang mampu berbalik menguat setelah merespon kesiapan pemerintah dan BI dalam menghadapi kebijakan moneter the Fed.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.727,62 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.695,36 di mid sesi 1 dan berakhir di level 4.720,42.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia hampir mayoritas berada di zona hijau meski sempat membuat khawatir akan potensi terjadinya pelemahan setelah laju bursa saham AS berbalik melemah pasca S&P500 menyentuh rekor tertingginya.
Bahkan rilis lebih rendah indeks HSBC manufacturing PMI China juga tidak membuat laju bursa saham Asia, terutama China terkoreksi. Pelaku pasar menilai positif pernyataan salah satu pejabat PboC bahwa kemungkinan Pemerintah akan melakukan pelonggaran kebijakan dan melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi China.
Potensi kelanjutkan pergerakan positif gagal tercapai bursa saham Eropa di awal perdagangan seiring dengan respon negatif pelaku pasar terhadap potensi meningkatnya tensi geopolitik di Ukraina-Rusia serta turunnya indeks manufaktur China.
Positifnya rilis kenaikan markit company PMI, manufacturing PMI dan services PMI Perancis tertutupi oleh penurunan indeks yang sama yang terjadi di Jerman dan zona Eropa.
Laju bursa saham AS tidak seirama dengan laju bursa saham Asia dan Eropa yang berakhir menghijau. Adanya pemberitaan terkait pengawasan harga obat oleh pemerintah AS membuat saham-saham farmasi berguguran dan memimpin pelemahan.
Di sisi lain, pelemahan terjadi seiring adanya profit taking setelah indeks S&P500 menyentuh rekor terbarunya dan kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi geopolitik setelah Rusia menyatakan dengan keras menolak sanksi yang akan diberikan Eropa dan AS.
"Laju IHSG berada di atas support 4.664 dan di bawah resisten 4.744, yang memberikan gambaran potensi masih variatifnya IHSG meski juga menyimpan peluang untuk melanjutkan kenaikan. Volume beli masih terbatas. IHSG pun diharapkan masih dapat menguat terbatas menyesuaikan dengan sentimen yang ada," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Selasa (25/3/2014).
Menilika lajunya di awal pekan, tampak IHSG masih dapat melanjutkan laju positifnya seiring sentimen masih menguatnya laju bursa saham utama Asia dan diikuti penguatan pada bursa saham Asia lainnya.
Pelaku pasar masih memanfaatkan rendahnya harga mayoritas saham untuk kembali masuk. Tetapi, masih adanya aksi profit taking tidak menjadikan penguatan IHSG bernilai signifikan. Bahkan secara intraday perdagangan, laju IHSG cenderung sideways.
Beberapa saham yang sebelumnya melemah kembali diburu pelaku pasar, antara lain SMGR, LPPF, BBRI, dan lainnya. Selain itu, juga ada beberapa saham yang masih melanjutkan kenaikannya, antara lain TOWR, INTP, AALI dan lainnya.
IHSG pun mendapat tambahan sentimen positif dari laju rupiah yang mampu berbalik menguat setelah merespon kesiapan pemerintah dan BI dalam menghadapi kebijakan moneter the Fed.
Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level tertinggi 4.727,62 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.695,36 di mid sesi 1 dan berakhir di level 4.720,42.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia hampir mayoritas berada di zona hijau meski sempat membuat khawatir akan potensi terjadinya pelemahan setelah laju bursa saham AS berbalik melemah pasca S&P500 menyentuh rekor tertingginya.
Bahkan rilis lebih rendah indeks HSBC manufacturing PMI China juga tidak membuat laju bursa saham Asia, terutama China terkoreksi. Pelaku pasar menilai positif pernyataan salah satu pejabat PboC bahwa kemungkinan Pemerintah akan melakukan pelonggaran kebijakan dan melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi China.
Potensi kelanjutkan pergerakan positif gagal tercapai bursa saham Eropa di awal perdagangan seiring dengan respon negatif pelaku pasar terhadap potensi meningkatnya tensi geopolitik di Ukraina-Rusia serta turunnya indeks manufaktur China.
Positifnya rilis kenaikan markit company PMI, manufacturing PMI dan services PMI Perancis tertutupi oleh penurunan indeks yang sama yang terjadi di Jerman dan zona Eropa.
Laju bursa saham AS tidak seirama dengan laju bursa saham Asia dan Eropa yang berakhir menghijau. Adanya pemberitaan terkait pengawasan harga obat oleh pemerintah AS membuat saham-saham farmasi berguguran dan memimpin pelemahan.
Di sisi lain, pelemahan terjadi seiring adanya profit taking setelah indeks S&P500 menyentuh rekor terbarunya dan kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi geopolitik setelah Rusia menyatakan dengan keras menolak sanksi yang akan diberikan Eropa dan AS.
(rna)
Lihat Juga :