Neraca perdagangan RI Februari diyakini surplus
Sabtu, 29 Maret 2014 - 20:16 WIB
Neraca perdagangan RI Februari diyakini surplus
A
A
A
Sindonews.com - Setelah mengalami defisit cukup besar pada Januari 2014 hingga USD430,6 juta, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mencatatkan surplus pada Februari. Bahkan, nilai surplusnya bisa menembus USD615 juta.
“Kami perkirakan ada perbaikan di ekspor, sementara impor terus menurun. Dengan itu, neraca perdagangan akan kembali mencatatkan surplus cukup siginifkan sekitar USD615 juta,” papar Anton Gunawan, kepala ekonom Bank Danamon dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/3/2014).
Anton menjelaskan nilai ekspor Indonesia masih dibayang-bayangi dampak larangan ekspor mineral mentah yang diberlakukan per 12 Januari 2014. Namun, di sisi lain ada peningkatan permintaan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil) dan batu bara. Peningkatan permintaan CPO juga berimbas pada membaiknya harga CPO sehingga nilai ekspor menguat dibandingkan Januari.
“Kami juga memperkirakan ada perbaikan nilai ekspor dari minyak bumi menyusul meningkatnya produksi minyak setelah sebelumnya menurun akibat cuaca buruk,” ujarnya.
Selain itu, ekspor produk manufaktur juga diprediksi meningkat menyusul bertambahnya ekspor kendaraan bermotor. Ekspor Indonesia ke berbagai negara, seperti China, Singapura, dan Taiwan diproyeksi meningkat. Sebaliknya, ekspor ke Jepang dan Korea menurun. Namun, hal ini bisa dikompensasi perbaikan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa yang ekonominya beranjak pulih.
“Impor diperkirakan akan terus menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan disebabkan oleh belum pulih sepenuhnya aktivitas ekonomi, nilai tukar yang dianggap masih tinggi serta tingginya suku bunga,” tandas Anton.
“Kami perkirakan ada perbaikan di ekspor, sementara impor terus menurun. Dengan itu, neraca perdagangan akan kembali mencatatkan surplus cukup siginifkan sekitar USD615 juta,” papar Anton Gunawan, kepala ekonom Bank Danamon dalam keterangan tertulisnya, Jumat (28/3/2014).
Anton menjelaskan nilai ekspor Indonesia masih dibayang-bayangi dampak larangan ekspor mineral mentah yang diberlakukan per 12 Januari 2014. Namun, di sisi lain ada peningkatan permintaan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil) dan batu bara. Peningkatan permintaan CPO juga berimbas pada membaiknya harga CPO sehingga nilai ekspor menguat dibandingkan Januari.
“Kami juga memperkirakan ada perbaikan nilai ekspor dari minyak bumi menyusul meningkatnya produksi minyak setelah sebelumnya menurun akibat cuaca buruk,” ujarnya.
Selain itu, ekspor produk manufaktur juga diprediksi meningkat menyusul bertambahnya ekspor kendaraan bermotor. Ekspor Indonesia ke berbagai negara, seperti China, Singapura, dan Taiwan diproyeksi meningkat. Sebaliknya, ekspor ke Jepang dan Korea menurun. Namun, hal ini bisa dikompensasi perbaikan ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa yang ekonominya beranjak pulih.
“Impor diperkirakan akan terus menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan disebabkan oleh belum pulih sepenuhnya aktivitas ekonomi, nilai tukar yang dianggap masih tinggi serta tingginya suku bunga,” tandas Anton.
(dmd)
Lihat Juga :