Soal kenaikan harga BBM, pemerintah belum punya sikap
Senin, 07 April 2014 - 11:10 WIB
Soal kenaikan harga BBM, pemerintah belum punya sikap
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Keuangan M Chatib Basri menegaskan, pemerintah belum memutuskan apapun terkait kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Kendati demikian, dia mengakui pemerintah terus melakukan kajian terkait upaya pengurangan belanja subsidi BBM bersubsidi, termasuk diantaranya apakah dengan menaikkan harga atau memilih melakukan kebijakan subsidi tetap per liter, bukan subsidi harga seperti saat ini.
“Belum ada pembicaraan apapun, apa akan menaikkan harga BBM atau nggak. Ini sedang dilihat secara hati-hati. Kita akan lihat kalau subsidi tetap implikasinya apa, kalau naikan harga bagaimana? Inflasinya seperti apa?” tutur Chatib dalam diskusi ‘Menyongsong Peta Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia’ di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/4/2014).
Chatib menambahkan, salah satu pertimbangan yang diperhatikan sebelum memberlakukan kebijakan BBM bersubsidi adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD. Dia mengingatkan, jika rupiahnya terus menguat maka pemberlakuan subsidi tetap tidak akan terlalu berpengaruh atau menekan belanja subsidi. Pasalnya, anggaran yang dikeluarkan untuk membeli BBM tidak akan terlalu besar.
Sebagai catatan, pada akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014, rupiah terus mengalami pelemahan cukup tajam hingga menembus Rp12.000 per USD, tetapi kemudian menguat sejak pertengahan Februari dan berada di kisaran Rp11.000 per USD. Nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap besaran belanja subsidi karena sebagian besar BBM masih diimpor dengan menggunakan USD.
“Harga BBM akan turun kalau rupiah terus apresiasi. Kalau rupiahnya menguat terus, maka kebijakan subsidi tetap, pengurangan subsidinya tidak banyak,” tandas dia.
Pekan lalu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan harapannya bahwa harga BBM akan dinaikkan pada tahun ini. Pasalnya, belanja subsiid BBM dikhawatirkan akan membengkak akibat peningkatan konsumsi.
“Tapi jangan hilangkan kemungkinan itu (kenaikan harga pada tahun ini) karena tadi itu bahwa kita mesti melihat secara hati-hati semua implikasinya,” tandas Chatib.
Sebagai informasi, belanja BBM bersubsidi pada 2014 ditetapkan sebesar Rp210,6 triliun. Subsidi tersebut ditetapkan dengan menggunakan sejumlah parameter seperti harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD105 per barel, nilai tukar sebesar Rp10.500 per USD, lifting minyak sebanyak 870 ribu barel per hari serta kuota konsumsi sebanyak 48 juta kiloliter (KL). Namun baru menginjak bulan ke empat di tahun 2014, hampir semua asumsi meleset.
Harga ICP misalnya, dalam tiga bulan (Januari-Maret) rata-ratanya sudah menembus USD106,26 USD. Harga ICP bahkan terus menunjukan tren peningkatan sejak Januari. Sementara itu, nilai tukar berada di kisaran Rp11.200 per USD dan lifting minyak diperkirakan hanya 830 ribu-840 ribu barel per hari pada tahun ini.
Kendati demikian, dia mengakui pemerintah terus melakukan kajian terkait upaya pengurangan belanja subsidi BBM bersubsidi, termasuk diantaranya apakah dengan menaikkan harga atau memilih melakukan kebijakan subsidi tetap per liter, bukan subsidi harga seperti saat ini.
“Belum ada pembicaraan apapun, apa akan menaikkan harga BBM atau nggak. Ini sedang dilihat secara hati-hati. Kita akan lihat kalau subsidi tetap implikasinya apa, kalau naikan harga bagaimana? Inflasinya seperti apa?” tutur Chatib dalam diskusi ‘Menyongsong Peta Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia’ di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/4/2014).
Chatib menambahkan, salah satu pertimbangan yang diperhatikan sebelum memberlakukan kebijakan BBM bersubsidi adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD. Dia mengingatkan, jika rupiahnya terus menguat maka pemberlakuan subsidi tetap tidak akan terlalu berpengaruh atau menekan belanja subsidi. Pasalnya, anggaran yang dikeluarkan untuk membeli BBM tidak akan terlalu besar.
Sebagai catatan, pada akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014, rupiah terus mengalami pelemahan cukup tajam hingga menembus Rp12.000 per USD, tetapi kemudian menguat sejak pertengahan Februari dan berada di kisaran Rp11.000 per USD. Nilai tukar rupiah sangat berpengaruh terhadap besaran belanja subsidi karena sebagian besar BBM masih diimpor dengan menggunakan USD.
“Harga BBM akan turun kalau rupiah terus apresiasi. Kalau rupiahnya menguat terus, maka kebijakan subsidi tetap, pengurangan subsidinya tidak banyak,” tandas dia.
Pekan lalu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan harapannya bahwa harga BBM akan dinaikkan pada tahun ini. Pasalnya, belanja subsiid BBM dikhawatirkan akan membengkak akibat peningkatan konsumsi.
“Tapi jangan hilangkan kemungkinan itu (kenaikan harga pada tahun ini) karena tadi itu bahwa kita mesti melihat secara hati-hati semua implikasinya,” tandas Chatib.
Sebagai informasi, belanja BBM bersubsidi pada 2014 ditetapkan sebesar Rp210,6 triliun. Subsidi tersebut ditetapkan dengan menggunakan sejumlah parameter seperti harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar USD105 per barel, nilai tukar sebesar Rp10.500 per USD, lifting minyak sebanyak 870 ribu barel per hari serta kuota konsumsi sebanyak 48 juta kiloliter (KL). Namun baru menginjak bulan ke empat di tahun 2014, hampir semua asumsi meleset.
Harga ICP misalnya, dalam tiga bulan (Januari-Maret) rata-ratanya sudah menembus USD106,26 USD. Harga ICP bahkan terus menunjukan tren peningkatan sejak Januari. Sementara itu, nilai tukar berada di kisaran Rp11.200 per USD dan lifting minyak diperkirakan hanya 830 ribu-840 ribu barel per hari pada tahun ini.
(rna)
Lihat Juga :