Rupiah diperkirakan tembus Rp12.000-12.500/USD
Jum'at, 11 April 2014 - 19:11 WIB
Rupiah diperkirakan tembus Rp12.000-12.500/USD
A
A
A
Sindonews.com - Ekonom Bank Danamon, Anton Hendranata mengingatkan adanya ancaman pelemahan nilai tukar rupiah pada periode Mei-Juni 2014. Pelemahan rupiah bahkan bisa menembus Rp12.000-12.500/USD.
"Volatilitas rupiah mungkin akan naik hingga bergerak di kisaran Rp12.000-12.500/USD karena adanya siklus musiman akibat tingginya permintaan dolar di Mei-Juni," kata dia dalam rilisnya, Jumat (11/4/2014).
Namun, lanjut Anton, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut diperkirakan hanya sementara. Rupiah akan kembali ke titik fundamentalnya menjelang akhir tahun. "Namun, kami memproyeksikan rupiah akan menguat dan berada di level Rp11.058/USD di akhir tahun," imbuhnya.
Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengakui kemungkinan pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp12.500/USD pada Mei-Juni memang ada. Pasalnya, banyak perusahaan yang harus membayar utang jatuh tempo sehingga permintaan USD bakal meningkat. Namun, semuanya masih sangat tergantung pada data perekonomian pada periode tersebut.
"Kemungkinan (Rp12.000-12.500/USD) itu kan selalu ada, tapi tergantung pada data itu. Data current account kita, trade balance," ujar Bambang di kantor Kementerian Keuangan, hari ini.
Sebagai informasi, pada Mei-Juni 2013, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan sangat signifikan dari kisaran Rp9.500/USD menjadi di kisaran Rp10.000/USD.
Kondisi tersebut dipicu defisit transaksi berjalan kuartal II/2013 sebesar 4,4 persen terhadap PDB (produk doemstik bruto), defisit neraca perdagangan Juni sebesar USD846,6 juta serta berkurangnya pasokan dolar di pasaran akibat tingginya permintaan menjelang pembayaran utang jatuh tempo.
Namun, Bambang mengingatkan dibandingkan Mei-Juni tahun lalu, data perekonomian tahun ini lebih baik. Dengan surplus neraca perdagangan yang terjadi pada Februari 2014, pasokan dolar juga akan lebih memadai.
"Current account deficit-nya mungkin menyentuh 3 persen terhadap PDB tetapi tidak sampai seperti 4 persen sekian seperti tahun lalu. Pasokan dolar saya pikir dengan ekspor yang baik akan lebih banyak tersedia," ucapnya.
Mengingat ancaman pelemahan nilai tukar rupiah tersebut, Bambang berharap paket kebijakan III utamanya mengenai reaptriasi sudah bisa dikeluarkan sebelum Mei.
Sebagai informasi, pemerintah berencana mengeluarkan paket kebijakan tahap III. Salah satu kebijakan tersebut adalah pencegahan repatriasi laba ke luar negeri serta relaksasi ta holiday. Perusahaan yang menanamkan modalnya kembali di Indonesia akan diberikan insentif.
Langkah tersebut diharapkan bisa meningkatkan minat perusahaan untuk menanamkan modalnya kembali di Indonesia, mencegah repatriasi laba keluar negeri sekaligus menahan dolar di dalam negeri. "Mudah-mudahan insentif mengenai repatriasi sudah bisa keluar pada periode itu," pungkas dia.
"Volatilitas rupiah mungkin akan naik hingga bergerak di kisaran Rp12.000-12.500/USD karena adanya siklus musiman akibat tingginya permintaan dolar di Mei-Juni," kata dia dalam rilisnya, Jumat (11/4/2014).
Namun, lanjut Anton, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut diperkirakan hanya sementara. Rupiah akan kembali ke titik fundamentalnya menjelang akhir tahun. "Namun, kami memproyeksikan rupiah akan menguat dan berada di level Rp11.058/USD di akhir tahun," imbuhnya.
Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengakui kemungkinan pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp12.500/USD pada Mei-Juni memang ada. Pasalnya, banyak perusahaan yang harus membayar utang jatuh tempo sehingga permintaan USD bakal meningkat. Namun, semuanya masih sangat tergantung pada data perekonomian pada periode tersebut.
"Kemungkinan (Rp12.000-12.500/USD) itu kan selalu ada, tapi tergantung pada data itu. Data current account kita, trade balance," ujar Bambang di kantor Kementerian Keuangan, hari ini.
Sebagai informasi, pada Mei-Juni 2013, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan sangat signifikan dari kisaran Rp9.500/USD menjadi di kisaran Rp10.000/USD.
Kondisi tersebut dipicu defisit transaksi berjalan kuartal II/2013 sebesar 4,4 persen terhadap PDB (produk doemstik bruto), defisit neraca perdagangan Juni sebesar USD846,6 juta serta berkurangnya pasokan dolar di pasaran akibat tingginya permintaan menjelang pembayaran utang jatuh tempo.
Namun, Bambang mengingatkan dibandingkan Mei-Juni tahun lalu, data perekonomian tahun ini lebih baik. Dengan surplus neraca perdagangan yang terjadi pada Februari 2014, pasokan dolar juga akan lebih memadai.
"Current account deficit-nya mungkin menyentuh 3 persen terhadap PDB tetapi tidak sampai seperti 4 persen sekian seperti tahun lalu. Pasokan dolar saya pikir dengan ekspor yang baik akan lebih banyak tersedia," ucapnya.
Mengingat ancaman pelemahan nilai tukar rupiah tersebut, Bambang berharap paket kebijakan III utamanya mengenai reaptriasi sudah bisa dikeluarkan sebelum Mei.
Sebagai informasi, pemerintah berencana mengeluarkan paket kebijakan tahap III. Salah satu kebijakan tersebut adalah pencegahan repatriasi laba ke luar negeri serta relaksasi ta holiday. Perusahaan yang menanamkan modalnya kembali di Indonesia akan diberikan insentif.
Langkah tersebut diharapkan bisa meningkatkan minat perusahaan untuk menanamkan modalnya kembali di Indonesia, mencegah repatriasi laba keluar negeri sekaligus menahan dolar di dalam negeri. "Mudah-mudahan insentif mengenai repatriasi sudah bisa keluar pada periode itu," pungkas dia.
(izz)