Rupiah Terapresiasi 2,19% pada Pekan Ini
Minggu, 13 Juli 2014 - 13:29 WIB
Rupiah Terapresiasi 2,19% pada Pekan Ini
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) sepanjang pekan ini mengalami apresiasi sebesar 260 poin atau 2,19%.
Dirangkum dari data di situs resmi Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap USD pada Jumat (4/7/2014) pekan lalu berada pada level Rp11.887 per USD. Kemudian pada Senin (7/7/2014) pekan ini, rupiah menguat sebesar 100 poin menjadi Rp11.787 per USD.
Selanjutnya, posisi rupiah pada Selasa (8/7/2014) makin menguat ke bawah level 11.700 per USD. Rupiah membaik 92 poin menjadi Rp11.695/USD. Sempat libur pemilihan presiden (pilpres) pada Rabu (9/7/2014), penguatan rupiah berlanjut pada Kamis (10/7/2014), di mana rupiah kembali terangkat signifikan mencapai 149 poin ke level Rp11.549/USD.
Sama halnya dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), setelah menguat pasca pilpres, namun pada Jumat (11/7/2014), rupiah terkoreksi. Pada akhir perdagangan pekan ini, rupiah melemah 78 poin menjadi Rp11.627 per USD.
Posisi rupiah terakhir menguat di bawah level Rp11.600 per USD pada 23 Mei 2014. Pada hari itu, rupiah berada pada level Rp11.560 per USD dan sehari sebelumnya atau pada 22 Mei 2014 berada di level Rp11.515 per USD. Sementara rupiah sempat mengalami koreksi terdalam pada 27 Juni 2014, di mana rupiah berada di level Rp12.103 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, komentar Direktur IMF Christine Lagarde bahwa masih adanya potensi pemangkasan rating pertumbuhan ekonomi global tidak memberi imbas signifikan pada rupiah meski mata uang emerging market mengalami pelemahan.
Menurut dia, apresiasi rupiah didukung rilis cadangan devisa akhir Juni yang mencapai USD107,7 miliar atau meningkat dibanding Mei senilai USD107 miliar.
"Berlangsungnya pemilihan presiden (pilpres) yang aman, damai, lancar dan terkendali dan suksenya penyerapan surat utang negara (SUN) dalam lelang menambah sentimen positif bagi laju rupiah," kata dia, Minggu (13/7/2014).
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang masih mempertahankan suku bunga (BI rate) di level 7,5% turut menambah sentimen positif. Namun, menurut Reza, aksi ambil untung (profit taking) yang melanda pasar valuta asin (valas) dan imbas turunnya euro membuat rupiah melemah di akhir pekan.
Dirangkum dari data di situs resmi Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap USD pada Jumat (4/7/2014) pekan lalu berada pada level Rp11.887 per USD. Kemudian pada Senin (7/7/2014) pekan ini, rupiah menguat sebesar 100 poin menjadi Rp11.787 per USD.
Selanjutnya, posisi rupiah pada Selasa (8/7/2014) makin menguat ke bawah level 11.700 per USD. Rupiah membaik 92 poin menjadi Rp11.695/USD. Sempat libur pemilihan presiden (pilpres) pada Rabu (9/7/2014), penguatan rupiah berlanjut pada Kamis (10/7/2014), di mana rupiah kembali terangkat signifikan mencapai 149 poin ke level Rp11.549/USD.
Sama halnya dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), setelah menguat pasca pilpres, namun pada Jumat (11/7/2014), rupiah terkoreksi. Pada akhir perdagangan pekan ini, rupiah melemah 78 poin menjadi Rp11.627 per USD.
Posisi rupiah terakhir menguat di bawah level Rp11.600 per USD pada 23 Mei 2014. Pada hari itu, rupiah berada pada level Rp11.560 per USD dan sehari sebelumnya atau pada 22 Mei 2014 berada di level Rp11.515 per USD. Sementara rupiah sempat mengalami koreksi terdalam pada 27 Juni 2014, di mana rupiah berada di level Rp12.103 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, komentar Direktur IMF Christine Lagarde bahwa masih adanya potensi pemangkasan rating pertumbuhan ekonomi global tidak memberi imbas signifikan pada rupiah meski mata uang emerging market mengalami pelemahan.
Menurut dia, apresiasi rupiah didukung rilis cadangan devisa akhir Juni yang mencapai USD107,7 miliar atau meningkat dibanding Mei senilai USD107 miliar.
"Berlangsungnya pemilihan presiden (pilpres) yang aman, damai, lancar dan terkendali dan suksenya penyerapan surat utang negara (SUN) dalam lelang menambah sentimen positif bagi laju rupiah," kata dia, Minggu (13/7/2014).
Selain itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang masih mempertahankan suku bunga (BI rate) di level 7,5% turut menambah sentimen positif. Namun, menurut Reza, aksi ambil untung (profit taking) yang melanda pasar valuta asin (valas) dan imbas turunnya euro membuat rupiah melemah di akhir pekan.
(rna)