Peternak Sapi Keluhkan Tingginya Harga Pakan

Rabu, 23 Juli 2014 - 17:58 WIB
Peternak Sapi Keluhkan...
Peternak Sapi Keluhkan Tingginya Harga Pakan
A A A
BANDUNG - Para peternak sapi mengeluhkan semakin tingginya harga pakan sapi perah, padalah kontribusi pemberian pakan ternak cukup besar yakni hingga 70%. Kondisi ini berpengaruh terhadap kualitas susu sapi.

Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) mencatat, kenaikan harga pakan ternak sepanjang kuartal I/2014 hingga 5%. Kenaikan ini terus terjadi sejak 2013 dan membuat biaya produksi peternak menjadi membengkak.

"Tidak sedikit peternak yang memberi makan sapinya dengan pakan yang dicampur bahan baku murah, karena harga pakannya naik terus. Akibatnya, kandungan nutrisi susu menjadi sangat minim," ujar Ketua GKSI Dedi Setiadi, Rabu (23/7/2014).

Kenaikan harga pakan ini dipicu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih stabil tinggi. Pasalnya, bahan baku pembuatan pakan tersebut masih bergantung dari impor seperti jagung dan bungkil kedelai.

"Saya harap pemerintah membuat kebijakan yang bisa memicu kestabilan harga pakan agar tidak memberatkan para peternak. Misalnya dengan pemberian insentif agar peternak sapi lebih termotivasi kembali untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas susu," katanya.

Dedi menerangkan, kenaikan harga pakan sapi bervariatif, tergantung jenis dan bahan bakunya. Misalnya white polar mengalami kenaikan dari Rp2.700/kg menjadi Rp2.850/kg, kopra dari Rp2.800/kg menjadi Rp3.300/kg, serta dedak dari Rp2.500/kg menjadi Rp2.700/kg.

Selain itu, ketersediaan pakan yang diperkirakan tidak akan mencukupi selama masa Lebaran juga dikeluhkan para peternak. Pada momen Lebaran, dibutuhkan banyak stok pakan sapi perah, sedangkan pasokan cukup terhenti akibat adanya libur.

"Meski begitu, kami terus berupaya menyediakan pakan ternak bagi para peternak secara maksimal agar mencukupi kebutuhan selama Lebaran. Kami akan tetap mencari stok pakan ke beberapa daerah agar mencukupi kebutuhan," jelas dia.

Pihaknya merasa senang dengan harga susu sapi yang dipasok ke industri pengolahan susu (IPS) saat ini mencapai Rp4.600 hingga Rp5.000/liter. Angka ini meningkat dibanding periode sama tahun lalu yang berkutat pada level Rp3.300 hingga Rp3.900/liter.

"Peningkatan harga susu ke IPS patut disyukuri, meskipun di sisi lain terbilang percuma juga. Mengingat biaya produksi yang dikeluarkan para peternak juga tetap tinggi dengan terus meningkatnya harga pakan," imbuhnya.

Dinas Peternakan (Disnak) Jawa Barat membenarkan ketergantungan pembelian bahan baku pakan ternak terutama konsentrat jenis polar yang masih impor. Pasalnya, selama ini Indonesia masih belum bisa memproduksi di dalam negeri.

"Saat ini masih belum ada bahan baku pengganti yang bisa diproduksi di dalam negeri yang sesuai dengan standar. Akibatnya, mereka harus tetap mengimpor untuk pembuatan pakan ternak," ujar Kepala Disnak Jabar Doddy Firman Nugraha.

Dia menjamin akan terus berupaya meringankan biaya produksi para peternak dengan meminimalisasi ketergantungan bahan baku pakan ternak.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wow BEEF Membangun Pusat...
Wow BEEF Membangun Pusat Peternakan Terintegrasi di Subang Kapasitas 28.000 Ton
Jelang Purna Tugas,...
Jelang Purna Tugas, Puluhan Polisi Kembangkan Minat Berternak
Bulukumba Optimalkan...
Bulukumba Optimalkan Potensi Sektor Peternakan Lewat Kampung Sapi
Telur Tetas Asal Klaten...
Telur Tetas Asal Klaten Terbang ke Vietnam, Sektor Perunggasan Tumbuh Positif
Warga Pagenggang Lebak...
Warga Pagenggang Lebak Apresiasi Peternakan Sistem Close House
Tidak Punya Izin, Peternakan...
Tidak Punya Izin, Peternakan Babi di Klaten Ditutup Sat Pol PP
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
9 menit yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
6 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
6 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
6 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
8 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
8 jam yang lalu
Infografis
Harga Emas Diramal akan...
Harga Emas Diramal akan Tembus Rp2,1 Juta per Gram
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved