Laju Obligasi Pekan Depan Diproyeksi Masih Melemah
Minggu, 10 Agustus 2014 - 18:37 WIB
Laju Obligasi Pekan Depan Diproyeksi Masih Melemah
A
A
A
JAKARTA - Laju obligasi pada pekan depan diproyeksi masih akan bergerak variatif dengan potensi masih melanjutkan pelemahan seiring belum adanya sentimen positif.
Kendati demikian, menurut Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA) Reza Priyambada, jika jika data-data ekonomi global direspon positif dan sentimen lainnya mendukung, maka laju obligasi dapat bergerak menguat meski tipis.
"Jika kondisinya dapat positif, maka diperkirakan laju pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 45-60 bps (basis points)," kata dia, Minggu (10/8/2014).
Namun, jika sebaliknya maka harga obligasi pun akan terkoreksi karena aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar mengamankan posisi terhadap kondisi yang mengkhawatirkan dengan potensi pelemahan hingga minimal rerata 100-125 bps.
Untuk itu, dia menyarankan pelaku pasar tetap mencermati perubahan sentimen yang ada, terutama dari sisi laju nilai tukar rupiah dan rilis data-data global.
"Tetaplah bersikap rasional dan tidak terlalu panik berlebihan," saran dia.
Sementara sepanjang pekan ini, maraknya sentimen negatif membuat laju pasar obligasi cenderung menurun, terutama setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data-data ekonominya. Meski rilis inflasi yang nantinya berkaitan dengan suku bunga cenderung stabil dan dinilai masih inline dengan pasar, namun sentimen dari rilis neraca perdagangan kurang dapat direspon dengan baik.
Tidak hanya itu, dia menambahkan, pelaku pasar cenderung mengamankan posisi setelah melihat laju pasar obligasi global juga tidak terlalu baik. Tercatat mayoritas obligasi masih mengalami penurunan harga, sehingga berpengaruh pada kenaikan yield. Mayoritas harga pada setiap tenor terlihat menurun dan yield-nya tampak meningkat.
Pola bullish yang terbentuk di pasar SUN domestik dipekan sebelumnya yang didukung oleh hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI yang sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar, mulai terganggu oleh maraknya sentimen negatif. Kondisi pasar obligasi turut diperparah dengan penilaian berlebihan terhadap penyelenggaraan sidang MK terkait indikasi dugaan pelanggaran PilPres sehingga muncul kembali risiko ketidakpastian.
Sementara pemerintah pada pekan depan akan kembali melelang tiga seri Sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp1,5 triliun pada 12 Agustus 2014. Tiga seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S13022015 (penerbitan baru), seri PBS005 (penjualan kembali) dan seri PBS006 (penjualan kembali).
Seri SPN-S13022015 memberikan imbalan secara diskonto, underlying asset barang milik negara berupa tanah dan bangunan. SBSN ini akan jatuh tempo pada 13 Februari 2015.
Kendati demikian, menurut Sekretaris Umum Forum Komunikasi Certified Securities Analyst (CSA) Reza Priyambada, jika jika data-data ekonomi global direspon positif dan sentimen lainnya mendukung, maka laju obligasi dapat bergerak menguat meski tipis.
"Jika kondisinya dapat positif, maka diperkirakan laju pasar obligasi dapat bergerak menguat dengan minimal perubahan harga obligasi rerata sebanyak 45-60 bps (basis points)," kata dia, Minggu (10/8/2014).
Namun, jika sebaliknya maka harga obligasi pun akan terkoreksi karena aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar mengamankan posisi terhadap kondisi yang mengkhawatirkan dengan potensi pelemahan hingga minimal rerata 100-125 bps.
Untuk itu, dia menyarankan pelaku pasar tetap mencermati perubahan sentimen yang ada, terutama dari sisi laju nilai tukar rupiah dan rilis data-data global.
"Tetaplah bersikap rasional dan tidak terlalu panik berlebihan," saran dia.
Sementara sepanjang pekan ini, maraknya sentimen negatif membuat laju pasar obligasi cenderung menurun, terutama setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data-data ekonominya. Meski rilis inflasi yang nantinya berkaitan dengan suku bunga cenderung stabil dan dinilai masih inline dengan pasar, namun sentimen dari rilis neraca perdagangan kurang dapat direspon dengan baik.
Tidak hanya itu, dia menambahkan, pelaku pasar cenderung mengamankan posisi setelah melihat laju pasar obligasi global juga tidak terlalu baik. Tercatat mayoritas obligasi masih mengalami penurunan harga, sehingga berpengaruh pada kenaikan yield. Mayoritas harga pada setiap tenor terlihat menurun dan yield-nya tampak meningkat.
Pola bullish yang terbentuk di pasar SUN domestik dipekan sebelumnya yang didukung oleh hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI yang sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar, mulai terganggu oleh maraknya sentimen negatif. Kondisi pasar obligasi turut diperparah dengan penilaian berlebihan terhadap penyelenggaraan sidang MK terkait indikasi dugaan pelanggaran PilPres sehingga muncul kembali risiko ketidakpastian.
Sementara pemerintah pada pekan depan akan kembali melelang tiga seri Sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp1,5 triliun pada 12 Agustus 2014. Tiga seri SBSN yang akan dilelang adalah seri SPN-S13022015 (penerbitan baru), seri PBS005 (penjualan kembali) dan seri PBS006 (penjualan kembali).
Seri SPN-S13022015 memberikan imbalan secara diskonto, underlying asset barang milik negara berupa tanah dan bangunan. SBSN ini akan jatuh tempo pada 13 Februari 2015.
(rna)
Lihat Juga :