Pasca Lebaran Harga Emas di Semarang Naik Rp5.000
Rabu, 13 Agustus 2014 - 18:44 WIB
Pasca Lebaran Harga Emas di Semarang Naik Rp5.000
A
A
A
SEMARANG - Harga Emas dan perhiasa pasca lebaran mengalami kenaikan antara Rp4.000 hingga Rp5.000 per gramnya. Kenaikan tersebut akibat nilai tukar rupiah yang terus melemah, dan kondisi politik di Indonesia yang masih belum menentu.
Pemilik Toko Emas Semar Nusantara di Kranggan, Vanya Gotama mengungkapkan, kenaikan tersebut sudah terjadi sejak seminggu terakhir ini.
Dia mengatakan, saat ini harga emas dengan kadar 75% harganya mencapai Rp425.000/gram atau naik Rp4.000 per gramnya dibanding sebelum Lebaran. Kondisi serupa juga terjadi emas dengan kadar 50% atau emas muda yaitu Rp260.000/gram dari semula Rp256.000/gram.
“Kemungkinan kenaikan harga emas masih akan berlangsung apabila situasi Pilpres masih memanas,” ujarnya, Rabu (13/8/2014).
Dia mengaku, dengan kenaikan harga emas tersebut berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk melakukan pembelian emas. “Penjualan turun banyak,” akunya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Kota Semarang, Bambang Yuwono menambahkan, kenaikan emas memang tidak bisa diprediksi, karena harga emas selalu bergerak menyesuaikan harga emas dunia. “Harga emas diprediksi akan terus meningkat,” katanya.
Dia mengaku, dengan naiknya harga emas tersebut menjadikan omzet penjualan mengalami penurunan. Penurunan ini selain karena harganya yang terus naik, namun juga karena saat ini minat masyarakat terutama perkotaan untuk investasi perhiasan emas mengalami penurunan.
Justru, kata Dia, masyarakat pedesaanlah yang masih banyak melakukan investasi dalam bentuk emas. ”Orang-orang perkotaan, sekarang lebih memilih gadget, ketimbang emas. Berbeda dengan orang-orang desa, mereka setiap kali panen selalu menyisakan uang mereka untuk berinvestasi emas,” jelasnya.
Padahal, sambung Bambang, investasi emas merupakan investasi yang paling aman, karena harganya yang stabil, kalaupun ada peningkatan atau penurunan tidak akan terlalu tinggi.
Dia menjelaskan, sejak bulan Januari hingga saat ini penjualan emas baru mengalami peningkatan hanya pada saat menjelang Lebaran, selebihnya selalu mengalami penurunan. ”Penjualan emas tidak bisa diprediksi, kadang ramai kadang sepi,” pungkasnya.
Pemilik Toko Emas Semar Nusantara di Kranggan, Vanya Gotama mengungkapkan, kenaikan tersebut sudah terjadi sejak seminggu terakhir ini.
Dia mengatakan, saat ini harga emas dengan kadar 75% harganya mencapai Rp425.000/gram atau naik Rp4.000 per gramnya dibanding sebelum Lebaran. Kondisi serupa juga terjadi emas dengan kadar 50% atau emas muda yaitu Rp260.000/gram dari semula Rp256.000/gram.
“Kemungkinan kenaikan harga emas masih akan berlangsung apabila situasi Pilpres masih memanas,” ujarnya, Rabu (13/8/2014).
Dia mengaku, dengan kenaikan harga emas tersebut berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk melakukan pembelian emas. “Penjualan turun banyak,” akunya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Kota Semarang, Bambang Yuwono menambahkan, kenaikan emas memang tidak bisa diprediksi, karena harga emas selalu bergerak menyesuaikan harga emas dunia. “Harga emas diprediksi akan terus meningkat,” katanya.
Dia mengaku, dengan naiknya harga emas tersebut menjadikan omzet penjualan mengalami penurunan. Penurunan ini selain karena harganya yang terus naik, namun juga karena saat ini minat masyarakat terutama perkotaan untuk investasi perhiasan emas mengalami penurunan.
Justru, kata Dia, masyarakat pedesaanlah yang masih banyak melakukan investasi dalam bentuk emas. ”Orang-orang perkotaan, sekarang lebih memilih gadget, ketimbang emas. Berbeda dengan orang-orang desa, mereka setiap kali panen selalu menyisakan uang mereka untuk berinvestasi emas,” jelasnya.
Padahal, sambung Bambang, investasi emas merupakan investasi yang paling aman, karena harganya yang stabil, kalaupun ada peningkatan atau penurunan tidak akan terlalu tinggi.
Dia menjelaskan, sejak bulan Januari hingga saat ini penjualan emas baru mengalami peningkatan hanya pada saat menjelang Lebaran, selebihnya selalu mengalami penurunan. ”Penjualan emas tidak bisa diprediksi, kadang ramai kadang sepi,” pungkasnya.
(gpr)
Lihat Juga :