Rupiah Diproyeksi pada Kisaran Rp11.600-Rp11.800
Minggu, 24 Agustus 2014 - 19:07 WIB
Rupiah Diproyeksi pada Kisaran Rp11.600-Rp11.800
A
A
A
JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti memproyeksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berada pada kisaran Rp11.600 hingga Rp11.800 per USD.
"Mestinya dengan kondisi sekarang, rupiah yang disebabkan fundamental berkurang. Sudah ada kejelasan dan kepastian bahwa pemerintah ke depan sudah jelas. Jadi, satu ketidakpastian sudah nggak," terang dia kepada Sindonews, Minggu (24/8/2014).
Lebih lanjut dia mengatakan, yang perlu diperhatikan saat ini adalah kabinet bentukan pemerintah mendatang akan seperti apa. Pasalnya, investor dan pasar akan melihat sosok yang akan duduk di kabinet mendatang apakah orang yang kredibel dan memiliki kemampuan atau sebaliknya.
"Tapi terlepas dari hal itu, paling tidak ada satu ketidakpastian yang hilang, dan dia mengurangi tekanan terhadap rupiah. Range rupiah Rp11.600-Rp11.800. Range-nya lebih turun ke bawah, kalau melihat kayak gini sih sebenarnya agak turun Rp11.500-Rp11.700. Most likely, rupiah berada di level Rp11.600," sebut Destry.
Sementara dari faktor luar, lanjut Destry, kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan lebih cepat tetap menjadi perhatian. Meskipun The Fed belum secara resmi menyatakan hal tersebut.
"Jadi market masih menunggu kira-kira arahnya ke mana. Seandainya pun kalau ada kenaikan, tapi investor dan pasar sudah menduga hal itu, sehingga tidak akan menimbulkan suatu gejolak," paparnya.
Selain itu, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga perlu diperhatikan sebab konflik yang terus terjadi berpotensi mengakibatkan harga minyak dunia melonjak, yang kemudian berimbas kepada harga impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini gencar dilakukan Indonesia.
"Yang juga menjadi fokus adalah konflik di middle east karena kalau misalnya makin memburuk, pengaruhnya ke harga minyak dan BBM. Kan pergerakan pasar kita tergantung ke harga minyak. Buat Indonesia, ekonomi kita sangat tergantung dengan hal itu," pungkasnya.
"Mestinya dengan kondisi sekarang, rupiah yang disebabkan fundamental berkurang. Sudah ada kejelasan dan kepastian bahwa pemerintah ke depan sudah jelas. Jadi, satu ketidakpastian sudah nggak," terang dia kepada Sindonews, Minggu (24/8/2014).
Lebih lanjut dia mengatakan, yang perlu diperhatikan saat ini adalah kabinet bentukan pemerintah mendatang akan seperti apa. Pasalnya, investor dan pasar akan melihat sosok yang akan duduk di kabinet mendatang apakah orang yang kredibel dan memiliki kemampuan atau sebaliknya.
"Tapi terlepas dari hal itu, paling tidak ada satu ketidakpastian yang hilang, dan dia mengurangi tekanan terhadap rupiah. Range rupiah Rp11.600-Rp11.800. Range-nya lebih turun ke bawah, kalau melihat kayak gini sih sebenarnya agak turun Rp11.500-Rp11.700. Most likely, rupiah berada di level Rp11.600," sebut Destry.
Sementara dari faktor luar, lanjut Destry, kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan lebih cepat tetap menjadi perhatian. Meskipun The Fed belum secara resmi menyatakan hal tersebut.
"Jadi market masih menunggu kira-kira arahnya ke mana. Seandainya pun kalau ada kenaikan, tapi investor dan pasar sudah menduga hal itu, sehingga tidak akan menimbulkan suatu gejolak," paparnya.
Selain itu, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga perlu diperhatikan sebab konflik yang terus terjadi berpotensi mengakibatkan harga minyak dunia melonjak, yang kemudian berimbas kepada harga impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini gencar dilakukan Indonesia.
"Yang juga menjadi fokus adalah konflik di middle east karena kalau misalnya makin memburuk, pengaruhnya ke harga minyak dan BBM. Kan pergerakan pasar kita tergantung ke harga minyak. Buat Indonesia, ekonomi kita sangat tergantung dengan hal itu," pungkasnya.
(rna)