Harga Avtur di Indonesia 13% Lebih Tinggi

Jum'at, 05 September 2014 - 20:34 WIB
Harga Avtur di Indonesia...
Harga Avtur di Indonesia 13% Lebih Tinggi
A A A
JAKARTA - Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Arif Wibowo mengungkap, harga avtur di Indonesia saat ini lebih tinggi 13% dibanding negara-negara seperti Singapura dan Malaysia.

Bahkan sebagai perbandingan, negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand telah membebaskan bea masuk atas komponen pesawat demi menunjang keberlangsungan industri penerbangannya.

“Sementara di Indonesia sendiri masih menerapkan bea masuk suku cadang pesawat dengan kisaran 5-7%,” kata dia saat konfernsi pers di Jakarta, Jumat (5/9/2014).

Dia menjelaskan, harga avtur dan suku cadang memiliki kontribusi besar terhadap operasional maskapai penerbangan. “Ini karena bea masuk untuk suku cadang pesawat juga sangat penting kedua setelah avtur. Kalau avtur sekitar 50% mungkin suku cadang bisa sekitar 20%,“ ungkap dia.

Dia melanjutkan, sekitar 85% biaya operasional pesawat bergantung pada dolar. Biaya untuk membeli komponen bisa mencapai 25% dari beban operasional. Sedangkan biaya avtur mencapai 45-50% biaya operasional penerbangan.

Menurutnya, importir komponen selama ini menanggung bea masuk 7%-8% dari harga komponen. Padahal harga komponen pesawat relatif mahal, terlebih ditengah nilai tukar rupiah yang melorot atas dolar AS. “Jadi quick-win-nya dengan cara segera dikeluarkan bea masuk untuk suku cadang sebesar 0%,” harapnya.

Anggota Pengurus INACA Capt Dharmadi menambahkan, industri penerbangan merupakan industri strategis, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Akan tetapi, perusahaan penerbangan perlu berhati-hati dan efisien untuk menyiasati depresiasi rupiah dan harga avtur yang tinggi. “Untuk itu perlu kebijakan yang strategis pula. Dalam pandangan INACA, saat ini pemerintah semestinya mengeluarkan kebijakan yang lebih terkoordinir tidak sektoral,” tambahnya.

INACA berharap, pemerintahan yang baru bisa memberikan perhatian yang lebih serius. Dengan adanya kebijakan yang lebih berpihak bagi bisnis airlines maka akan meningkatkan daya saing penerbangan nasional dalam menghadapi ASEAN Community 2015 sekaligus mendorong tumbuhnya industri startegis di sektor penerbangan.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kerja Sama Mendukung...
Kerja Sama Mendukung Pertumbuhan Industri Penerbangan Helikopter di Indonesia
Tekad Pelaku Industri...
Tekad Pelaku Industri Penerbangan Non-Airline Pasca Asian Sky Forum 2024
Software Autocad Hadirkan...
Software Autocad Hadirkan Teknologi Peta 3D untuk Penerbangan
Kapan Bisnis Penerbangan...
Kapan Bisnis Penerbangan Pulih? Ini Proyeksi Moody's
Industri Penerbangan...
Industri Penerbangan RI Diramal Masih Sempoyongan Tahun Ini
Ini Alasan Mengapa Jendela...
Ini Alasan Mengapa Jendela Pesawat Memiliki Bentuk Oval
Berita Terkini
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
12 menit yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
1 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
1 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Berbalik Merayap Naik Rp3 Ribu per Gram, Intip Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
DJP Gandeng Babinsa...
DJP Gandeng Babinsa dan Bhabinkamtibmas Awasi Pajak: Hanya Pendamping, Tak Perlu Khawatir
3 jam yang lalu
60 Negara Jadi Sasaran...
60 Negara Jadi Sasaran Tarif Baru Trump, Termasuk Sekutu Dekat AS!
4 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved