IHSG Diprediksi Rawan Profit Taking
Selasa, 09 September 2014 - 07:51 WIB
IHSG Diprediksi Rawan Profit Taking
A
A
A
JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diprediksi berpotensi melemah karena akan rawan aksi ambil untung (profit taking) lantaran telah menembus rekor baru berulang kali.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola shooting star dekati upper bollinger band (UBB). MACD kembali mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, Stochastic, dan William’s %R berbalik naik.
Kemarin, laju IHSG mampu bertahan di atas target resisten 5.228-5.235. Meski terjadi kenaikan hingga menyentuh rekor tertingginya, namun juga meninggalkan utang gap 5.224-5.241, sehingga akan rawan adanya profit taking.
"Apalagi dari historikalnya, laju IHSG biasanya cenderung menurun setelah menyentuh new high record," kata dia, Selasa (9/9/2014).
Dia memprediksi, IHSG hari ini akan berada pada rentang support 5.230-5.239 dan resisten 5.255-5.265.
Kemarin, laju IHSG didukung sentimen positif terutama imbas pergerakan laju bursa saham Asia setelah China merilis surplus neraca perdagangannya yang dibarengi dengan adannya spekulasi akan adanya dana asing dari pasar keuangan Eropa setelah ECB memutuskan menurunkan suku bunganya.
Selain itu, sentimen dari dalam negeri berupa kenaikan cadangan devisa yang diikuti terapresiasinya nilai tukar rupiah dan nett buy asing memberikan tambahan amunisi positif bagi IHSG untuk melanjutkan kenaikannnya.
"Meski terdapat penilaian imbas dari penurunan suku bunga akan membuat aliran dana asing dari Eropa belum sepenuhnya benar, untuk sementara kami melihatnya sebagai spekulasi antisipasi kebijakan tersebut," tutur dia.
Dengan penurunan suku bunga ECB rate, menurut dia, akan membuat nilai mata uang ruro akan melemah dan tentu akan direspon negatif oleh rupiah meski dalam jangka panjang kebijakan tersebut akan positif jika diimbangi dengan perbaikan ekonomi Eropa.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 5.262,57 di mid sesi 1 dan menyentuh level terendah 5241,14 di awal sesi 1 dan berakhir di level 5.246,48.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola shooting star dekati upper bollinger band (UBB). MACD kembali mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, Stochastic, dan William’s %R berbalik naik.
Kemarin, laju IHSG mampu bertahan di atas target resisten 5.228-5.235. Meski terjadi kenaikan hingga menyentuh rekor tertingginya, namun juga meninggalkan utang gap 5.224-5.241, sehingga akan rawan adanya profit taking.
"Apalagi dari historikalnya, laju IHSG biasanya cenderung menurun setelah menyentuh new high record," kata dia, Selasa (9/9/2014).
Dia memprediksi, IHSG hari ini akan berada pada rentang support 5.230-5.239 dan resisten 5.255-5.265.
Kemarin, laju IHSG didukung sentimen positif terutama imbas pergerakan laju bursa saham Asia setelah China merilis surplus neraca perdagangannya yang dibarengi dengan adannya spekulasi akan adanya dana asing dari pasar keuangan Eropa setelah ECB memutuskan menurunkan suku bunganya.
Selain itu, sentimen dari dalam negeri berupa kenaikan cadangan devisa yang diikuti terapresiasinya nilai tukar rupiah dan nett buy asing memberikan tambahan amunisi positif bagi IHSG untuk melanjutkan kenaikannnya.
"Meski terdapat penilaian imbas dari penurunan suku bunga akan membuat aliran dana asing dari Eropa belum sepenuhnya benar, untuk sementara kami melihatnya sebagai spekulasi antisipasi kebijakan tersebut," tutur dia.
Dengan penurunan suku bunga ECB rate, menurut dia, akan membuat nilai mata uang ruro akan melemah dan tentu akan direspon negatif oleh rupiah meski dalam jangka panjang kebijakan tersebut akan positif jika diimbangi dengan perbaikan ekonomi Eropa.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 5.262,57 di mid sesi 1 dan menyentuh level terendah 5241,14 di awal sesi 1 dan berakhir di level 5.246,48.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
(rna)
Lihat Juga :