Pengusaha Batu Bara Perkecil Stripping Ratio

Selasa, 09 September 2014 - 11:26 WIB
Pengusaha Batu Bara...
Pengusaha Batu Bara Perkecil Stripping Ratio
A A A
SAMARINDA - Industri batu bara sedang mengalami penurunan dari masa kejayaannya. Selain harganya yang terus turun di pasar global, importir batu bara dari negara lain juga terus berkurang.

China yang dulunya menjadi pusat ekspor batu bara, kini mulai bergeser ke India. Lesunya harga batu bara yang kembali terjadi terus memaksa para pengusaha batu bara mencari celah agar tetap untung. Demikian pula yang dilakukan pengusaha batu bara di Kalimantan Timur (Kaltim).

Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Samarinda, Eko Priatno mengatakan, guna menyiasati hal ini, pengusaha terpaksa memperkecil stripping ratio hingga berada di angka 5-8.

"Stripping ratio sendiri merupakan perbandingan biaya penambangan bawah tanah dengan penambangan terbuka. Artinya, berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh bila endapan batu bara tersebut ditambang secara tambang terbuka," katanya, Selasa (9/9/2014).

Pada dasarnya, jika terjadi kenaikan harga batu bara di pasaran, maka akan dapat mengakibatkan perluasan tambang sehingga cadangan akan bertambah. Sebaliknya jika harga batu bara turun, maka jumlah cadangan akan berkurang.

"Kuncinya sederhana. Kalau harga naik stripping ratio-nya dibesarin, kalau harga lesu ya dikecilkan. Artinya produksi jadi sedikit. Kalau produksi jadi sedikit, penggunaan alat tentu berkurang, bahan bakar juga berkurang dan operator (tenaga kerja) juga berkurang," tuturnya.

Efisiensi, berupa pengurangan produksi yang berimbas pada pengurangan tenaga kerja dan alat diakui Eko sudah berlangsung sejak dua tahun belakanga ini, sejak perekonomian dunia goyah. "Sudah lama, sejak akhir 2012," ujarnya.

Eko menjelaskan hal yang sama juga terjadi di tempat perusahaannya bekerja. "Karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sudah banyak, yang di rumahkan juga lebih banyak dan, yang dikurangi jam lemburnya juga lebih banyak lagi," ungkapnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tanpa DMO Batu Bara,...
Tanpa DMO Batu Bara, Industri Semen hingga Tekstil Bakal Sempoyongan
ESDM Tolak Rencana Produksi...
ESDM Tolak Rencana Produksi Batu Bara 51 Perusahaan Sebanyak 7,8 Juta Ton
Batu Bara Kembali Diekspor...
Batu Bara Kembali Diekspor Secara Bertahap
Target Produksi Batu...
Target Produksi Batu Bara Nasional 2022 Capai 663 Juta Ton
Aksi Damai Protes Bisnis...
Aksi Damai Protes Bisnis Kotor Batubara
Transformasi Batubara...
Transformasi Batubara Menuju Energi Bernilai Tambah
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
5 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
5 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
5 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
7 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
7 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
7 jam yang lalu
Infografis
10 Pengusaha Sukses...
10 Pengusaha Sukses yang Memulai Bisnis di Usia 50 Tahun ke Atas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved