BI: Rupiah Melemah Tak Selalu Buruk
Jum'at, 19 September 2014 - 15:13 WIB
BI: Rupiah Melemah Tak Selalu Buruk
A
A
A
JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara menuturkan, naik turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) tidak bisa selalu diartikan buruk.
"Kurs itu harus dilihat dulu, jangan melihat kurs lemah itu pasti jelek, kurs menguat pasti bagus, itu satu dulu prinsipnya," ungkapnya saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (19/9/2014).
Lebih lanjut dia mengatakan, lemahnya nilai tukar rupiah juga tidak bisa diartikan langsung akan meningkatnya nilai ekspor serta menurunnya nilai impor.
"Kalau suatu negara sedang defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan, impornya lebih besar daripada ekspor, maka impornya perlu diperkecil, ekspornya perlu didorong. Kalau kurs melemah itu impornya bisa turun, ekspornya bisa naik, tidak otomatis, tapi bisa terjadi seperti itu. Itu prinsipnya dulu," jelasnya.
Menurut dia, nilai tukar rupiah yang Aman untuk mendorong ekspor berada pada level Rp11.600 hingga Rp11.900 per USD.
"Kurs rupiah sebenarnya di level Rp11.600-Rp11.900 per USD. Itu sudah kurs yang kalau menurut BI, kurs yang cocok untuk menurunkan impor dan mendorong ekspor," tukas dia.
Sekedar informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada jeda siang hari ini makin terdepresiasi di tengah makin menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir sesi I perdagangan.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg siang hari ini pada level Rp12.004 per USD, atau melemah dibanding pembukaan pagi tadi di Rp11.994 per USD.
(Baca: Rupiah Terdepresiasi ke Rp12.004/USD Siang ini)
"Kurs itu harus dilihat dulu, jangan melihat kurs lemah itu pasti jelek, kurs menguat pasti bagus, itu satu dulu prinsipnya," ungkapnya saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (19/9/2014).
Lebih lanjut dia mengatakan, lemahnya nilai tukar rupiah juga tidak bisa diartikan langsung akan meningkatnya nilai ekspor serta menurunnya nilai impor.
"Kalau suatu negara sedang defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan, impornya lebih besar daripada ekspor, maka impornya perlu diperkecil, ekspornya perlu didorong. Kalau kurs melemah itu impornya bisa turun, ekspornya bisa naik, tidak otomatis, tapi bisa terjadi seperti itu. Itu prinsipnya dulu," jelasnya.
Menurut dia, nilai tukar rupiah yang Aman untuk mendorong ekspor berada pada level Rp11.600 hingga Rp11.900 per USD.
"Kurs rupiah sebenarnya di level Rp11.600-Rp11.900 per USD. Itu sudah kurs yang kalau menurut BI, kurs yang cocok untuk menurunkan impor dan mendorong ekspor," tukas dia.
Sekedar informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada jeda siang hari ini makin terdepresiasi di tengah makin menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir sesi I perdagangan.
Nilai tukar rupiah berdasarkan data Bloomberg siang hari ini pada level Rp12.004 per USD, atau melemah dibanding pembukaan pagi tadi di Rp11.994 per USD.
(Baca: Rupiah Terdepresiasi ke Rp12.004/USD Siang ini)
(rna)