Jokowi Ditantang Berani Hapus Outsourcing

Selasa, 23 September 2014 - 17:04 WIB
Jokowi Ditantang Berani...
Jokowi Ditantang Berani Hapus Outsourcing
A A A
BANDUNG - Direktur Lembaga Manajemen Bisnis Fakultas Ekonomi (LMFE) Universitas Padjadjaran Bandung, Aldrin Herwany menantang kabinet Joko Widodo (Jokowi) berani menghapus sistem outsourcing.

Penghapusan tersebut paling tidak dilakukan pada tahun pertama pemerintahan Jokowi-JK. Selama ini, pekerja outsourcing menjadi permasalahan serius ketenagakerjaan di tanah air.

"Status mereka harus jadi karyawan tetap. Pemerintahan yang baru harus bisa tegas memenuhi janji kampanye mereka terkait outsourcing," ujarnya, Selasa (23/9/2014).

Dia mengatakan, dengan sistem outsourcing di Indonesia menjadikan pekerja tidak memiliki posisi tawar dan memiliki sejumlah kelemahan yang cukup riskan terhadap sistem ketenagakerjaan.

Menurut Aldrin, outsourcing dimanfaatkan perusahaan-perusahaan besar yang telah "establish" untuk bisa mendapatkan pekerja dengan upah murah.

Program penghapusannya tidak bisa dilakukan dalam seratus hari pertama pemerintahan Jokowi-JK. "Paling tidak dalam jangka waktu satu tahun harus sudah ada kejelasan penghapusan outsourcing. Karena sudah jelas membuat iklim ketenagakerjaan tidak kondusif," tegasnya.

"Para pekerja di Indonesia sangat menunggu keputusan penghapusan sistem outsourcing ini. Karenanya, keberanian pemerintahan Jokowi-JK sangat dinantikan. Apakah sesuai dengan janji-janji kampanyenya atau tidak," lanjut Aldrin.

Bila sistem outsourcing tetap dibiarkan, maka akan memberikan dampak negatif terhadap daya saing tenaga kerja di Indonesia. Selain perusahaan swasta, BUMN juga memanfaatkan outsourcing, ini sangat memprihatinkan.

"Terlebih untuk sektor perbankan sangat riskan dan rawan. Ini memiliki risiko besar. Mereka bisa saja 'lari' atau pindah kerja dengan membawa data dari tempat kerja terdahulu," jelasnya.

Akibatnya, pembajakan pekerja perbankan bisa terjadi dengan memanfaatkan celah outsourcing.

Mestinya, tambah Aldrin, BUMN memberi contoh dengan tidak mempekerjakan outsourcing terutama perbankan. Jangan sampai perbankan cenderung terlena dengan sistem ini.

Hal senada diungkapkan pengamat ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Acuviarta Kurtubi. Dia menyebut penghapusan sistem kerja outsourcing merupakan hal yang ditunggu dari pemerintahan Jokowi-JK.

"Gebrakan dari tim pemerintahan Jokowi-JK sangat ditunggu-tunggu. Sejauh mana start yang bisa dilakukannya, termasuk kebijakan outsourcing," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Berkarya Sambil Bekerja,...
Berkarya Sambil Bekerja, Satpam PKSS Raih Rekor MURI
Outsourcing Kini Dibatasi,...
Outsourcing Kini Dibatasi, Ini Daftar Profesi yang Diizinkan
GDPS Tekankan Outsourcing...
GDPS Tekankan Outsourcing Wadah untuk Berkembang
Datangi DLH, Puluhan...
Datangi DLH, Puluhan Outsourcing Ungkap Permainan Pemkot Blitar
Pendorong Industri BPO...
Pendorong Industri BPO di 2022, Ada E-commerce hingga Keuangan Digital
12 Ribu Honorer Pemprov...
12 Ribu Honorer Pemprov Sulsel Jalani Tes, Siap-siap Dialihkan Jadi Outsourcing
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
3 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
3 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
4 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
4 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
4 jam yang lalu
Infografis
Profil Prof Soenardi...
Profil Prof Soenardi Prawirohatmodjo, Namanya Ada di Ijazah Jokowi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved