Kadin Ungkapkan Faktor Menghambat di Sektor Migas

Rabu, 24 September 2014 - 17:04 WIB
Kadin Ungkapkan Faktor...
Kadin Ungkapkan Faktor Menghambat di Sektor Migas
A A A
JAKARTA - Komisioner Komite Tetap Hulu Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Firlie Ganinduto mengatakan, ada beberapa poin yang menghantam sektor migas Indonesia bahkan sampai sekarang masih menjadi permasalahan yang menghambat laju migas dalam negeri.

"Iklim industri migas itu masih terhambat di masalah geologi. Struktur geologi dan alam itu jadi hambatan dari alam. Kemudian masalah non teknis juga mempengaruhi, khusunya kepastian hukum. Selalu aja masalah itu dari dulu enggak selesai," ujarnya di FX Senayan, Jakarta, Rabu (24/9/2014).

Firlie mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam revisi UU Migas tak kunjung ada kepastian. Pasalnya, sampai detik ini belum ada usaha dari pemerintah yang konkrit untuk merevisi UU Migas.

"Ini kan getir ya. Sedangkan kegiatan kami adalah backbone-nya dari usaha migas ini. Kerena usaha migas butuh modal besar. Tentunya pengusaha migas menginginkan kepastian hukum dengan adanya satu UU yang bisa menjamin kita. Ini isu yg sangat vital. Dan saya heran kenapa dari pihak pemerintah tidak merevisi ini," ujar dia.

Selain itu, lanjut Firlie, masalah badan pengawas yang tentunya sangat diperlukan. Menurutnya BP migas dan SKK migas harus tetap berdiri. Karena jika dihapus, akan balik ke masa lalu, pada waktu penetapan BP Migas, ini membutuhkan waktu 5 tahun untuk menginvestasikan dana mereka untuk usaha migas.

"Kemudian masalah cost recovery, kemarin kan ada pemangkasan cost recovery dari USD17,8 miliar jadi USD16 miliar. Sementara itu, DPR menargetkan 900 barel perhari. Ini enggak logis. Karena yang dipotong adalah biaya untuk produksi. Kalau kita menaikkan cost recovery, proyek-proyek yang 2016, bisa ditarik ke 2015," ujarnya.

Yang terakhir adalah masalah produksi vs konsumsi. Permasalahannya adalah, refinery di Indonesia yang tidak mencukupi. "Konsumsi naik, butuh impor minyak dari luar. Ini memang terasosiasi oleh mafia migas. Kalau refinery sudah ada di Indonesia, impor migas akan berkurang," tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
10 Produsen Migas Terbesar...
10 Produsen Migas Terbesar yang Berada di Indonesia
Urgensi Revisi UU Migas...
Urgensi Revisi UU Migas No. 22/2001: Langkah Strategis Menuju Ketahanan Energi Nasional
Realisasi Produksi Migas...
Realisasi Produksi Migas PHE ONWJ
SKK Migas Gelar Supply...
SKK Migas Gelar Supply Chain & National Capacity Summit 2024
ENRG Tegaskan Komitmen...
ENRG Tegaskan Komitmen Transparansi, Kinerja Investasi, dan Prospek Bisnis Berkelanjutan
28 Kesepakatan Migas...
28 Kesepakatan Migas Berpotensi Datangkan Penerimaan Rp35 Triliun
Berita Terkini
Perkuat Ekosistem Pendidikan,...
Perkuat Ekosistem Pendidikan, BTN Teken MoU Strategis dengan UNAIR
1 jam yang lalu
Brantas Abipraya Kebut...
Brantas Abipraya Kebut Penyelesaian Akhir Sekolah Rakyat Jabar II, DPR Optimistis Segera Operasional
1 jam yang lalu
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
1 jam yang lalu
Santai Seaplane Buka...
Santai Seaplane Buka Pangkalan di Banyuwangi, Perkuat Konektivitas Wisata Premium
2 jam yang lalu
IHSG Melesat 3,5 Persen,...
IHSG Melesat 3,5 Persen, Saham BUMN Jadi Motor Penguatan Bursa
2 jam yang lalu
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
2 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved