IHSG Diprediksi Tembus Level 6.000 Tahun Depan
Rabu, 24 September 2014 - 17:15 WIB
IHSG Diprediksi Tembus Level 6.000 Tahun Depan
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pertengahan tahun depan diprediksi bisa melesat ke level 6.000 lebih.
Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
"Jika BBM dinaikkan, maka ruang gerak fiskal akan besar dan banyak dana untuk infrastruktur dan program lainnya," ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Anggota Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy kepada Koran Sindo, Rabu (24/9/2014).
Selain itu, impor migas akan turun karena penduduk akan terdorong untuk berhemat. Dia menilai, kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan neraca perdagangan.
Namun, ada cost-nya yakni inflasi yang akan naik sekitar 7,5%-8% untuk tahun depan dan kemiskinan akan meningkat.
Sehingga, pemerintah harus memastikan menaikkan BBM bersubsidi setelah paket bantuan langsung atau jaringan pengaman untuk orang miskin sudah tersedia dan dananya sudah disiapkan dalam RAPBN.
Budi mengatakan, tanpa adanya program bantuan langsung tunai (BLT) dan sejenisnya, menaikkan BBM bersubsidi juga akan memiskinkan lebih banyak orang.
Menurutnya, paket bantuan untuk orang yang kurang mampu ini perlu disetujui DPR karena belum ada di RAPBN 2015, sehingga harus dimunculkan dalam RAPBN-P 2015.
Dukungan DPR ini sulit jika parpol yang pro pemerintah masih belum mayoritas, karena akan ditentang kubu posisi.
"Itu sebabnya, saya sangat berharap ada satu atau dua partai Koalisi Merah Putih yang merapat ke partai pemerintah untuk memuluskan persetujuan DPR soal pemberian bantuan (sejenis BLT)," tandasnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
"Jika BBM dinaikkan, maka ruang gerak fiskal akan besar dan banyak dana untuk infrastruktur dan program lainnya," ujar Pengamat Pasar Modal sekaligus Anggota Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy kepada Koran Sindo, Rabu (24/9/2014).
Selain itu, impor migas akan turun karena penduduk akan terdorong untuk berhemat. Dia menilai, kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan menyehatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan neraca perdagangan.
Namun, ada cost-nya yakni inflasi yang akan naik sekitar 7,5%-8% untuk tahun depan dan kemiskinan akan meningkat.
Sehingga, pemerintah harus memastikan menaikkan BBM bersubsidi setelah paket bantuan langsung atau jaringan pengaman untuk orang miskin sudah tersedia dan dananya sudah disiapkan dalam RAPBN.
Budi mengatakan, tanpa adanya program bantuan langsung tunai (BLT) dan sejenisnya, menaikkan BBM bersubsidi juga akan memiskinkan lebih banyak orang.
Menurutnya, paket bantuan untuk orang yang kurang mampu ini perlu disetujui DPR karena belum ada di RAPBN 2015, sehingga harus dimunculkan dalam RAPBN-P 2015.
Dukungan DPR ini sulit jika parpol yang pro pemerintah masih belum mayoritas, karena akan ditentang kubu posisi.
"Itu sebabnya, saya sangat berharap ada satu atau dua partai Koalisi Merah Putih yang merapat ke partai pemerintah untuk memuluskan persetujuan DPR soal pemberian bantuan (sejenis BLT)," tandasnya.
(izz)
Lihat Juga :