Harga Brent Terendah dalam Hampir 4 Tahun

Senin, 13 Oktober 2014 - 10:02 WIB
Harga Brent Terendah...
Harga Brent Terendah dalam Hampir 4 Tahun
A A A
MELBOURNE - Bergabungannya Irak dengan Arab Saudi dan Iran untuk memangkas harga jual minyak mentah menyebabkan harga minyak brent di kontrak berjangka memperpanjang koreksi ke level terendah dalam hampir 4 tahun. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun setelah mengalami koreksi terbesar sejak Januari 2014.

Irak sebagai produsen terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perbedaaan harga untuk suplai minyak jenis Basrah Light ke Asia dan Eropa untuk bulan November.

Kontrak berjangka (futures) turun sebanyak 3,6% di London ke level intraday terendah sejak Desember 2010, dan WTI anjlok 1,8% setelah jatuh ke dalam pasar bearish pada 9 Oktober 2014.

Dua minyak berjangka diperdagangkan di tengah melambatnya pertumbuhan permintaan dan meningkatnya produksi di Amerika Serikat, Rusia dan negara-negara lain. Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar di OPEC menanggapi dengan memotong harga, memicu spekulasi bahwa mereka siap untuk bersaing.

Irak memangkas harga mentah Basrah Light di USD3,15, di bawah rata-rata harga yang dipatok Oman dan Dubai untuk pembeli di Asia pada November.

Adapun Iran pada pekan lalu menyatakan, akan menjual minyak ke Asia pada bulan November dengan diskon terbesar dalam hampir 6 tahun, mengikuti jejak Arab Saudi. Sementara Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia sebelumnya telah menurunkan harga minyak mentah Arab Light untuk Asia ke level terendah sejak Desember 2008.

"Risiko tetap negatif untuk kedua kontrak. Ada potensi brent untuk menguji harga USD87,50 di sesi berikutnya. Kemungkinan jika kita melihat tekanan lebih lanjut, kita akan melihat beberapa tindakan dari OPEC," kata Kepala Strategis di CMC Markets Michael McCarthy seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (13/10/2014).

Harga minyak brent di ICE Futures Europe Exchange, London untuk pengiriman November turun USD3,21 ke USD87 per barel dan berada di USD89,14 pada pukul 12.27 siang waktu Sydney. Kontrak ditutup di harga USD90,05 pada 9 Oktober, terendah sejak Juni 2012. Harga brent telah menurun hampir 20% sepanjang tahun ini.

Sementara minyak WTI di New York Mercantile Exchange untuk pengiriman November berada di USD84,80 per barel, turun 1,2%. Kontrak bertahan di harga USD85,77 pada 9 Oktober, terendah sejak Desember 2012.

Premi patokan minyak mentah AS ini terhadap brent sebesar USD4,37. Angka itu ditutup turun dibanding 10 Oktober sebesar USD4,39.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Stok Seret Bikin Harga...
Stok Seret Bikin Harga Minyak Mentah Dunia Terkerek Naik
Amerika Buka Pembatasan,...
Amerika Buka Pembatasan, Harga Minyak Akan Terus Naik
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Dunia Melayang Dekati Posisi USD70 Per Barel
Harga Minyak Ambrol...
Harga Minyak Ambrol 9% dalam Sepekan, Minggu Depan Gimana?
OPEC Bakal Jaga Harga...
OPEC Bakal Jaga Harga Minyak Mentah Dunia di Posisi USD70 per Barel
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Turun Saat Badai Musim Dingin Bekukan Kilang AS
Berita Terkini
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
16 menit yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
51 menit yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
1 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
2 jam yang lalu
Heboh Sell Indonesia...
Heboh 'Sell Indonesia' saat Rupiah-IHSG Terpuruk, Muncul Sosok Lama Bikin Kepercayaan Runtuh
2 jam yang lalu
Raih Predikat Tertinggi...
Raih Predikat Tertinggi IRCA Dua Kali Berturut-turut, GDPS Tegaskan Budaya Kepatuhan
3 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved