Risiko Ekonomi China Terkendali

Selasa, 11 November 2014 - 10:58 WIB
Risiko Ekonomi China...
Risiko Ekonomi China Terkendali
A A A
BEIJING - Berbagai risiko yang dihadapi ekonomi China tidak mengkhawatirkan. Presiden China Xi Jinping mengungkapkan hal itu pada para pemimpin bisnis global kemarin.

Dalam pidato di depan para chief executiveofficer (CEO) menjelang konferensi tingkat tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), dia berupaya menepis kekhawatiran publik tentang kondisi ekonomi Negeri Panda.

“Ada sejumlah risiko pada pertumbuhan, tapi itu tidak menakutkan,” ungkap Xi Jinping, dikutip BBC. China juga mengumumkan penguatan kerja sama energi dengan Rusia dengan menyepakati pembangunan jaringan pipa gas baru antara kedua negara. APEC akan menjadi tempat mengumumkan sejumlah kerja sama internasional antara negara- negara Asia Pasifik. Akhir pekan lalu Xi menjanjikan USD40 miliar untuk memperbaiki jaringan perdagangan antar negara- negara di kawasan itu.

Kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengalami tahun yang berat saat ini, akibat penyusutan pasar properti, melemahnya permintaan konsumen, dan ekspor yang tidak stabil. Meski demikian, Xi menyatakan bahwa ekonomi China yang stabil dan tumbuh 7% tetap lebih unggul dibandingkan negara-negara lain. Data resmi yang dirilis pekan lalu menunjukkan pertumbuhan ekspor dan impor melemah pada Oktober.

Pertumbuhan tahunan melambat menjadi 7,3% pada kuartal III/2014, level paling lemah sejak krisis ekonomi global. Demi mendorong pertumbuhan, Pemerintah China mempercepat belanja proyek infrastruktur dan bank sentral menyuntikkan dana ke perbankan untuk meningkatkan suplai kredit dan memangkas suku bunga kredit perumahan bagi sejumlah pembeli properti. Xi menjelaskan, reformasi sosial dan ekonomi memerlukan waktu untuk melihat hasilnya tapi akan tetap ada dampaknya.

“Sejumlah reformasi itu secara bertahap memiliki dampak dari proyek ke proyek. Saat busur dilepas, anak panah tidak dapat kembali, kami akan menjalankan reformasi yang semakin dalam,” tuturnya. Konferensi tingkat tinggi APEC dibuka pada Senin (10/11) waktu setempat. Setelah bertemu dengan para pemimpin Asia, Xi menjanjikan USD40 miliar untuk membantu berbagai negara memperbaiki infrastruktur dan perdagangan.

“Berbagai upaya oleh satu atau beberapa negara sudah sangat bagus. Hanya dengan membangun kemitraan luas di mana semua akan berpikir dan bekerja sama, dapat menciptakan hasil positif,” ujarnya. Bulan lalu China dan 20 negara di Asia meluncurkan bank senilai USD50 miliar untuk mendanai infrastruktur di kawasan itu, meskipun Amerika Serikat (AS) keberatan karena dianggap meniru Bank Dunia.

Akhir pekan lalu Xi dan Presiden Rusia Vladimir Putin memperkuat kerja sama energi saat menandatangani memorandum of understanding (MoU) yang disebut “Rute Gas Barat” dari Rusia ke China. Rusia telah mengubah fokusnya ke negara-negara Asia setelah Barat menerapkan sanksi atas krisis Ukraina yang menargetkan sejumlah bank dan perusahaan energi Rusia dengan membatasi akses pada pendanaan.

Mei lalu raksasa gas Rusia, Gazprom, menyepakati pengiriman 38 miliar meter kubik gas ke China dalam kesepakatan senilai USD400 miliar dari Siberia timur. Sesuai kesepakatan akhir pekan lalu dua negara berencana mengirimkan gas melalui ladang-ladang di Siberia barat. Sebagai bagian kesepakatan, China National Oil and Gas Exploration and Development menguasai 10% saham Vancorneft, bagian dari raksasa energi Rusia, Rosneft.

Sementara, China membukukan surplus perdagangan yang lebih baik dibandingkan proyeksi sebesar USD45,41 miliar pada Oktober. Data tersebut dirilis Badan Bea Cukai China pekan lalu. Meski demikian, lemahnya pertumbuhan ekspor dan impor dapat menjadi sinyal mengkhawatirkan bagi negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Hasil survei 11 ekonom oleh The Wall Street Journal juga menunjukkan surplus perdagangan China pada Oktober tumbuh 46,3% dari bulan yang sama tahun lalu, melebihi proyeksi pasar. Surplus juga meningkat dari USD31,0 miliar pada September, meskipun masih kurang dari rekor USD49,8 miliar pada Agustus. Badan Bea Cukai China menyatakan, ekspor tumbuh 11,6% year on year (yoy) menjadi USD206,87miliarpada Oktober. Adapun, impor tumbuh 4,6% menjadi USD161,46 miliar.

“Surplus perdagangan didorong oleh penyusutan pada pertumbuhan impor dan pertumbuhan ekspor tidak terlalu kuat.” kata Liu Xuezhi, analis berbasis Shanghai di Bank of Communications.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Guna Usaha Indonesia Catat Kinerja Unggul Selama 10 Tahun Berturut-turut
13 menit yang lalu
Raih Penghargaan Infobank,...
Raih Penghargaan Infobank, MNC Finance Catat Kinerja Terbaik Selama Lima Tahun Berturut-turut
18 menit yang lalu
Panda Bond Bakal Dinilai...
Panda Bond Bakal Dinilai Lembaga Rating China, Purbaya Tak Peduli Hasil S&P dan Moody's
23 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Optimalkan Distribusi BBM di Tengah Lonjakan Permintaan
32 menit yang lalu
BPS Canangkan Sensus...
BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kalimantan Timur: Perkuat Kompas Pembangunan Daerah
41 menit yang lalu
GAPKI: Pengawasan Ekspor...
GAPKI: Pengawasan Ekspor Sawit Sudah Ketat, Kuncinya Penegakan Hukum
1 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved