Australia-China Sepakati Pasar Bebas

Selasa, 18 November 2014 - 10:14 WIB
Australia-China Sepakati...
Australia-China Sepakati Pasar Bebas
A A A
SYDNEY - Australia dan China menandatangani kesepakatan perdagangan bebas kemarin, setelah satu dekade perundingan. Menurut kedua negara, langkah ini akan membuka banyak keuntungan baru pada masa depan.

Sesuai kesepakatan itu, 93% dari semua barang asal Australia yang masuk ke China akan bebas tarif dalam empat tahun. ”Ini akan menambah miliaran dolar pada ekonomi, menciptakan pekerjaan, dan meningkatkan standar kehidupan. Bisnis asal Australia akan memiliki akses luas pada ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut,” kata Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott, dikutip kantor berita AFP.

Perundingan perdagangan bebas telah dimulai sejak 2005 tapi terhenti tahun lalu saat membahas isu pertanian dan keengganan China menghapus batas investasi untuk perusahaan milik negara, sebelum akhirnya negosiasi tahap akhir selesai dengan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Australia saat ini.

Tarif akan dihapus untuk industri susu asal Australia senilai USD13 miliar. para peternak sapi dankambingjugaakandiuntungkan dari penghapusan tarif yang besarnya antara 12-25% dan penghapusan tarif untuk semua produk hortikultura asal Australia. Sejumlah pungutan juga akan hapus untuk beberapa produk energi dan sumber daya alam asal Australia.

Itu artinya, kesepakatan ini akan membantu memulihkan dampak buruk dari penurunan sektor pertambangan di Negeri Kanguru. China merupakan mitra dagang terbesar Australia dengan total nilai perdagangan kedua negara mencapai lebih dari USD131 miliar pada 2013. Wakil Presiden Dewan Bisnis Australia China Paul Glasson menyambut peningkatan akses untuk 40 industri jasa, termasuk kesehatan, hukum, dan layanan kesehatan, serta produk pertanian seperti susu, beras, gandum, wol, dan kapas.

Menteri Perdagangan Australia Andrew Robb menyatakan, saat kesepakatan ini dilaksanakan sepenuhnya, 99,9% ekspor sumber daya alam, energi, dan manufaktur asal Australia akan menikmati bebas bea masuk ke China. Xi dalam pidatonya di depan parlemen Australia, berjanji mempererat kerja sama dengan Negeri Kanguru dan menegaskan keinginan China menyelesaikan konflik wilayah dengan sejumlah negara tetangga melalui jalur diplomasi.

”Selama kunjungan saya, dua pihak telah memutuskan untuk meningkatkan hubungan bilateral kami dalam kemitraan strategis yang komprehensif dan mengumumkan selesainya negosiasi Kesepakatan Perdagangan Bebas (FTA),” ungkap Xi, dikutip kantor berita Reuters . ”Pemerintah China siap meningkatkan dialog dan kerja sama dengan sejumlah negara untuk bersama-sama menjaga aturan keamanan maritim dan kebebasan navigasi,” papar Xi.

Kesepakatan ini dapat membantu Australia menghadapi persaingan sengit dari Selandia Baru untuk produk susu. ”Australia telah terpinggirkan dari posisinya sebagai eksportir utama ke China dalam beberapa tahun terakhir, salah satu alasannya ialah produksi susu di sana turun selama dekade lalu,” ungkap Sandy Chen, pengamat industri susu di Rabobank, China. Para pembuat wine saat ini menjual produknya ke China setiap tahun senilai lebih dari 200 juta dolar Australia.

Mereka juga akan menikmati penghapusan tarif selama empat tahun mendatang. Tarif untuk produk-produk hortikultura, seafood , dan produk lain mencakup 93% ekspor Australia dengan nilai yang akan dikurangi hingga nol pada 2019. Sesuai kesepakatan, 3% tarif batu bara coking akan dihapus segera dan 6% tarif untuk batu bara termal dihapus dalam dua tahun.

Robb menyebut kesepakatan itu merupakan yang paling besar yang pernah diberikan oleh China pada negara Barat, khususnya di sektor jasa. ”Pemerintah Australia telah mengamankan akses pasar terbaik yang disediakan oleh negara asing oleh China untuk jasa, untuk membangun pasar ekspor yang sekarang telah bernilai 7 miliar dolar Australia,” ujarnya. Xi berada di Canberra setelah menghadiri konferensi tingkat tinggi G-20 di Brisbane.

Selama kunjungannya, Xi singgah di Sydney dan Hobart, Tasmania. Sementara, kesepakatan perdagangan bebas antara China dan Korea Selatan (Korsel) akan efektif pada semester II/2015 jika semua berjalan lancar. Jika dapat disepakati, hal itu akan mengakhiri negosiasi yang telah dimulai pada 2012.

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
44 menit yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
1 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
1 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Cargo Murah Kian Dibutuhkan...
Cargo Murah Kian Dibutuhkan di Tengah Meningkatnya Aktivitas Pengiriman Barang
11 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
11 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved