Apindo Jabar Merespon Positif Kenaikan Harga BBM
Rabu, 19 November 2014 - 08:00 WIB
Apindo Jabar Merespon Positif Kenaikan Harga BBM
A
A
A
BANDUNG - Di saat berbagai kalangan bereaksi keras terhadap kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, respon lain diperlihatkan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat (Apindo Jabar). Kalangan dunia industri malah merespon positif terhadap kebijakan tersebut.
Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja mengakui kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi bisa menghindarkan kalangan dunia usaha dari kerugian. Pasalnya, gonjang-ganjing isu kenaikan harga BBM bersubsidi yang tak kunjung diputuskan membuat para pengusaha merugi.
“Kami was-was karena pemerintah belum menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebelum BBM subsidi dipastikan naik harga barang sudah naik. Jujur, kami merasa lega karena sudah kepastian besaran kenaikannya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (18/11/2014).
Dampak dari kenaikan tersebut, kata dia, akan mendorong biaya operasional dan logistik sekitar 40%. Kondisi tersebut membuat pengusaha terpaksa menaikkan harga barang hasil produksi.
“Kenaikan harga barang dimungkinkan tidak terlalu tinggi. Hanya berkisar pada 1% hingga 2% saja,” katanya.
Kenaikan harga tersebut dikhawatirkan akan memberatkan konsumen sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Pasalnya, kata dia, dengan kenaikan tersebut menyebabkan inflasi pada sejumlah barang kebutuhan pokok.
“Produsen maupun konsumen membutuhkan waktu melakukan penyesuaian dengan dampak kenaikan BBM subsidi selama 3-5 bulan. Kami khawatir daya saing pengusaha akan turun. Padahal, MEA sudah di depan mata,” tuturnya.
Apalagi, kata dia, kenaikan harga BBM bersubsidi bukan satu-satunya perkara yang dipusingkan oleh para pengusaha. Mereka juga sedang dihadapkan persoalan kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
“Kalangan buruh menuntut kenaikan rata-rata UMK sebesar 30%. Kenaikan (harga BBM) ini jelas makin membuat pusing para pengusaha,” sebutnya.
Seperti diketahui, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi yang berlaku mulai tanggal 18 November 2014. Kenaikan harga ini semula Rp6.500/liter menjadi Rp8.500/liter untuk jenis premium dan Rp5.500/liter menjadi Rp7.500/liter untuk jenis solar.
Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja mengakui kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi bisa menghindarkan kalangan dunia usaha dari kerugian. Pasalnya, gonjang-ganjing isu kenaikan harga BBM bersubsidi yang tak kunjung diputuskan membuat para pengusaha merugi.
“Kami was-was karena pemerintah belum menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebelum BBM subsidi dipastikan naik harga barang sudah naik. Jujur, kami merasa lega karena sudah kepastian besaran kenaikannya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (18/11/2014).
Dampak dari kenaikan tersebut, kata dia, akan mendorong biaya operasional dan logistik sekitar 40%. Kondisi tersebut membuat pengusaha terpaksa menaikkan harga barang hasil produksi.
“Kenaikan harga barang dimungkinkan tidak terlalu tinggi. Hanya berkisar pada 1% hingga 2% saja,” katanya.
Kenaikan harga tersebut dikhawatirkan akan memberatkan konsumen sehingga menurunkan daya beli masyarakat. Pasalnya, kata dia, dengan kenaikan tersebut menyebabkan inflasi pada sejumlah barang kebutuhan pokok.
“Produsen maupun konsumen membutuhkan waktu melakukan penyesuaian dengan dampak kenaikan BBM subsidi selama 3-5 bulan. Kami khawatir daya saing pengusaha akan turun. Padahal, MEA sudah di depan mata,” tuturnya.
Apalagi, kata dia, kenaikan harga BBM bersubsidi bukan satu-satunya perkara yang dipusingkan oleh para pengusaha. Mereka juga sedang dihadapkan persoalan kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
“Kalangan buruh menuntut kenaikan rata-rata UMK sebesar 30%. Kenaikan (harga BBM) ini jelas makin membuat pusing para pengusaha,” sebutnya.
Seperti diketahui, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM subsidi yang berlaku mulai tanggal 18 November 2014. Kenaikan harga ini semula Rp6.500/liter menjadi Rp8.500/liter untuk jenis premium dan Rp5.500/liter menjadi Rp7.500/liter untuk jenis solar.
(gpr)
Lihat Juga :