Kuota BBM Masih Akan Terlampaui

Rabu, 19 November 2014 - 11:27 WIB
Kuota BBM Masih Akan...
Kuota BBM Masih Akan Terlampaui
A A A
JAKARTA - Kendati harga bahan bakar minyak (BBM) telah naik, kuota BBM bersubsidi tahun ini sebesar 46 juta kiloliter (kl) diperkirakan masih tetap terlampaui.

PT Pertamina (Persero) memproyeksikan kelebihan konsumsi hingga akhir tahun mencapai 1,7 juta kl dari kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan dalam APBN-P 2014. “Kenaikan harga memang akan mengubah pola konsumsi masyarakat. Tapi, prognosis Pertamina, jika tidak ada kenaikan harga, akan ada defisit sebesar 1,9 juta kl, sementara dengan adanya kenaikan harga, defisit bisa ditekan menjadi 1,7 juta kl. Jadi, tetap defisit,” kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, kemarin.

Berkaca dari kenaikan harga BBM bersubsidi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2011 hingga 2012, konsumsi BBM bersubsidi jenis premium turun 10,7%. Sedangkan, pada kenaikan Juni tahun lalu konsumsi BBM bersubsidi jenis premium hanya turun 3,7%. Di sisi lain, Hanung mengatakan bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi akan mendongkrak penjualan BBM nonsubsidi jenis pertamax.

Dia memperkirakan, konsumsi pertamax akan naik hingga 400% dalam dua hingga tiga bulan ke depan. “Saya hitung penjualan pertamax itu 2.500 kl per hari. Nanti bisa 10.000 kl per hari dalam 2-3 bulan ke depan,” ujarnya. Menurut Hanung, disparitas harga pertamax makin mengecil pascakenaikan harga premium bersubsidi menjadi Rp8.500 per liter. Saat ini pertamax dijual dengan harga Rp10.200 per liter, sehingga selisih dengan premium bersubsidi hanya Rp1.700 per liter.

Di sisi lain, Pertamina juga berencana menekan harga pertamax untuk mendorong masyarakat beralih ke BBM nonsubsidi. “Selisih yang makin kecil itu akan membuat konsumen beralih ke pertamax,” ujarnya. Hanung juga mengatakan, sebagai antisipasi naiknya konsumsi, Pertamina akan menambah keran (nozzle ) BBM nonsubsidi di SPBU pascakenaikan harga.

Pihaknya menargetkan, nozzle BBM nonsubsidi mencakup40% nozzle premium. Saat ini stok pertamax cukup untuk 40 hari ke depan. Desember mendatang akan tiba dua hingga tiga kargo (setara 400.000- 600.000 barel) pertamax impor. Sementara, Plt Direktur Utama Pertamina Muhammad Husen mengatakan, seluruh jajaran divisi BUMN energi ini akan mengawasi peredaran distribusi BBM secara lebih ketat pascakenaikan harga.

“Ada delapan GM (general manager ) dari Aceh sampai Papua, kami akan memaksimalkan kinerja mereka hingga bagian terbawah,” tegasnya.

Nanang wijayanto
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
1 jam yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
1 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
2 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
3 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
3 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved