Pakar: Calon Tenaga Kerja Juga Harus Perhatikan Sikap
Selasa, 02 Desember 2014 - 15:38 WIB
Pakar: Calon Tenaga Kerja Juga Harus Perhatikan Sikap
A
A
A
JAKARTA - Pakar Ketenagakerjaan Paryaman Simanjuntak mengatakan calon tenaga kerja jangan hanya fokus terhadap knowledge (pengetahuan) atau skill (kemampuan) yang dimiliki, tapi attitude (sikap).
Ketika memasuki dunia kerja, menurut dia, calon tenaga kerja jangan lagi membawa kebiasaan saat masih di bangku pendidikan.
"Yang harus diperhatikan selain knowledge, adalah attitude. Perilaku di universitas yang dibebaskan, harus diubah. Kalau kuliah bisa gondrong, pakai sandal boleh, tapi di dunia kerja tidak bisa," ujarnya di Hotel Aryaduta, Jakarta (2/11/2014).
Dia mengungkapkan bahwa sikap yang seperti itu harus diubah. Pasalnya, sikap calon pekerja bisa mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menerima atau menolaknya ketika melamar.
"Nanti kalau misalnya ingin melamar kerja, belum ditanya sudah tidak diterima karena penampilan tidak bagus," ujarnya.
Dia menambahkan, usia tenaga kerja yang masih muda sebagai bonus demografi bisa berpotensi baik maupun sebaliknya.
"Pada 2035 nanti, usia produktif lebih besar usia muda. Bonus demografi tersebut hanya berlaku sekali, itu lewat, kita lewat. Ini bonus yang bisa jadi menakutkan, anak muda yang berpotensi hanya menganggur jadi beban sangat besar. Tapi juga bisa menjadi penggerak ekonomi," pungkasnya.
Ketika memasuki dunia kerja, menurut dia, calon tenaga kerja jangan lagi membawa kebiasaan saat masih di bangku pendidikan.
"Yang harus diperhatikan selain knowledge, adalah attitude. Perilaku di universitas yang dibebaskan, harus diubah. Kalau kuliah bisa gondrong, pakai sandal boleh, tapi di dunia kerja tidak bisa," ujarnya di Hotel Aryaduta, Jakarta (2/11/2014).
Dia mengungkapkan bahwa sikap yang seperti itu harus diubah. Pasalnya, sikap calon pekerja bisa mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menerima atau menolaknya ketika melamar.
"Nanti kalau misalnya ingin melamar kerja, belum ditanya sudah tidak diterima karena penampilan tidak bagus," ujarnya.
Dia menambahkan, usia tenaga kerja yang masih muda sebagai bonus demografi bisa berpotensi baik maupun sebaliknya.
"Pada 2035 nanti, usia produktif lebih besar usia muda. Bonus demografi tersebut hanya berlaku sekali, itu lewat, kita lewat. Ini bonus yang bisa jadi menakutkan, anak muda yang berpotensi hanya menganggur jadi beban sangat besar. Tapi juga bisa menjadi penggerak ekonomi," pungkasnya.
(rna)
Lihat Juga :