Desember, Serapan Beras Bulog Sulsel 329 Ribu Ton
Kamis, 04 Desember 2014 - 01:18 WIB
Desember, Serapan Beras Bulog Sulsel 329 Ribu Ton
A
A
A
MAKASSAR - Memasuki awal Desember 2014, serapan beras Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sulsel ke petani baru dikisaran 329.000 ton dari yang ditargetkan sebanyak 490.00 ton atau baru sekitar 68% sampai akhir tahun. Tahun lalu realisasi penyerapan beras mencapai 405.00 ton.
Menurut Kepala Perum Bulog Sulselbar Abdullah Jawas, capaian serapan beras ke petani jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu mengalami peningkatan, meski persentasenya kecil dikisaran 10% dengan capaian nilai pembelian sebesar Rp2,1 triliun.
Kondisi tersebut, kata dia, dipengaruhi kondisi akhir harga beras ditingkat petani mengalam kenaikan sedikit dan memberikan pengaruh terhadap daya beli masyarakat.
“Saat ini, terjadi kenaikan harga pembelian ke petani (HPP) yang biasanya bulog membelinya sebesar Rp6600 per kilogramnya (kg), sekarang harganya naik sebesar Rp7300 perkg dengan asumsi harga di penggilingan atau gabah kering sebesar Rp7200 perkg dan setelah digiling menjadi Rp7500 perkg,” ujarnya, Rabu (3/12/2014).
Pengaruh lainnya, tutur Abdullah Jawas, faktor cuaca yang sudah memasuki musim hujan, sehingga petani kesulitan menjemur gabah mereka dan beberapa daerah masih terkendala melakukan penanaman.
“Ketahanan beras sampai saat ini mencukupi 16 bulan ke depan dengan jumlah stok mencapai 140.000 ton, untuk itu masyarakat tak perlu khawatir. Sedangkan, daerah yang paling besar serapannya di kota Parepare, kabupaten Pinrang dan Sidrap,” tuturnya.
Sementara itu, terkait dengan realisasi penyaluran beras miskin (raskin) di wilayah Sulsel. Abdullah Jawas memaparkan, telah melakukan penyaluran 100% sebesar 87 ribu ton lebih dengan jumlah rumah tangga sasaran (rts) penerima sebanyak 484.617.
“Dari jumlah tersebut, wilayah Makassar meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Maros dan Pangkep merupakan RTS terbesar penerima beras raskin mencapai 145,957 RTS dengan alokasi stok 21.000 ton, sedangkan terendah penerima raskinnya di wilayah Parepare meliputi Parepare, Pinrang dan Barru dengan realisasi penyaluran 5.234.250 ton ,” paparnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sulsel Nursam Salam menyatakan, sesuai hasil survey di November nilai tukar petani mengalami penurunan dari 105,31% di Oktober menjadi 106,52% di bulan lalu.
“Ada empat sub sektor yang mengalami penurunan dibandingkan periode bulan sebelumnya, yakni, hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan perikanan,” terangnya.
Menurut Kepala Perum Bulog Sulselbar Abdullah Jawas, capaian serapan beras ke petani jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu mengalami peningkatan, meski persentasenya kecil dikisaran 10% dengan capaian nilai pembelian sebesar Rp2,1 triliun.
Kondisi tersebut, kata dia, dipengaruhi kondisi akhir harga beras ditingkat petani mengalam kenaikan sedikit dan memberikan pengaruh terhadap daya beli masyarakat.
“Saat ini, terjadi kenaikan harga pembelian ke petani (HPP) yang biasanya bulog membelinya sebesar Rp6600 per kilogramnya (kg), sekarang harganya naik sebesar Rp7300 perkg dengan asumsi harga di penggilingan atau gabah kering sebesar Rp7200 perkg dan setelah digiling menjadi Rp7500 perkg,” ujarnya, Rabu (3/12/2014).
Pengaruh lainnya, tutur Abdullah Jawas, faktor cuaca yang sudah memasuki musim hujan, sehingga petani kesulitan menjemur gabah mereka dan beberapa daerah masih terkendala melakukan penanaman.
“Ketahanan beras sampai saat ini mencukupi 16 bulan ke depan dengan jumlah stok mencapai 140.000 ton, untuk itu masyarakat tak perlu khawatir. Sedangkan, daerah yang paling besar serapannya di kota Parepare, kabupaten Pinrang dan Sidrap,” tuturnya.
Sementara itu, terkait dengan realisasi penyaluran beras miskin (raskin) di wilayah Sulsel. Abdullah Jawas memaparkan, telah melakukan penyaluran 100% sebesar 87 ribu ton lebih dengan jumlah rumah tangga sasaran (rts) penerima sebanyak 484.617.
“Dari jumlah tersebut, wilayah Makassar meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Maros dan Pangkep merupakan RTS terbesar penerima beras raskin mencapai 145,957 RTS dengan alokasi stok 21.000 ton, sedangkan terendah penerima raskinnya di wilayah Parepare meliputi Parepare, Pinrang dan Barru dengan realisasi penyaluran 5.234.250 ton ,” paparnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sulsel Nursam Salam menyatakan, sesuai hasil survey di November nilai tukar petani mengalami penurunan dari 105,31% di Oktober menjadi 106,52% di bulan lalu.
“Ada empat sub sektor yang mengalami penurunan dibandingkan periode bulan sebelumnya, yakni, hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan dan perikanan,” terangnya.
(gpr)
Lihat Juga :